BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Saturday, 6 April 2019

RAHMAT PENGAMPUNAN SUCI


 (Hari Minggu Prapaskah V: 7 April 2019)
[Bacaan Injil:  Luk 15:1-3.11-32]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, sering kali kita mudah sekali menghakimi orang lain, seolah-olah kita sama sekali tidak berdosa. Mudah sekali kita menyatakan dosa dan kesalahan orang lain di depan umum, menceritakan kesalahan orang lain, menyebarkan gosip, dan bahkan menghukum orang lain dengan berbagai cara. Maka, Injil pada hari ini menjadi teguran bagi kita semua, dan sekaligus mengajarkan kepada kita agar kita bisa mengampuni sesama kita, seperti Yesus yang telah mengampuni dosa-dosa kita.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat datang kepada Yesus dengan membawa seorang perempuan yang tertangkap basah ketika berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, perempuan seperti ini harus dihukum mati dengan cara dirajam! Namun, anehnya mereka tidak langsung melaksanakan hukum itu. Mereka ingin mencobai Yesus, dengan meminta pendapat Yesus, apakah boleh menjatuhkan hukuman mati kepada perempuan ini? Di sini Yesus dihadapkan kepada masalah yang dilematis, di satu sisi Ia harus menegakkan hukum Taurat sebagai orang Yahudi, namun di sisi lain Ia juga harus menjunjung tinggi nilai kehidupan manusia. Dengan bersikap diam dan menulis di tanah, bukan berarti Yesus tidak tahu apa yang harus Ia perbuat, tetapi ini menjadi bahasa simbolis yang tidak dimengerti oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Bukannya mereka berusaha untuk memikirkan dan memahami apa arti dari tindakan Yesus ini, tetapi mereka malah terus-menerus mendesak Yesus supaya berbicara dan memberikan pendapat tentang perbuatan dosa yang dilakukan oleh perempuan itu. Mereka tidak sabar lagi menantikan jawaban dari Yesus: Apakah jawaban Yesus bertentangan dengan hukum Taurat? Sehingga mereka punya bahan untuk menyalahkan Yesus, mengadili Yesus, dan ahkirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus.

Ternyata apa yang selama ini Yesus tulis di tanah Israel, yaitu hukum cinta kasih dan pengampunan belum melekat di dalam hati orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.  Melihat ketegaran hati mereka, Yesus harus bangkit berdiri dan menyatakan sekali lagi hukum itu di hadapan mereka semua, karena memang mereka berhadapan dengan masalah yang dilematis, ada ketegangan antara hukum Taurat dan hak asasi manusia. Maka, jawaban Yesus pun sungguh mengejutkan bagi mereka. Yesus bersabda, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Dengan perkataan ini, Yesus tidak melarang mereka untuk menjalankan hukum Taurat. Yesus menyerahkan keputusan untuk menjalankan hukuman rajam itu kepada mereka. Mereka bisa menilai diri mereka sendiri. Kalau mereka merasa sama sekali tidak berdosa, silakan melemparkan batu yang pertama.

Namun, ternyata dengan sabda Yesus ini, akhirnya mata hati orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terbuka, mereka sadar bahwa mereka juga orang yang berdosa. Karena dosa itu, maka sebenarnya mereka juga tidak pantas menghukum sesama yang berdosa. Maka, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan perempuan itu. Mulai dari yang tertua, karena mereka merasa bahwa mereka lah yang telah banyak berbuat dosa dari dulu sampai sekarang.

Dengan perginya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat meninggalkan perempuan yang berdosa ini, berarti tahap pertama dari hukum cinta kasih dan pengampunan yang ditulis Yesus di tanah Israel mulai melekat di hati mereka. Mereka mulai menyadari, bahwa mereka adalah orang yang berdosa, dan tidak pantas menghakimi orang lain yang berdosa, karena mereka semua sama-sama pendosa. Namun, sampai pada tahap kesadaran akan dosa belumlah cukup, tahapan selanjutnya adalah pengampuan dosa. Pengampuan itulah yang dialami oleh perempuan yang berdosa ini. Ia sudah menyesali dosanya dan ingin bertobat, maka Yesus mengampuni dosanya. Yesus bersabda kepada-Nya, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai dari sekarang jangan berbuat dosa lagi." Dengan sabda yang luar biasa ini, Yesus mengampuni dosa dari perempuan ini, dan sekaligus memberikan pesan amat penting, yaitu supaya perempuan tersebut bertobat dan tidak berbuat dosa lagi. Rahmat pengampunan telah diterima oleh perempuan ini. Dengan demikian, hukum cinta kasih dan pengampunan yang telah ditulis dan ditabur oleh Yesus di tanah Israel kini telah terukir di hatinya, dan ia telah menjadi manusia baru, berkat rahmat pengampunan yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri.  

Saudara-saudari terkasih, dua minggu berturut-turut sejak Minggu Prapaskah IV, kita disuguhkan dengan Kisah Kerahiman Allah. Allah yang maharahim ditampakkan dalam perumpamaan tentang seorang bapa yang baik hati dan mau mengampuni anak bungsunya yang sudah durhaka dan mau menerima kembali anak itu ke dalam keluarganya. Allah yang maharahim juga tampak secara nyata dalam diri Yesus yang mau mengampuni perempuan yang berdosa, dan tidak menghukum perempuan itu, walaupun ia sudah selayaknya dihukum karena perbuatan dosanya.

Melalui Kisah Kerahiman Allah ini, maka pertama-tama kita semua diajak untuk juga mengalami dan merasakan sendiri Kerahiman Allah itu, yaitu dengan menerima Rahmat Pengampuan Suci yang berasal dari Allah sendiri. Rahmat pengampunan suci itu hanya dapat kita peroleh, jika kita mau mengaku dosa di hadapan imam. Dengan menerima Sakramen Tobat, maka secara langsung kita menerima rahmat pengampunan suci yang berasal dari Allah sendiri.


Kisah Kerahiman Allah juga mengajarkan kita untuk memiliki kerahiman seperti Allah sendiri. Kita harus bisa mengampuni sesama kita, seperti Yesus yang telah mengampuni dosa kita. Jangan sampai kita bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di awal kisah Injil tadi. Jangan sampai kita mudah menghakimi orang lain, menyalahkan orang lain, menuduh orang lain, melemparkan kesalahan kepada orang lain, dan menyebarkan fitnah dan gosip yang tidak benar tentang orang lain, tanpa mengoreksi diri sendiri! Maka dari itu, kita harus mengoreksi diri kita sebelum kita mengoreksi orang lain. Introspeksi diri menjadi jalan bagi kita untuk dapat menyadari segala dosa dan kesalahan kita, sehingga kita tidak menghakimi orang lain.

Marilah kita belajar untuk bersikap seperti Tuhan Yesus, tidak menghakimi orang lain, tetapi mau mengampuni orang lain. Marilah kita tinggalkan sifat-sifat buruk kita yang suka menghakimi orang lain. Dan marilah di Masa Prapaskah ini kita mohon rahmat pengampunan dari Allah dan bantuan rahmat Allah agar kita bisa mengampuni sesama yang berdosa. Dengan demikian, maka hukum cinta kasih dan pengampunan tidak hanya tinggal di tanah saja dan diinjak-injak orang, tetapi sungguh tertanam di dalam hati kita masing-masing.







Share:

Wednesday, 3 April 2019

OMK Paroki Sosok Menikmati Liburan Isra Mi'raj di Danau Laet

Semangat muda yang seakan tak kunjung pudar terus membara, hal ini yang nampak pada wajah-wajah Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Sosok. Mengingat bahwa tanggal 3 April 2019 bertepatan dengan hari Raya memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad S.A.W, maka muncul inisiatif bahwa OMK akan melakukan refreshing ke salah satu destinasi Wisata alam yakni Danau Laet yang berada di Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Ikut serta serta Pula Pastor Kepala Paroki yakni Pastor John Eddi,Pr untuk mendampingi kaum muda Katolik tersebut. Dan sebagai rekan sekaligus dokumenter hadir Pula saya tentunya (Hermanus Tatah). Mengenai berapa jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut silahkan anda hitung sendiri pada sesi foto bersama di bagian akhir postingan ini.
Kami berangkat sedikit molor dari jadwal awal  yang seharusnya pukul 14.00 WIB (2 April 2019) yang akhirnya sudah lewat Pukul 15 WIB, karena terhalang oleh hujan yang lumayan deras. Di Danau Laet kami menikmati sejuknya alam  dimalam hari dengan acara manggang (Ayam, Ikan dan Jagung). Dan untuk memulihkan tenaga kami menyewa dua ruang Home Stay, walau pun pada akhirnya ada yang memutuskan untuk memejamkan mata di Gazebo dan Tenda Camping. Untuk lebih jelas nya biarlah foto-foto  berikut yang akan menceritakan keseruannya.
Sesi Manggang


Sesi Makan Bersama

Sesi Makan Bersama
Hayo... siapa yang tahu sesi apakah ini?


Foto di Jembatan Bambu di pagi hari setelah Jogging

Add caption

Firsty mencoba Mobil Accu



Sesi Vlog ya...... sob....!!!




Dety Request ikut di Jeprettttt





Serasa di atas awan

Ops jika sengaja memetik bunga kena denda Rp.100.000 ya sob...!!

Sebenar nya mau foto Fasilitas WC tapi mereka keburu menghalangi

Pastor John Eddi,Pr usai dari Home Stay

Tukang Jepret tak mau ketinggalan

Mereka bertiga ketagihan dan merasa paling Cool

Bukti bahwa beliau ingin Netral tanpa Kampanye No.1 atau No.2 lebih baik mengabdi pada Allah Tri Tunggal. Hidup Nomor 3

Ini dia the Next Destinations, katanya ini milik Pastor


Keliling Pulau Yuk Cuy

Yuk berfose di halaman Fila.... pakai sendal ya om / tante Panas Banget batu nya



Parahu Sangkut Ka Pampang Ubah


Anggap aja foto Prewedding

Ini lah kami + 1

Ini lah kami + 1 (Tukang Jepret)

Share:

Friday, 29 March 2019

TANGGAPAN ATAS BELAS KASIH ALLAH

 (Hari Minggu Prapaskah IV: 31 Maret 2019)
[Bacaan Injil:  Luk 15:1-3.11-32]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kita sering kali kita sulit melupakan kesalahan orang lain, entah karena kita tidak mau memaafkan kesalahan orang itu, atau pun karena kita tidak yakin akan pertobatan dari orang itu. Sering kita sulit merubah pandangan kita yang negatif terhadap orang lain. Sekali kita menilai orang itu negatif dan buruk sikapnya, maka selamanya kita menganggap orang itu buruk dan tidak bisa berubah. Itulah yang terjadi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka menilai para  pemungut cukai dan orang berdosa sebagai orang yang tidak bisa lagi diselamatkan, dan harus dijauhi. Namun, tidaklah demikian dengan Yesus. Yesus malah mendekati mereka, dan menerima mereka dengan penuh belas kasih, agar mereka bisa bertobat dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Akan tetapi, sikap Yesus ini diprotes oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Maka, untuk menanggapi protes mereka ini, Yesus pun memberikan perumpamaan tentang Anak yang hilang.

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa itu seperti anak bungsu yang hilang. Mereka memang telah berdosa, namun mereka ingin bertobat dan kembali kepada Allah. Kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membawa pertobatan bagi mereka. Sikap Yesus itu seperti seorang bapa yang baik, yang mau menerima kembali anaknya yang sudah bersikap kurang ajar terhadapnya dengan memboroskan harta kekayaannya. Sadar akan dosa dan penyesalan yang mendalam mendorong mereka untuk datang kepada Yesus. Dan Yesus tetap membuka tangan-Nya untuk menerima mereka. Yesus tidak menolak mereka. Dengan penuh belas kasih, Yesus menerima pertobatan mereka. Yesus tidak lagi mengingat-ingat dosa mereka. Karena kemurahan hati-Nya, Ia telah menghapus dosa mereka, dan menerima mereka kembali dalam persekutuan umat Allah.

Namun, ternyata apa yang Yesus lakukan ini tidak disukai oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka merasa hanya diri mereka saja yang benar, dan mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang berdosa. Mereka mengkritik sikap Yesus yang dekat dengan orang-orang berdosa. Maka, Yesus menyamakan mereka dengan anak sulung. Anak sulung itu tidak mau menerima kehadiran adiknya yang sudah melakukan perbuatan yang kurang ajar dan mencemarkan nama baik keluarganya. Walaupun adiknya sudah menyesal dan ingin bertobat, namun ia tetap saja menganggap adiknya sebagai pendosa yang tidak layak diterima dalam keluarganya. Demikian pula dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka tidak mau menerima pertobatan dari para pemungut cukai dan para pendosa lainnya. Sekali mereka mencap seseorang berdosa, maka seumur hidup mereka akan memandang orang itu sebagai orang yang berdosa dan tidak bisa diselamatkan!

Saudara-saudari terkasih, jika kita bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam Injil tadi, maka kita menutup hati kita terhadap Belas Kasih Allah. Jika kita tidak mau menerima pertobatan dari sesama kita, maka kita tidak percaya kepada Yesus yang murah hati dan berbelas kasih kepada orang berdosa. Pengalaman orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat serta gambaran si anak sulung menjadi pembelajaran bagi kita, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang-orang berdosa.

Kita harus mengakui dengan jujur, bahwa kita semua adalah orang yang berdosa. Entah besar maupun kecil dosa kita, entah ringan maupun berat dosa kita, kita semua tetaplah orang yang berdosa. Namun, pintu kerahiman Allah selalu terbuka bagi kita. Allah selalu menunggu kita untuk datang kepada-Nya, untuk merasakan serta mengalami rahmat pengampunan yang berasal dari Allah sendiri. Bukti paling nyata dari belas kasih Allah ini adalah Sakramen Tobat/ Pengakuan Dosa. Maka, di Masa Tobat ini, marilah kita menerima Sakramen Tobat. Mari kita datang kepada imam dan mengakui semua dosa-dosa kita di hadapan imam. Maka, melalui perantaraan imam, Allah yang berbelas kasih akan mengampuni dosa-dosa kita. Itulah awal dari pertobatan yang sejati. Dengan menerima rahmat pengampunan dari Allah, kita bisa memulai cara hidup kita yang baru, yang lebih baik lagi dan lebih berkenan kepada Allah. 

Hidup sebagai orang yang baik dan benar di hadapan Allah jangan sampai membuat kita menjadi sombong dan menjauhkan diri dari orang-orang yang berdosa. Kita harus juga membantu sesama kita untuk bertobat dan mengalami belas kasih Allah. Kita harus bersukacita dan bergembira, jika sesama kita bertobat dan kembali kepada Allah, bukan sebaliknya mencela mereka atau menjelek-jelekkan mereka atau bahkan menyebarkan gosip yang tidak benar tentang mereka, karena masa lalu mereka yang buruk. Kita harus bersikap seperti Yesus, yang mau menerima orang-orang berdosa, melupakan dosa-dosa mereka, dan tidak mengungkit-ungkit lagi segala kesalahan mereka! Kita harus mengikuti sifat Allah yang murah hati dan berbelas kasih, dengan mengampuni sesama kita. Inilah tanggapan yang tepat atas belas kasih Allah kepada kita, manusia yang berdosa ini.

Marilah kita mohon bantuan rahmat Allah, agar kita bisa bertobat dan membawa sesama kita kepada pertobatan yang sejati. Dengan demikian, kita dapat merayakan Hari Raya Paskah nanti dengan semangat yang baru sebagai manusia yang baru, sehingga Perayaan Keselamatan ini sungguh-sungguh bermakna bagi kehidupan kita sehari-hari.

Share:

Friday, 22 March 2019

PROSES PERTOBATAN

 (Hari Minggu Prapaskah III: 24 Maret 2019)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


"Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak tebanglah!"


Saudara-saudari terkasih, kita sering menceritakan kesalahan dan dosa orang lain, dan menghubungkannya dengan segala penderitaan yang mereka alami, seolah-olah semuanya itu adalah akibat dari perbuatan dosa mereka. Dengan mudah kita menghakimi sesama kita, dan mengambil kesimpulan, bahwa sudah layak dan sepantasnya mereka dihukum karena dosa mereka. Demikianlah yang terjadi di Galilea dalam Bacaan Injil hari ini. Orang-orang datang membawa kabar buruk kepada Yesus, bahwa orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus itu, darahnya dicampurkan dengan darah hewan kurban yang mereka persembahkan. Namun, ketika mendapat berita seperti itu, Yesus tidak mau menghakimi orang-orang yang menghukum atau pun yang dihukum itu, tetapi Yesus ingin menyadarkan mereka, dengan membandingkan orang hukuman itu dengan orang-orang lainnya yang tidak dihukum: belum tentu orang yang dihukum itu lebih besar dosanya dari pada orang yang tidak dihukum! Tetapi, jika mereka semua tidak bertobat, maka mereka juga akan mengalami hal yang sama dengan orang yang dihukum itu! Intinya, Yesus mengajak mereka semua untuk bertobat, dan tidak menghakimi orang lain karena penderitaan yang mereka alami.  Hal pertama yang jadi penekanan dari Yesus adalah bahwa penderitaan terjadi bukan semata-mata karena perbuatan dosa yang mereka lakukan. Tetapi orang yang tidak mau bertobat, pasti akan mengalami penderitaan yang berat, di dunia maupun di akhirat.


Pertobatan itu adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu dan perjuangan, serta bantuan rahmat Allah. Tuhan Yesus mengumpamakan pertobatan itu seperti seorang yang menanam pohon ara, namun sudah tiga tahun pohon itu tidak berbuah. Tuan itu sudah jengkel dan ingin menebang pohon ara yang tidak berbuah itu, karena percuma ia tetap hidup, tetapi tidak berbuah! Namun, pengurus kebun itu tetap memohon kepada tuannya agar bersabar. Ia akan berusaha merawat dan memupuk pohon ara itu, agar ia berbuah. Dan jika sudah dilakukan segala daya dan upaya, tetapi masih tidak berbuah, maka lebih baik pohon itu ditebang saja! Apa arti perumpamaan ini? Perumpamaan tentang pohon ara ini berbicara kepada kita tentang makna pertobatan. Pertumbuhan dan kesuburan pohon ara membutuhkan proses dan usaha untuk merawat pohon itu, agar ia bisa berbuah. Demikian pula, pertobatan juga membutuhkan proses, usaha, dan bantuan rahmat Allah, agar bisa menghasilkan buah-buah pertobatan.


Ketika kita tidak bertobat, kita seperti pohon ara yang tidak berbuah. Kita memang hidup, tetapi tidak menghasilkan apa yang baik dalam kehidupan ini. Tidak ada buah-buah kebaikan yang kita hasilkan jika kita tidak bertobat. Namun, Allah tetap bersabar menghadapi ketegaran hati kita, yang tidak mau bertobat. Nafas kehidupan yang masih kita hirup sampai sekarang menjadi bukti nyata kesabaran Allah, sekaligus kesempatan yang Allah berikan kepada kita, agar kita bisa bertobat dan menjadi yang lebih baik lagi. Maka, marilah kita pergunakan kesempatan hidup yang masih Allah berikan kepada kita ini untuk bertobat. Mari kita memperbaiki diri kita dari yang buruk dan jahat, menjadi yang lebih baik lagi, lebih benar, dan berkenan kepada Allah. Hanya dengan cara ini kita bisa menghasilkan buah-buah kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Masa Prapaskah ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk bertobat, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup kita. Pertobatan yang sejati tidak sekali jadi. Kita butuh proses untuk berubah menjadi yang lebih baik. Maka, marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk mengubah diri kita dari yang buruk menjadi yang lebih baik dan berkenan kepada Allah. Mari kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan memohon bantuan rahmat-Nya, agar kita bisa menghasilkan buah-buah pertobatan. Allah sudah menyediakan pupuk yang baik agar kita bisa berubah dan berbuah. Pupuk-pupuk rohani itu adalah Sabda Tuhan sendiri, doa-doa kita, dan Sakramen-sakramen Gereja, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Maka, marilah kita pergunakan pupuk rohani itu dengan sebaik-baiknya. Kita bisa memupuk iman kita dengan rajin membaca dan merenungkan sabda Tuhan, bertekun dalam doa, dan rutin menerima Tubuh Kristus, yang dapat menguatkan iman kita, serta senantiasa menyucikan diri kita dari segala noda dan dosa melalui Sakramen Tobat. Dengan demikian, kita bisa menghasilkan buah-buah pertobatan dalam kehidupan kita sehari-hari. 
Share:

Friday, 15 March 2019

PERCAYA KEPADA JANJI ALLAH


 (Hari Minggu Prapaskah II: 17 Maret 2019)
[Bacaan I: Kej. 15:5-12.17-18; Bacaan Injil:  Luk 9:28b-36]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


Inilah Putera-Ku yang Aku pilih, dengarkanlah Dia!


Saudara-saudari terkasih, seringkali apa yang kita imani berbenturan dengan kenyataan hidup yang kita alami. Dan hal ini membuat kita meragukan kesetiaan Allah. Demikianlah yang dialami oleh Arbam. Janji Allah kepada Abram berbenturan dengan kenyataan konkret yang bertentangan dengan janji tersebut. Allah menjanjikan keturunan, namun kenyataannya Abram dan istrinya sudah tua, dan mereka belum punya keturunan. Allah juga menjanjikan tanah yang luas bagi Abram dan keturunannya, namun sementara itu ia masih hidup mengembara. Abram berada di ambang ketidakpastian. Walaupun demikian, Abram tetap percaya kepada janji Allah. Dengan iman itu, Abram meminta tanda dari Allah bahwa ia akan menerima anugerah yang dijanjikan oleh Allah. Maka, Allah pun mengadakan kurban perjanjian sebagai tanda bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Dan sungguh pada akhirnya, Abram mendapatkan keturunan, dan janji Allah akan tanah juga ditepati, walaupun mereka harus melalui berbagai rintangan, cobaan, dan penderitaan untuk dapat memasuki tanah terjanji.

Janji Allah akan keselamatan abadi tampak secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menganugerahkan kehidupan abadi kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Penampakan kemuliaan-Nya di atas gunung menjadi tanda bahwa Yesus akan mengalami Kemuliaan abadi, dan sekaligus janji-Nya bahwa para murid-Nya pun akan mengalami kebahagiaan yang sama. Namun, untuk sampai kepada kemuliaan yang membahagiakan itu, Yesus harus pergi ke Yerusalem terlebih dahulu. Yesus harus mengalami penderitaan dan wafat di atas kayu salib. Jalan salib menjadi sekaligus jalan untuk menuju Kebangkitan Mulia.

Saudara-saudari terkasih, jika kita rajin merenungkan sabda Tuhan, kita akan menemukan banyak janji Allah bagi kehidupan kita. Berhadapan dengan janji Allah itu, kita dituntut untuk percaya kepada janji-Nya. Percaya kepada janji Allah menjadi tanggapan yang tepat terhadap janji keselamatan Allah. Bukti nyata dari kepercayaan kita adalah mendengarkan setiap perkataan yang disabdakan oleh Yesus. Tentu saja kita tidak sekedar mendengar saja, tetapi mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam melaksanakan sabda Tuhan sering kali kita mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Dengan demikian, kita juga harus menyadari bahwa tiada kebahagiaan sejati tanpa penderitaan. Segala penderitaan yang kita alami karena mengimani Kristus menjadi jalan bagi kita untuk menuju kepada kemuliaan yang sejati, kebahagiaan yang kekal, dan keselamatan abadi yang berasal dari Tuhan. Mari kita persembahkan kepada Tuhan semua penderitaan yang kita alami, dan kita persatukan dengan penderitaan Kristus di atas kayu salib. Dengan memanggul salib kita masing-masing dan ikut mengambil bagian dalam penderitaan Yesus, kita dapat memperoleh kebangkitan yang mulia bersama dengan Yesus.







Share:

Friday, 8 March 2019

BERIMAN DI TENGAH PENCOBAAN


 (Hari Minggu Prapaskah I: 10 Maret 2019)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!


Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan kepada kita tiga pencobaan yang dialami oleh Yesus. Iblis mencobai Yesus di padang gurun, ketika Yesus berpuasa selama  40 hari. Pencobaan ini menyangkut kebutuhan dasar manusia, yaitu (1) makanan, (2) kekuasaan, dan (3) kepercayaan. Ketiga pencobaan ini yang akan kita renungkan pada hari ini, karena pencobaan ini bukan saja dialami oleh Yesus, tetapi juga kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari.


Pertama, makanan jasmani menjadi kebutuhan pokok manusia. Dalam keadaan yang lapar karena berpuasa, iblis mencobai Yesus, agar Yesus mengubah batu menjadi roti. Yesus bisa saja melakukan hal ini. Tetapi Yesus tidak mau, sebab itu bukan saat yang tepat untuk makan. Yesus sedang berpuasa dan tidak makan apa-apa, tetapi iblis malah menyuruh Yesus membuat roti, dengan tujuan membatalkan puasa Yesus. Maka, dengan tegas Yesus menjawab, bahwa manusia itu hidup bukan saja dari roti. Makanan jasmani bukan satu-satunya yang membuat manusia itu menjadi hidup. Masih ada kebutuhan lain yang dibutuhkan oleh manusia, yaitu kebutuhan rohani.


Kebutuhan rohani inilah yang kita penuhi melalui berpantang dan berpuasa. Dengan mengekang keinginan ragawi kita, rasa lapar dan haus kita akan santapan jasmani, kita diingatkan bahwa ada kebutuhan lain yang juga kita perlukan bagi diri kita, yaitu santapan surgawi yang berguna bagi keselamatan jiwa kita. Santapan surgawi itu adalah Sabda dan Tubuh Kristus sendiri yang kita terima di dalam perayaan Ekaristi.


Kedua, kekuasaan juga menjadi salah satu dari kebutuhan manusia. Banyak orang yang gila kuasa, dan berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan. Iblis mencobai Yesus dengan memperlihatkan kekuasaan dunia dan kemegahannya. Iblis mau menyerahkan semuanya itu kepada Yesus, dengan syarat jika Yesus mau menyembah dia. Betapa liciknya iblis itu! Apa yang ia katakan itu hanyalah modus! Kedengarannya bagus, dia mau menyerahkan kuasa dunia kepada Yesus. Tetapi semua ini hanya modus yang jahat, yaitu supaya Yesus menyembah dan mengabdi kepadanya. Maka, dengan tegas Yesus mengatakan, bahwa hanya Tuhan yang patut disembah dan hanya kepada-Nya kita berbakti.


Kita juga dapat terjerumus ke dalam godaan setan ini, jika kita haus akan kekuasaan duniawi, jika kita berlomba-lomba mendapatkan kekayaan duniawi, dan melupakan Allah yang harus kita sembah. Ketika kita hanya sibuk dengan urusan duniawi, dan hanya mengejar harta duniawi, tanpa peduli dengan harta surgawi, maka dengan demikian kita sudah menjadi abdi setan! Kita jatuh dalam pencobaan dengan mengabdikan diri kepada harta dan kekayaan, serta kekuasaan duniawi, dan itu semua sama saja dengan berbakti dan menyembah setan! Maka, sekali lagi kita diingatkan melalui sabda Tuhan Yesus, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau harus berbakti!” Di tengah arus kemajuan zaman dan kesibukan duniawi, kita jangan lupa dengan Tuhan. Kita harus menyembah Tuhan dan berbakti kepada-Nya melalui doa setiap hari, dan ibadah yang kita laksanakan setiap hari Minggu. Masa Prapaskah ini menjadi masa yang tepat bagi kita untuk bertobat, dan semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, dengan rajin berdoa dan sembahyang di gereja.


Ketiga, Yesus dicobai iblis berkaitan dengan kepercayaan-Nya kepada Bapa. Dengan licik iblis mengutip janji Allah yang tertulis di dalam Kitab Suci, bahwa Allah akan melindungi, sehingga Yesus tidak terantuk pada batu. Maka, iblis menyuruh Yesus terjun dari bubungan Bait Allah untuk membuktikan janji Allah itu. Namun, Yesus tidak mau bermain-main dengan janji Allah. Bukan kita yang harus mengatur Allah, tetapi Allah-lah yang seharusnya mengatur diri kita! Maka, dengan tegas Yesus melawan godaan iblis itu dengan kutipan dari Kitab Suci juga yang mengatakan, “Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”


Iman kepercayaan kepada Allah bukan untuk dipermainkan atau hanya coba-coba saja. Kepercayaan itu haruslah kepercayaan yang tulus dan murni kepada Allah, dan penyerahan diri yang total kepada Allah, tanpa ada maksud untuk mencobai Allah atau memaksakan kehendak kita kepada Allah, melainkan membiarkan Allah yang bertindak di dalam hidup kita, dan hanya kehendak Allah saja yang terjadi di dalam hidup kita.


Saudara-saudari terkasih, marilah kita senantiasa beriman di tengah arus pencobaan dunia zaman ini. Godaan iblis zaman ini tidak hanya tiga bentuk saja, tetapi sudah banyak bentuknya, sehingga jika kita lengah sedikit, maka kita akan jatuh ke dalam pencobaan. Maka, kita perlu senantiasa berhati-hati, agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan iblis. Mari kita mohon bantuan rahmat Allah, agar kita dapat melawan segala bentuk godaan iblis, yang ingin membuat kita terpisah dari Allah. Semoga dengan sungguh-sungguh beriman kepada Yesus, kita dapat melawan semua godaan ini, teristimewa selama Masa Prapaskah ini. Semoga pantang dan puasa, doa dan derma menjadi sarana bagi kita untuk bertobat dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, sumber dari keselamatan kita.





Share:

Tuesday, 5 March 2019

PANTANG DAN PUASA, DOA DAN DERMA

 (Hari Rabu Abu: 6 Maret 2019) 
[Bacaan Injil: Mat. 6:1-6.16-18]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr. 



"Hari Puasa dilangsungkan pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung. 
Hari Pantang dilangsungkan pada Hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaskah sampai Jumat Agung. 
Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai 60 tahun. 
Yang wajib berpantang adalah semua orang Katolik yang berusia 14 tahun ke atas. 
Puasa berarti makan kenyang hanya sekali sehari. 
Pantang berarti memilih pantang daging, ikan, garam, jajan, atau rokok. 
Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi. 


Bertobatlah dan Percayalah kepada Injil


         Saudara-saudari terkasih, pantang dan puasa adalah sarana bagi kita, agar kita bisa menghayati pertobatan, terutama dalam mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Paskah. Pantang dan puasa itu hanyalah sebagian kecil dari kewajiban kita selama Masa Pra-paskah ini. Masih ada kewajiban lain yang harus kita lakukan selama Masa Pra-paskah ini. Kewajiban-kewajiban itu tampak secara jelas dalam Bacaan Injil yang barusan kita dengarkan tadi. Tuhan Yesus berbicara tentang tiga kewajiban agama yang harus kita laksanakan, yaitu: berderma, berdoa, dan berpuasa. 

           Pertama-tama dalam melakukan ketiga kewajiban agama ini, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada kita, agar kita melakukannya dengan motivasi yang benar. Janganlah kita melakukannya dengan tujuan supaya dilihat orang, karena jika demikian, maka kita tidak akan mendapatkan upah dari Bapa di surga. Artinya, dalam melaksanakan kewajiban agama kita, kita tidak boleh memiliki motivasi yang salah, yaitu supaya dilihat dan dipuji orang. Motivasi yang murni, yang baik dan benar adalah demi kemuliaan nama Tuhan dan keselamatan jiwa kita, seperti yang kita doakan saat persiapan persembahan: “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa kita serta seluruh umat Allah yang kudus.” Maka, semua kewajiban agama yang kita lakukan pun harus demi kemuliaan nama Tuhan dan demi keselamatan jiwa kita, dan bukan demi pujian dari manusia atau popularitas diri. 

               Motivasi yang benar juga harus diikuti oleh praktek yang benar dalam melakukan kewajiban agama, sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Jika kita sudah memiliki motivasi yang benar dalam menjalankan kewajiban agama kita, maka kita juga harus mempraktekkan kewajiban agama itu dengan baik dan benar pula. Praktek agama yang benar adalah melakukan kewajiban agama dengan tersembunyi. Kita tidak perlu mengembar-gemborkan apa yang telah kita lakukan dalam melaksanakan kewajiban agama. Kita tidak perlu memberitahu orang lain dan memamerkan kepada orang lain, bahwa kita sudah memberikan sedekah, atau sudah berdoa, berpantang dan berpuasa. Dengan rendah hati, kita harus merahasiakan kewajiban agama yang sudah kita lakukan secara pribadi. Dengan demikian, maka Allah yang ada di tempat yang tersembunyi akan membalas semua kebaikan yang sudah kita lakukan. 

               Motivasi yang benar dan praktek yang benar dalam menjalankan kewajiban beragama inilah yang harus kita laksanakan selama Masa Pra-paskah 40 hari ini. Ada hubungan yang erat di antara ketiga kewajiban beragama yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu berderma, berdoa dan berpuasa. Pertama-tama, berpantang dan berpuasa berkaitan erat dengan berderma. Berpantang dan berpuasa memiliki dimensi personal dan sosial. Artinya, berpantang dan berpuasa itu bermanfaat bagi diri kita sendiri dan juga bagi sesama. Dengan berpantang dan berpuasa, kita dapat melatih diri kita dalam hal pengendalian diri, mengekang segala hawa nafsu duniawi, dan semakin berkembang dalam keutamaan pengendalian diri dan kemurnian hati. Selain itu, berpantang dan berpuasa juga berdimensi sosial. Dengan mengurangi makanan dan tidak menikmati makanan yang mewah, kita dapat menyisihkan uang kita untuk membantu sesama, melalui derma dan berbagai bentuk bantuan sosial yang kita berikan kepada sesama. 

                Kedua, berpantang, berpuasa, dan berderma berkaitan erat dengan berdoa. Di sini jelas, jika kita berpedoman pada prinsip, bahwa iman harus disertai dengan perbuatan. Kita bisa berdoa karena kita memiliki iman. Namun, iman itu juga harus diwujudnyatakan lewat tindakan dan perbuatan kita sehari-hari. Berpantang, berpuasa, dan berderma menjadi wujudnyata dari iman kita. Kita bisa berdoa dan memohon sesuatu yang baik dari Tuhan, namun kita juga harus bisa melaksanakan apa yang kita doakan itu dalam kehidupan kita sehari-hari, yakni bekerja sama dengan Tuhan dalam melakukan segala perbuatan baik bagi sesama. 

              Saudara-saudari terkasih, marilah kita awali Masa Prapaskah ini dengan semangat tobat. Kita akan memulai Masa Prapaskah ini dengan menerima abu di dahi  sebagai tanda penyesalan atas segala dosa kita, dan sebagai tanda pertobatan, bahwa kita ingin bertobat, kita ingin merubah diri kita menjadi yang lebih baik lagi sesuai dengan perintah Tuhan. Marilah kita mohon bantuan rahmat Allah, agar tanda ini tidak hanya melekat di dahi kita saja, tetapi sungguh-sungguh membekas di dalam hati kita, sehingga kita dapat sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Injil. 

Share:

Sunday, 3 March 2019

Misa Pisah Sambut Pastor Vinsensius, Pr dan Pastor Suprianus Nong, Pr

www.tatakatolik.com - Setelah berkarya kurang lebih 9 bulan terhitung dari tanggal 24 Juni 2018 saat misa perdana di Paroki Kristus Raja Sosok, akhir nya pada tanggal 03 Maret 2019 diadakan Misa Pisah dengan Pastor Vinsensius,Pr yang akan melanjutkan karya pelayananannya di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Katedral Sanggau, dan pada hari yang sama diadakan penyambutan Pastor Suprianus Nong,Pr yang awalnya bertugas sebagai Pastor Kepala di Gereja Hati Kudus Yesus Paroki Batang Tarang. Dalam misa penuh syukur itu hadiri oleh empat orang imam yakni Pastor John Eddi,Pr selaku pastor kepala Paroki Kristus Raja Sosok, Pastor Fidelis Siagian,Pr yang selama ini aktif membina iman Orang Muda Katolik (OMK), Pastor Vinsensius,Pr yang selama ini aktif membina putra-putri altar (Misdinar) dan penggagas katekese baik tata perayaan liturgi maupun hal-hal lain yang masih berkenaan dengan perayaan liturgi  dalam gereja Katolik serta Pastor Suprianus Nong,Pr yang selama ini sebagai gembala dan Pastor Kepala di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Paroki Batang Tarang.
Dari Kiri : P.Vinsensiur,Pr - P.John Eddi,Pr - P.Suprianus Nong,Pr - P.Fidelis Siagian,Pr
Setelah rangkaian misa diadakan pula kegiatan ramah-tamah di aula Paroki Kristus Raja Sosok, yang mana dalam kegiatan tersebut disampaikan beberapa kata sambuatan sebagai penyampaian kesan dan pesan oleh Ketua WKRI, Ketua DPP, Pastor Kepala Paroki, Pastor Vinsensius, Pr dan Pastor Suprianus Nong,Pr.

Ketua WKRI DPC Kristus Raja Sosok (Ibu Albina Nilus)

Ketua DPP Kristus Raja Sosok (Bpk.Erik,Spr)

Jika saat ini anda menggunakan ponsel?, silahkan coba klik VIEW WEB VERSION pada bagian paling bawah, untuk melihat tampilan lengkap
Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive