BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Saturday, 26 January 2019

MEMAHAMI SAKRAMEN BAPTIS (3 of 8)


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr

Baptis Dewasa 
 


 Pembaptisan orang dewasa dapat dilaksanakan setelah katekumen menyelesaikan semua pelajaran katekumennya. Hal penting yang perlu juga diperhatikan ialah pemilihan nama baptis. Gereja mengajarkan, “Hendaknya orangtua, wali baptis dan Pastor Paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.”[1] Maka dari itu, nama baptis harus menggunakan nama-nama orang kudus (santo-santa), sebab nama baptis mempunyai nilai rohani, yakni supaya orang yang dibaptis tersebut dapat meneladani teladan hidup dari orang kudus yang namanya digunakan oleh orang tersebut, dan orang kudus itu sendiri akan menjadi pelindung bagi dirinya, yakni sebagai sahabat yang senantiasa mendoakannya dari surga.[2]  Nama baptis ini dapat dicari di buku Doa-Ku, atau buku-buku tentang Orang Kudus. 
Pembaptisan ini dapat dilakukan di dalam Perayaan Ekaristi, maupun Ibadat Sabda oleh Imam/ Diakon. Adapun peralatan liturgi yang perlu disiapkan, antara lain: air baptis, minyak krisma, lilin baptis untuk calon baptis, kain putih, dan lilin Paskah.[3]
 
Pembaptisan dewasa bisa sekaligus menerima Komuni Pertama jika orang yang bersangkutan tidak terkena halangan Komuni. Adapun halangan komuni tersebut antara lain:
a)    Halangan Usia. Jika orang tersebut belum cukup umur (masih belasan tahun), maka dia harus terlebih dahulu mengikuti pelajaran persiapan Komuni Pertama.
b)    Halangan Perkawinan. Jika orang tersebut sudah menikah secara adat/ di luar Gereja Katolik, maka dia terhalang untuk menerima Komuni. Dia harus terlebih dahulu merehap perkawinannya baru bisa menerima Komuni Kudus. 
Dengan demikian, baptisan dewasa yang bisa sekaligus menerima Komuni Pertama adalah mereka yang sudah dewasa secara umur (20 tahun ke atas), dan jika sudah menikah, status perkawinannya harus sudah sah secara Gereja Katolik atau sudah menerima Sakramen Perkawinan. 
Setelah dibaptis data orang yang sudah dibaptis tersebut harus segera dicatat dalam Buku Baptis (Liber Baptizatorum)[4], Kartu Tik, dan Buku Keluarga (apabila ia berasal dari keluarga katolik). Dari pihak orang yang sudah dibaptis harus segera mengurus Kartu Baptis. Kartu Baptis ini berguna seperti KTP, yaitu sebagai kartu identitas orang Katolik. Kartu ini berguna untuk mengurus Surat Baptis atau Buku Keluarga.  


Bersambung .........

[1]  [2]   [4]  [5]  [6]  [7]  [8]


______________________________________________
[1] KHK. 855.
[2] Kompendium KGK, 264. 
[3] KGK, 1239 – 1243.
[4] KHK 877§1.
Share:

TAATI HUKUM atau DIHUKUM


 (Hari Minggu Biasa III: 27 Januari 2019)
[Bacaan I: Neh. 8:3-5a, 6-7, 9-11; Bacaan Injil: Luk. 1:1-4, 4:14-21]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

 
Pada hari ini digenapilah nas tadi sewaktu kamu mendengarkannya
 
Saudara-saudari terkasih, penghormatan yang tinggi terhadap Hukum Taurat tampak dalam diri orang-orang Yahudi dalam bacaan pertama tadi. Ketika imam Ezra membacakan Kitab Taurat itu, semua orang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sebagai bentuk penghormatan yang tinggi terhadap Hukum Taurat, mereka berdiri saat imam membacakan Kitab tersebut. Dan bahkan mereka sampai menangis saat Hukum Taurat tersebut dibacakan. Namun, imam Ezra menegur mereka supaya jangan berduka dan menangis, melainkan harus bersukacita dan bergembira, sebab Hukum Taurat itu adalah anugerah dari Tuhan bagi mereka. Mereka harus menjadikannya pedoman hidup dan bukan sebagai beban hidup!

Apa yang tertulis di dalam Hukum Taurat tergenapi ketika Yesus hadir di dunia. Melalui pengajaran-Nya di hadapan semua orang di dalam rumah ibadat, Yesus ingin menyatakan misi perutusan-Nya di dunia, yaitu menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, dan memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang. Kabar gembira yang tertulis di dalam Kitab Nabi Yesaya ini digenapi oleh Yesus melalui karya keselamatan yang Ia kerjakan di dunia ini.

Saudara-saudari terkasih, kita sudah sering mendengarkan dan membaca Kitab Suci. Namun, pertanyaannya: seberapakah hormat kita terhadap Sabda Tuhan yang dibacakan ini? Apakah kita fokus ketika mendengarkan Sabda Tuhan? Ataukah kita malah sibuk dengan diri kita sendiri, entah dengan melamun atau berbicara dengan teman? Bacaan-bacaan suci pada hari ini menjadi teguran bagi kita untuk lebih menghormati Hukum Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci.

Penghormatan yang tinggi harus kita berikan kepada Sabda Tuhan yang menjadi pedoman bagi hidup kita. Sabda Tuhan itulah yang menjadi Hukum bagi kita, karena di dalamnya termuat aturan-aturan hidup, segala perintah-perintah dan larangan-larangan dari Tuhan. Bagaimana kita bisa menggenapi dan melaksanakan Hukum ini jika kita tidak pernah menghormati Hukum ini? Penghormatan terhadap Hukum Tuhan dapat kita berikan dengan memberikan perhatian yang penuh, saat Sabda Tuhan dibacakan sewaktu ibadat dan misa. Hanya dengan cara ini kita bisa mengetahui Hukum Tuhan, yang harus kita taati dan laksanakan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sebagaimana Yesus menggenapi apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, kita semua pun dipanggil untuk menggenapi dan melaksanakan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Kita bisa menggenapi Sabda Tuhan, jika kita mau menerima Sabda ini dengan penuh iman, dengan mengamini Sabda Tuhan, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sabda Tuhan inilah yang menjadi Hukum bagi kita, karena di dalamnya termuat berbagai aturan hidup dan pedoman hidup, agar kita tidak tersesat dan jatuh ke dalam dosa. Maka, pilihan kita hanya dua: Apakah kita mau menaati Hukum atau mau dihukum? Jika kita mau menaati Hukum Tuhan, maka Hukum itu akan menjadi pedoman hidup dan bukan beban hidup, sehingga hidup kita akan menjadi lebih baik dan bermakna. Tetapi jika kita lebih memilih untuk dihukum dengan tidak mau taat kepada Hukum Tuhan, maka Hukum itu akan berubah menjadi hukuman bagi diri kita. Kita akan tetap hidup di bawah hukuman dan dosa, yang pastinya akan membuat jiwa kita tersiksa dan menderita selamanya.

Marilah kita mohon bantuan rahmat Allah, agar kita senantiasa menghormati Hukum Tuhan yang membebaskan kita dari segala belenggu dosa dan hukuman, dan semoga semakin hari kita semakin taat kepada Hukum Tuhan dan melaksanakannya di dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita bisa memperoleh rahmat keselamatan yang berasal dari Allah.


Share:

Friday, 18 January 2019

MEMAHAMI SAKRAMEN BAPTIS (2 of 8)


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.



Syarat-syarat Menjadi Katekumen 

Katekumen adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menjadi Katolik, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mereka perlu dipersiapkan dengan baik untuk mengenal dan mendalami iman Katolik melalui katekese/ pengajaran katekumen.[KGK, 1230.] Katekumen ini dapat digolongkan dalam beberapa kategori, yakni menurut usia dan agama asal. Menurut usia, katekumen ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu: katekumen anak-anak (SD dan SMP), dan katekumen dewasa (SMA ke atas). Sedangkan menurut agama asal, katekumen ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) Katekumen yang berasal dari Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (PGI) atau yang bernaung di bawahnya. Mereka dipersiapkan untuk diterima menjadi anggota Gereja Katolik, tanpa harus dibaptis lagi, kecuali sahnya baptisan yang telah ia terima masih diragukan.[Bdk. KHK. 869§2.] (2)  Katekumen yang berasal dari agama lain, yakni mereka yang beragama Islam, Budha, Hindu, Konfuchu, atau Kristen yang tidak bernaung di bawah PGI. Mereka dipersiapkan untuk menjadi anggota Gereja Katolik dan harus dibaptis.

Ada pun syarat adminitratif bagi para katekumen ialah:
a)       Mendaftarkan diri untuk menjadi katekumen di kantor paroki, dengan membawa fotocopy Akte Kelahiran, KTP, Kartu Keluarga, dan Surat Kawin (jika sudah menikah).
b)      Menyerahkan surat pernyataan keinginan menjadi orang Katolik.
c)      Mengikuti pelajaran Katekumen yang telah ditetapkan oleh Paroki sampai selesai.


Bersambung....

[1]   [3]   [4]   [5]   [6]   [7]   [8] 



Share:

NATAL BERSAMA MISDINAR

Masih dalam suasana dan masa Natal, pada tanggal 3 Januari 2019 Misdinar Paroki Sosok mengadakan Natal Bersama di Paroki Sosok. Natal bersama ini diawali dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Kristus Raja, Sosok, yang dipimpin oleh Pastor Vinsensius, Pr selaku pembina Misdinar. Misa dimulai pkl. 17.00 WIB. Turut hadir juga para alumi Misdinar dan perwakilan dari OMK Paroki Sosok. 


Seusai Perayaan Ekaristi dilanjutkan acara ramah tamah di Aula Paroki Sosok. Kegembiraan Natal bersama ini dimeriahkan dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh para Misdinar dan tampilan lainnya. Tidak lupa ada makan bersama setelah sambutan-sambutan. Semoga dengan perayaan Natal bersama ini, para Misdinar semakin bersemangat dalam mengikuti pembinaan rutin Misdinar dan bersemangat pula dalam pelayanan Gereja. 

Misa Natal bersama Misdinar




Ramah Tamah di Aula



Merry Christmass & Happy New Year 2019



Share:

MEMAHAMI SAKRAMEN BAPTIS (1 of 8)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

Sakramen Baptis menjadi pintu masuk untuk menjadi seorang yang beriman Katolik. Dengan dibaptis, ia dapat menerima Sakramen-sakramen lainnya. Pembaptisan sangat penting, sebab dengan pembaptisan kita dibersihkan dari segala dosa-dosa dan dilahirkan sebagai putra-putri Allah dan anggota Gereja Kristus [ Bdk. KGK. 1262-1274.]

Pada bagian ini kita akan membahas hal-hal praktis berkaitan dengan Sakramen Baptis. Pembahasan akan dimulai dengan penjelasan tentang katekumen. Kemudian menyusul penjelasan mengenai baptis dewasa dan baptis bayi. Di akhir bagian ini diberikan penjelasan teknis mengenai kartu baptis dan surat baptis, beserta fungsinya.

Manfaat Sakramen Baptis

Di zaman ini banyak orang yang selalu melihat manfaat dari apa yang dilakukan atau diperolehnya. Maka, muncul pertanyaan, “Apa manfaat dari Sakramen Baptis?” Dalam ajaran Gereja, kita mengenal buah-buah/ rahmat dari Sakramen Baptis. Buah-buah Sakramen Baptis ini merupakan manfaat rohani yang kita peroleh dari Sakramen Baptis. Manfaat dari Sakramen Baptis tersebut, antara lain:

a)            Menghapus dosa asal, semua dosa pribadi, dan semua hukuman karena dosa. Dosa pribadi yang dimaksud di sini ialah dosa yang dilakukan sebelum pembaptisan, dan bukan dosa yang dilakukan setelah pembaptisan.
b)           Orang yang dibaptis menjadi “ciptaan baru”, anak angkat Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, anggota Kristus, ahli waris bersama Dia, dan kenisah Roh kudus.  Allah Tritunggal Mahakudus menganugerahkan kepada orang yang dibaptis  rahmat pengudusan, yaitu antara lain: keutamaan teologal (iman, harapan, dan kasih), anugerah-anugerah Roh Kudus, dan keutamaan-keutamaan susila.
c)            Orang yang dibaptis digabungkan ke dalam Gereja Kristus, dan secara sah menjadi anggota Gereja Katolik.
d)           Orang yang dibaptis memiliki ikatan persatuan dengan semua orang Kristen, bahkan dengan mereka yang Kristen Non-Katolik, yang baptisannya diakui oleh Gereja Katolik.
e)            Orang yang dibaptis menerima Meterai rohani yang tak terhapuskan, sekalipun oleh dosa-dosa berat. [ KGK, 1213.]


Bersambung ..........


 [2]   [3]   [4]   [5]   [6]   [7]   [8]




Share:

HATI SEBAGAI HAMBA


 (Hari Minggu Biasa II: 20 Januari 2019)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.
 
Apa yang Ia katakan, lakukanlah itu!

Saudara-saudari terkasih, kita semua tentu tidak mau mengalami kekurangan. Apalagi kekurangan itu terjadi pada saat-saat yang penting dalam hidup kita. Injil pada hari ini mengisahkan kepada kita kekurangan anggur yang terjadi saat pesta perkawinan di Kana. Tentu saja kejadian ini akan menjadi sesuatu yang memalukan bagi pihak keluarga mempelai, jika mereka tidak bisa menyediakan anggur yang cukup dalam pesta tersebut. Namun, kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membuat anggur itu menjadi cukup dan tidak berkekurangan sama sekali. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Marilah sejenak kita merenungkan kisah tentang Mukjizat Yesus yang pertama kali ini.

Dalam sebuah pesta perkawinan di Kana, yang dihadiri oleh Bunda Maria, Yesus dan para murid-Nya, terjadi suatu masalah, yaitu kekurangan anggur. Di tengah kebingungan dan masalah kekurangan anggur ini, Bunda Maria mengambil inisiatif untuk meminta Yesus melakukan sesuatu bagi mereka. Walaupun awalnya, Yesus menolak untuk melakukan sesuatu, karena “Saat-Nya” belum tiba, namun akhirnya Ia mau juga melakukannya. Para pelayan yang sudah diberi pesan oleh Maria, supaya melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus, kini mendapatkan perintah langsung dari Yesus. Yesus menyuruh mereka untuk mengisi enam tempayan itu dengan air sampai penuh. Setelah itu, Yesus menyuruh mereka mencedok air itu yang sekarang sudah berubah menjadi anggur, dan memberikannya kepada pemimpin pesta. Pemimpin pesta itu kaget, karena sang mempelai masih menyimpan anggur yang baik sampai akhir pesta. Dia tidak tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi para pelayan-pelayan itu dari mana tahu asal usul dari anggur itu.

Para pelayan ini menjadi saksi dari mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus. Mereka bukan saja melihat, tetapi juga ikut ambil bagian dalam karya Yesus ini. Para pelayan ini memiliki hati sebagai hamba. Mereka taat kepada perintah Yesus, tanpa banyak berkata-kata. Mereka tidak mempertanyakan apa yang diperintahkan Yesus itu, walaupun tampaknya tidak masuk akal. Berkat ketaatan para pelayan inilah, maka Yesus bisa menyatakan Kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Saudara-saudari terkasih, sebagai murid-murid Kristus kita juga harus memiliki hati sebagai hamba, yang mau taat dan setia kepada perintah-perintah Yesus. Pesan Bunda Maria kepada para pelayan, juga menjadi pesan yang amat penting bagi kita: “Apa yang Ia katakan kepadamu, lakukanlah itu!” Bunda Maria juga meminta kita untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Yesus, Putranya. Perintah-perintah Yesus yang terdapat dalam Kitab Suci haruslah menjadi pedoman hidup kita dan harus kita taati dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam menjalankan perintah Yesus mungkin kita pernah bertanya, “Mengapa saya harus melakukannya?” “Apa manfaatnya bagi saya?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam pikiran kita. Jika kita hanya menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan hasrat ingin tahu kita, maka ujung-ujungnya kita tidak akan pernah melakukan apa yang dikatakan Yesus kepada kita melalui Sabda-Nya. Memang, seringkali apa yang kita kehendaki tidak sejalan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Namun, percayalah bahwa apa yang Tuhan kehendaki itu semuanya baik dan benar, serta berguna bagi kehidupan kita.

Walaupun kita tidak mampu memahami jalan pikiran Allah, namun tetaplah kita harus taat dan setia kepada perintah-perintah-Nya, yang tampak jelas dalam Sabda Putra-Nya, Yesus Kristus. Kita harus memiliki hati sebagai hamba, seperti para pelayan dalam pernikahan di Kana, yang tidak menyanggah sedikit pun apa yang Yesus perintahkan kepada mereka untuk dilakukan. Dan hasilnya, berkat ketaatan mereka, mereka telah bekerja sama dengan Yesus untuk menyediakan anggur baru yang terbaik dalam pesta pernikahan tersebut.

Kita semua yang diundang dalam perjamuan Tuhan ini juga akan mengalami Mukjizat dalam hidup kita jika kita senantiasa taat dan setia kepada perintah-perintah Tuhan. Mukjizat terjadi di saat kemampuan manusiawi kita tidak lagi mampu mengatasi berbagai problem hidup yang kita hadapi. Dan saat itulah tangan Tuhan bekerja dan menyempurnakan apa yang kita lakukan. Maka, kita harus senantiasa menyerahkan diri kepada kemahakuasaan Allah, dan percaya, bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi hidup kita, walaupun itu di luar kemampuan kita, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Marilah kita mohon rahmat ketaatan sebagai seorang hamba, agar kita juga boleh mengalami pertolongan dari Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Share:

Friday, 11 January 2019

MISTERI PEMBAPTISAN TUHAN


 (Pesta Pembaptisan Tuhan: 13 Januari 2019)
[Bacaan Injil: Luk. 3:15-16.21-22]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


Saudara-saudari terkasih, hari ini telah berada di penghujung Masa Natal. Kita telah merayakan Hari Raya Natal 2 minggu yang lalu, dan hari ini adalah penutupan masa Natal itu. Besok kita sudah memasuki Masa Biasa I. Masa Natal ini ditutup dengan Pesta Pembaptisan Tuhan. Pertanyaannya: Apa makna dari Pesta Pembaptisan Tuhan ini, sehingga diletakkan di akhir masa Natal dan di awal masa Biasa?

Engkaulah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan

Ada dua makna dari Perayaan Pesta Pembaptisan Tuhan ini bagi kita. Pertama, Pesta ini masih merupakan kelanjutan dari Misteri Natal yang telah kita rayakan. Pada peristiwa Kelahiran Yesus, kita bisa melihat, bahwa Allah telah merendahkan diri-Nya dengan menjadi manusia, agar Ia dapat menyelamatkan manusia. Peristiwa Natal merupakan peristiwa Perjumpaan Allah dengan manusia. Allah berkenan untuk berjumpa dengan manusia secara langsung, tanpa perantara lagi. Inilah Misteri Natal yang kita rayakan. Dan untuk dapat berjumpa dengan manusia, Allah merendahkan diri-Nya menjadi manusia. Sang Pencipta rela menjadi ciptaan, agar Ia dapat menyelamatkan semua ciptaan-Nya.

Hal serupa dapat kita temukan lagi dalam peristiwa pembaptisan Yesus. Sekali lagi Tuhan merendahkan diri-Nya dengan menerima pembaptisan Yohanes. Padahal pembaptisan Yohanes itu tujuannya adalah untuk pertobatan dan pengampunan dosa, sedangkan Yesus sama sekali tidak berdosa. Terus apa maknanya Yesus menerima pembaptisan dari Yohanes? Sebenarnya, melalui peristiwa pembaptisan ini, Yesus yang tidak berdosa mau solider dengan orang-orang yang berdosa, dengan menerima pembaptisan yang sama. Yesus mau memberikan teladan bukan saja ucapan, bahwa pentingnya pertobatan demi pengampunan dosa.

Maka, kita semua yang telah merayakan Natal harus juga berubah menjadi manusia yang baru. Kita semua yang sudah dibaptis harus senantiasa menghidupi dan mengamalkan janji baptis yang telah melekat di dalam diri kita. Dengan merayakan Natal, Hari Raya Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, kita juga harus mengalami kelahiran baru menjadi anak-anak Allah. Tanpa perubahan hidup yang lebih baik, maka Perayaan Natal sama sekali tidak bermakna dan sia-sia bagi kita. Maka, sama seperti gembala yang telah berubah menjadi manusia baru setelah mereka berjumpa dengan Yesus, kita pun harus menjadi manusia baru, karena kita telah merayakan Peristiwa Perjumpaan Allah dan manusia dalam perayaan Natal ini.

Perubahan hidup dapat terjadi jika kita mau merendahkan diri kita di hadapan Tuhan. Sikap rendah hati harus selalu ada di dalam diri kita. Tidak ada yang dapat kita banggakan di hadapan Tuhan, sebab semua yang ada pada diri kita itu berasal dari Tuhan. Semuanya adalah anugerah dari Tuhan. Maka, dengan sikap rendah hati kita juga harus mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan jika tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya orang yang rendah hati yang bisa berdoa dan memohon kepada Tuhan. Marilah kita buang jauh-jauh kesombongan diri kita yang tidak berguna itu. Orang yang sombong selalu menganggap dirinya mampu melakukan segala-galanya tanpa Tuhan. Ia merasa lebih berkuasa daripada Tuhan, dan tidak membutuhkan Tuhan. Kesombongan seperti inilah yang akan membawa manusia kepada kematian yang kekal di neraka! Oleh karena itu,   marilah kita senantiasa merendahkan diri di hadapan Tuhan, seperti Yesus sendiri yang telah merendahkan diri-Nya demi menyelamatkan manusia. Dengan sikap rendah hati, kita bisa memperoleh rahmat keselamatan yang berasal dari Allah.

Kedua, Pesta Pembaptisan Tuhan menjadi awal dari Masa Biasa. Kisah pembaptisan Yesus juga menjadi awal dari perjalanan hidup dan karyanya di hadapan orang banyak. Perjalanan hidup, segala ajaran dan karya Yesus inilah yang akan kita renungkan selama Masa Biasa. Memang selama masa Biasa tidak ada lagi perayaan besar seperti perayaan Natal di masa ini. Namun, semangat baru yang telah kita dapatkan selama masa Natal harus senantiasa kita hidupi selama masa biasa ini. Masa Natal yang kita rayakan tidak akan bermakna bagi diri kita jika kita tidak pernah merayakan Masa Biasa, sebab selama Masa Biasa inilah kita bisa mengikuti jejak perjalanan hidup Yesus setelah kelahiran-Nya. Segala ajaran dan perbuatan Yesus dapat kita dengarkan selama Masa Biasa. Maka, sayang sekali jika kita masih menganut aliran Napas (Natal Paskah), sebab kita tidak akan pernah mengenal Yesus secara utuh dan lengkap. Orang-orang yang menganut aliran Napas hanya mengenal Yesus saat kelahiran dan kebangkitan-Nya saja, sedangkan bagaimana kisah Yesus selama hidup-Nya, dan apa saja ajaran-Nya tidak akan pernah mereka ketahui secara lengkap.

Maka, marilah kita memasuki masa biasa dengan semangat yang luar biasa. Mari kita ikuti jejak Yesus setiap hari, dengan rajin merenungkan sabda Tuhan dan merayakan Ekaristi, sebab dari sabda Tuhan kita memperoleh pedoman bagi hidup kita sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus, dan dari Sakramen Mahakudus kita memperoleh kekuatan bagi jiwa kita, sehingga kita dapat melaksanakan ajaran Tuhan dalam  kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, kita bisa menjadi anak-anak Allah yang terkasih, seperti Tuhan Yesus sendiri, sehingga Allah berkenan kepada kita. 


Share:

Sunday, 30 December 2018

NATAL BERSAMA DI STASI TABOT GALONG, OMK PUSAT BAGI KADO NATAL

(TK) Orang Muda Katolik Paroki Kristus Raja Sosok Keuskupan Sanggau berbagi Kasih dalam rangka perayaan Natal Bersama di Stasi Tabot Galong Desa Berakak Paroki Kristus Raja Sosok pada Jumat (28/12/18) lalu. Misa Natal Bersama ini dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki Kristus Raja Sosok P. John Eddi, Pr. Kegiatan dimulai pukul 19.00 Wib dan berakhir sekira pukul 21.00 Wib. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kewilayahan Dusun Tabot Galong dan  Ketua RT setempat, serta Orang Muda Katolik Pusat Paroki dengan tujuan memberi support dan semangat kepada para OMK dan Umat Katolik di Stasi ini. Perayaan Natal Gereja Katolik untuk tahun ini mengangkat tema "YESUS KRISTUS, HIKMAT BAGI KITA" Tema ini di tetapkan oleh Konferensi Wali gereja Indonesia (KWI) bersama dengan Persekutuan Gereja-gereja Di Indonesia (PGI). Terlihat antusias Umat Katolik di Stasi ini menyambut kedatangan rombongan OMK Paroki Pusat bersama Pastor.

Share:

Wednesday, 26 December 2018

Homili Natal Ke 2 Pesta St Stefanus Martir Pertama 26 Desember 2018 Oleh Pastor Vinsensius,Pr

Rabu 26 Desember 2018, Gereja Katolik merayakan Misa Natal Ke-2 yang sekaligus merayakan Hari Santo Stefanus Martir yang pertama, Santo Stefanus adalah salah satu dari tujuh Diakon yang ditahbiskan oleh para rasul. Santo Stefanus dikenal sebagai orang yang berhikmat dan penuh dengan roh kudus, yang mengajarkan kita untuk mendoakan setiap orang yang bersalah kepada kita. Berikut Homili lengkap dalam perayaan tersebut
Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive