BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Friday, 24 January 2020

KATEKESE IMLEK


PEDOMAN INKULTURASI




Misa imlek merupakan bagian dari inkulturasi dalam liturgi. Maka perlu kiranya kita mengetahui pedoman utama dalam inkulturasi liturgi, sehingga tidak melanggar dasar-dasar liturgi, yang merupakan ibadat  ilahi yang penting dalam kehidupan iman kita. Berikut beberapa penyesuaian yang dapat dilakukan dalam melaksanakan inkulturasi:

(1)     Bahasa harus selalu menyatakan kebenaran iman, keagungan dan kesucian misteri yang dirayakan. Maka harus hati-hati menentukan unsur-unsur mana dalam bahasa umat yang layak dimasukkan ke dalam perayaan liturgi; harus dipertimbangkan cocok tidaknya menggunakan ungkapan-ungkapan dari agama-agama bukan Kristen.

(2)     Nyanyian harus bernafaskan Alkitab dan liturgi, serta memiliki mutu sastra yang indah. Bentuk musik, lagu, dan alat-alat musik dapat digunakan dalam ibadat, asal cocok dan sesuai dengan liturgi, keagungan gedung gereja, dan sungguh-sungguh membantu memantapkan penghayatan umat beriman.

(3)     Tatagerak dan sikap badan sedapat mungkin ada hubungannya dengan tata gerak dan sikap badan dari Alkitab. Segala bentuk tarian tradisional harus mengungkapkan sembah sujud, pujian, persembahan, permohonan seluruh umat, dan bukan sekedar pertunjukan belaka.

(4)     Kesenian berkaitan dengan dekorasi altar, busana, dan warna liturgi diberi kebebasan untuk mengungkapkan keindahannya, sejauh kesenian itu meningkatkan keindahan bangunan dan tata perayaan liturgi dengan memberinya penghargaan dan penghormatan sebagaimana mestinya.





Bdk. De Liturgia Romana et Inculturatione, art. 38-45.


RD. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau



Share:

Monday, 23 December 2019

MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG


Malam Natal: 
(24 Desember 2019)

Oleh: P. Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, pada malam yang kudus ini kita ingin menghadirkan kembali saat ini peristiwa yang terjadi 2.000 tahun yang lalu. Peristiwa keselamatan Allah yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya kita rayakan pada hari ini. Perayaan yang agung dan mulia ini bukan sekedar mengenang kembali peristiwa yang terjadi di masa lampau, tetapi kita juga ingin mengambil bagian dan ikut terlibat dalam karya keselamatan Allah yang telah dimulai oleh Yesus Kristus di dalam kehidupan kita saat ini. Maka, marilah kita merenungkan sejenak makna dari peristiwa Natal bagi kehidupan kita pada zaman sekarang ini.

Bila kita melihat di dalam kandang Natal, ada tiga hal yang diperlambangkan. Di sini, kita bisa melihat sosok Bayi Yesus, Bunda Maria dan St. Yosef, yang berada di dalam kandang yang hina. Yesus, Maria, Yosef, dan kandang hina ini melambangkan kelemahan, kemurnian dan ketaatan, serta kemiskinan.

Pertama, kelemahan itu tampak dalam diri Bayi Yesus. Allah yang Mahakuasa mau hadir ke dunia, menjelma menjadi manusia dalam diri bayi yang lemah. Hal ini bertentangan dengan arus duniawi yang identik dengan kekuasaan, kekuatan, dan kekerasan.

Kedua, kemurnian dan ketaatan tampak dalam diri St. Perawan Maria dan St. Yosef, yang dengan ketulusan hati, kesucian diri, dan ketaatan yang total menerima rencana keselamatan Allah, dan mau bekerja sama dengan Allah dalam mewujudkan karya keselamatan itu di dalam dunia. Nilai ini bertentangan dengan sikap manusia yang cenderung kepada dosa, menolak kehendak dan perintah Allah, serta tetap berkeras hati untuk hidup di dalam dosa dan kejahatan.  

Ketiga, kemiskinan ditampakkan kepada kita melalui kandang yang hina. Tuhan Yesus tidak lahir di istana raja, tetapi di kandang yang hina, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Hal ini bertentangan dengan kemegahan dunia, yang lebih mengutamakan kekayaan dan harta duniawi, daripada keselamatan jiwa.

Dari ketiga tanda yang diberikan kepada kita melalui kandang Natal, kita semua diajak untuk pertama-tama menjaga kemurnian hati, jiwa dan raga kita. Seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, bahwa “bangsa yang berjalan dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar”, maka kita juga harus meninggalkan kegelapan dosa dan kejahatan yang menghalangi kita untuk berjumpa dengan Yesus, Sang Terang sejati, dan memelihara kesucian hidup kita, agar Yesus sudi lahir di dalam hati kita.

Tanpa pertobatan dan perubahan hidup menjadi yang lebih baik lagi, maka Natal tidak akan bermakna sama sekali bagi hidup kita. Oleh karena itu, pesan Rasul Paulus dalam Bacaan kedua tadi dapat menjadi pedoman bagi kita, yaitu “agar kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan dunaiwi, dan agar kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah, di dalam dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia.

Kedua, kita semua dipanggil untuk menemukan Yesus di dalam diri saudara-saudari kita yang miskin, lemah dan tersingkir, sebab Yesus telah mengalami sendiri semua penderitaan yang mereka alami. Bahkan, Yesus mau hadir di dalam diri mereka, sehingga apa yang kita perbuat bagi orang-orang yang miskin, lemah, dan tersingkir ini, kita lakukan juga bagi Yesus. Itulah kado Natal yang terindah bagi Yesus, jika kita mau peduli dengan sesama kita dan menjadi sahabat bagi semua orang, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras dan bangsa.



"Selamat Hari Raya Natal,
Jadilah Sahabat Bagi Semua Orang"



Share:

Saturday, 21 December 2019

FAJAR SUDAH MULAI MENYINGSING

Hari Minggu Adven IV: 
22 Desember 2019

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, Injil yang kita dengarkan hari ini memberikan pendasaran bagi perayaan Natal yang akan kita rayakan nanti pada tanggal 25 Desember. Secara liturgi Minggu Adven IV ini merupakan masa persiapan yang paling dekat pada hari raya kelahiran Tuhan. Secara kalender masehi juga sudah tinggal 2 hari lagi kita akan merayakan Hari Raya Natal. Suasana Natal sudah terasa, dengan dekorasi-dekorasi, lagu-lagu Natal, latihan-latihan koor, dan persiapan-persiapan lainnya dalam rangka memeriahkan Natal.

Hari Raya Natal memang perayaan yang agung dan mulia, maka kita harus mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya, entah itu yang sifatnya fisik maupun rohani. Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk merenungkan secara lebih mendalam dasar dari perayaan Natal. Mengapa kita harus merayakan Natal? Apa yang terjadi pada waktu Natal? Dan apa peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya?

Pada hari raya Natal nanti kita akan merayakan Hari Kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus. Kelahiran Yesus ini telah diramalkan berabad-abad sebelum kelahiran Yesus. Seperti yang kita dengarkan dalam Bacaan I, Nabi Yesaya telah bernubuat bahwa: “Seorang wanita muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia, “Immanuel”, yang artinya Tuhan beserta kita.
Nubuat Yesaya ini tergenapi dalam diri Yesus, yang dilahirkan oleh Perawan Maria. Kisah sebelum kelahiran Yesus ini sudah kita dengarkan dalam Bacaan Injil tadi, bahwa Maria yang telah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, kini telah mengandung dari Roh Kudus. Awalnya Yusuf tidak memahami karya Allah ini, yang terjadi di dalam diri Maria, maka ia ingin menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi rencana Allah. Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf di dalam mimpi, dan memberikan perintah, agar ia mengambil Maria sebagai isterinya, karena anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus. Dan bahkan nama Yesus sudah disebut sebelum Ia dilahirkan dan tujuan dari kelahiran-Nya pun sudah disebutkan, bahwa Ia akan menyelamatkan manusia dari segala dosa. Berkat pewartaan dari Malaikat ini, Yusuf pun akhirnya taat kepada perintah dan rencana karya keselamatan Allah. Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya.

Ketaatan kepada rencana dan kehendak Allah seperti Yusuf inilah yang harus kita teladani. Walaupun secara akal manusia, kita tidak memahami rencana Allah dalam hidup kita, tetapi jika kita percaya sepenuhnya kepada Allah, dan mau taat kepada semua perintah-Nya, maka kita akan mengalami karya keselamatan Allah dalam hidup kita. Jika kita taat kepada perintah Tuhan, maka Perayaan Natal akan menjadi lebih bermakna bagi hidup kita. Kita bukan sekedar mengenang kembali karya Keselamatan Allah yang terjadi di masa lampau, tetapi mengalami sendiri karya keselamatan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Selamat menyongsong Hari Raya Natal. 
Fajar Sudah Mulai Menyingsing…”













Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive