BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Friday, 24 January 2020

KATEKESE IMLEK


PEDOMAN INKULTURASI




Misa imlek merupakan bagian dari inkulturasi dalam liturgi. Maka perlu kiranya kita mengetahui pedoman utama dalam inkulturasi liturgi, sehingga tidak melanggar dasar-dasar liturgi, yang merupakan ibadat  ilahi yang penting dalam kehidupan iman kita. Berikut beberapa penyesuaian yang dapat dilakukan dalam melaksanakan inkulturasi:

(1)     Bahasa harus selalu menyatakan kebenaran iman, keagungan dan kesucian misteri yang dirayakan. Maka harus hati-hati menentukan unsur-unsur mana dalam bahasa umat yang layak dimasukkan ke dalam perayaan liturgi; harus dipertimbangkan cocok tidaknya menggunakan ungkapan-ungkapan dari agama-agama bukan Kristen.

(2)     Nyanyian harus bernafaskan Alkitab dan liturgi, serta memiliki mutu sastra yang indah. Bentuk musik, lagu, dan alat-alat musik dapat digunakan dalam ibadat, asal cocok dan sesuai dengan liturgi, keagungan gedung gereja, dan sungguh-sungguh membantu memantapkan penghayatan umat beriman.

(3)     Tatagerak dan sikap badan sedapat mungkin ada hubungannya dengan tata gerak dan sikap badan dari Alkitab. Segala bentuk tarian tradisional harus mengungkapkan sembah sujud, pujian, persembahan, permohonan seluruh umat, dan bukan sekedar pertunjukan belaka.

(4)     Kesenian berkaitan dengan dekorasi altar, busana, dan warna liturgi diberi kebebasan untuk mengungkapkan keindahannya, sejauh kesenian itu meningkatkan keindahan bangunan dan tata perayaan liturgi dengan memberinya penghargaan dan penghormatan sebagaimana mestinya.





Bdk. De Liturgia Romana et Inculturatione, art. 38-45.


RD. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau



Share:

Monday, 23 December 2019

MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG


Malam Natal: 
(24 Desember 2019)

Oleh: P. Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, pada malam yang kudus ini kita ingin menghadirkan kembali saat ini peristiwa yang terjadi 2.000 tahun yang lalu. Peristiwa keselamatan Allah yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya kita rayakan pada hari ini. Perayaan yang agung dan mulia ini bukan sekedar mengenang kembali peristiwa yang terjadi di masa lampau, tetapi kita juga ingin mengambil bagian dan ikut terlibat dalam karya keselamatan Allah yang telah dimulai oleh Yesus Kristus di dalam kehidupan kita saat ini. Maka, marilah kita merenungkan sejenak makna dari peristiwa Natal bagi kehidupan kita pada zaman sekarang ini.

Bila kita melihat di dalam kandang Natal, ada tiga hal yang diperlambangkan. Di sini, kita bisa melihat sosok Bayi Yesus, Bunda Maria dan St. Yosef, yang berada di dalam kandang yang hina. Yesus, Maria, Yosef, dan kandang hina ini melambangkan kelemahan, kemurnian dan ketaatan, serta kemiskinan.

Pertama, kelemahan itu tampak dalam diri Bayi Yesus. Allah yang Mahakuasa mau hadir ke dunia, menjelma menjadi manusia dalam diri bayi yang lemah. Hal ini bertentangan dengan arus duniawi yang identik dengan kekuasaan, kekuatan, dan kekerasan.

Kedua, kemurnian dan ketaatan tampak dalam diri St. Perawan Maria dan St. Yosef, yang dengan ketulusan hati, kesucian diri, dan ketaatan yang total menerima rencana keselamatan Allah, dan mau bekerja sama dengan Allah dalam mewujudkan karya keselamatan itu di dalam dunia. Nilai ini bertentangan dengan sikap manusia yang cenderung kepada dosa, menolak kehendak dan perintah Allah, serta tetap berkeras hati untuk hidup di dalam dosa dan kejahatan.  

Ketiga, kemiskinan ditampakkan kepada kita melalui kandang yang hina. Tuhan Yesus tidak lahir di istana raja, tetapi di kandang yang hina, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Hal ini bertentangan dengan kemegahan dunia, yang lebih mengutamakan kekayaan dan harta duniawi, daripada keselamatan jiwa.

Dari ketiga tanda yang diberikan kepada kita melalui kandang Natal, kita semua diajak untuk pertama-tama menjaga kemurnian hati, jiwa dan raga kita. Seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, bahwa “bangsa yang berjalan dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar”, maka kita juga harus meninggalkan kegelapan dosa dan kejahatan yang menghalangi kita untuk berjumpa dengan Yesus, Sang Terang sejati, dan memelihara kesucian hidup kita, agar Yesus sudi lahir di dalam hati kita.

Tanpa pertobatan dan perubahan hidup menjadi yang lebih baik lagi, maka Natal tidak akan bermakna sama sekali bagi hidup kita. Oleh karena itu, pesan Rasul Paulus dalam Bacaan kedua tadi dapat menjadi pedoman bagi kita, yaitu “agar kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan dunaiwi, dan agar kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah, di dalam dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia.

Kedua, kita semua dipanggil untuk menemukan Yesus di dalam diri saudara-saudari kita yang miskin, lemah dan tersingkir, sebab Yesus telah mengalami sendiri semua penderitaan yang mereka alami. Bahkan, Yesus mau hadir di dalam diri mereka, sehingga apa yang kita perbuat bagi orang-orang yang miskin, lemah, dan tersingkir ini, kita lakukan juga bagi Yesus. Itulah kado Natal yang terindah bagi Yesus, jika kita mau peduli dengan sesama kita dan menjadi sahabat bagi semua orang, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras dan bangsa.



"Selamat Hari Raya Natal,
Jadilah Sahabat Bagi Semua Orang"



Share:

Saturday, 21 December 2019

FAJAR SUDAH MULAI MENYINGSING

Hari Minggu Adven IV: 
22 Desember 2019

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, Injil yang kita dengarkan hari ini memberikan pendasaran bagi perayaan Natal yang akan kita rayakan nanti pada tanggal 25 Desember. Secara liturgi Minggu Adven IV ini merupakan masa persiapan yang paling dekat pada hari raya kelahiran Tuhan. Secara kalender masehi juga sudah tinggal 2 hari lagi kita akan merayakan Hari Raya Natal. Suasana Natal sudah terasa, dengan dekorasi-dekorasi, lagu-lagu Natal, latihan-latihan koor, dan persiapan-persiapan lainnya dalam rangka memeriahkan Natal.

Hari Raya Natal memang perayaan yang agung dan mulia, maka kita harus mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya, entah itu yang sifatnya fisik maupun rohani. Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk merenungkan secara lebih mendalam dasar dari perayaan Natal. Mengapa kita harus merayakan Natal? Apa yang terjadi pada waktu Natal? Dan apa peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya?

Pada hari raya Natal nanti kita akan merayakan Hari Kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus. Kelahiran Yesus ini telah diramalkan berabad-abad sebelum kelahiran Yesus. Seperti yang kita dengarkan dalam Bacaan I, Nabi Yesaya telah bernubuat bahwa: “Seorang wanita muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia, “Immanuel”, yang artinya Tuhan beserta kita.
Nubuat Yesaya ini tergenapi dalam diri Yesus, yang dilahirkan oleh Perawan Maria. Kisah sebelum kelahiran Yesus ini sudah kita dengarkan dalam Bacaan Injil tadi, bahwa Maria yang telah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, kini telah mengandung dari Roh Kudus. Awalnya Yusuf tidak memahami karya Allah ini, yang terjadi di dalam diri Maria, maka ia ingin menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi rencana Allah. Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf di dalam mimpi, dan memberikan perintah, agar ia mengambil Maria sebagai isterinya, karena anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus. Dan bahkan nama Yesus sudah disebut sebelum Ia dilahirkan dan tujuan dari kelahiran-Nya pun sudah disebutkan, bahwa Ia akan menyelamatkan manusia dari segala dosa. Berkat pewartaan dari Malaikat ini, Yusuf pun akhirnya taat kepada perintah dan rencana karya keselamatan Allah. Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya.

Ketaatan kepada rencana dan kehendak Allah seperti Yusuf inilah yang harus kita teladani. Walaupun secara akal manusia, kita tidak memahami rencana Allah dalam hidup kita, tetapi jika kita percaya sepenuhnya kepada Allah, dan mau taat kepada semua perintah-Nya, maka kita akan mengalami karya keselamatan Allah dalam hidup kita. Jika kita taat kepada perintah Tuhan, maka Perayaan Natal akan menjadi lebih bermakna bagi hidup kita. Kita bukan sekedar mengenang kembali karya Keselamatan Allah yang terjadi di masa lampau, tetapi mengalami sendiri karya keselamatan itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Selamat menyongsong Hari Raya Natal. 
Fajar Sudah Mulai Menyingsing…”













Share:

Saturday, 14 December 2019

Pertemuan DPP, Ketua Kring dan Pemimpin Umat Separoki Kristus Raja Sosok

tatakatolik.com - Diadakan Pertemuan DPP, Ketua Kring dan Pemimpin Umat Separoki Kristus Raja Sosok (14/12/2019), Kegiatan yang diikuti oleh 61 peserta  tersebut dibuka secara Resmi oleh Pastor Kepala Paroki yakni Pastor John Eddi,Pr kegiatan tersebut di selenggarakan dalam 4 Sesi yakni : 


  1. Penyampaian materi dan refleksi oleh P.Fidelis Siagian,Pr yang mengangkat Thema “Kamu Adalah Sahabat Ku"
  2. Laporan kegiatan  pemimpin Umat 2019 dan rencana kegiatan tahun 2020.
  3. Penyampaian dari Pastor Kepala Paroki yang berkenaan dengan Administrasi Paroki dan Info tentang pembangunan fisik.
  4. Info kegiatan Dewan Pastoral Paroki mengenai program kerja yang sudah terealisasi pada tahun 2019. 
Foto Bersama Pastor, Pengurus DPP, Ketua dan Ketua Umat Separoki Kristus Raja Sosok


Dalam pertemuan tersebut di dapat beberapa catatan inti yang sekaligus PR untuk program kerja DPP tahun 2020 yakni :
  1. Akan diprogramkan Baksos ke Stasi KedungunMengadakan pembekalan pembina Sekolah Minggu
  2. Stasi Tonggong meminta diadakan pembekalan Pemimpin Umat dan sosialisasi TPE
  3. Akan diadakan Ziarah rohani pemimpin umat yang recananya akan dilaksanakan 31 Mei 2020
  4. Kunjungan DPP ke stasi-stasi 

Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan tersebut.

















































Doc.Hermanus Tatah,SE
Share:

KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN


Hari Minggu Adven III: 
15 Desember 2019
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan kita sehari-hari, ada dua hal yang saling terkait satu sama lain, yaitu: kegembiraan dan harapan. Seseorang bergembira, karena ia memiliki harapan yang baik. Entah itu di dalam pekerjaannya, di dalam pendidikannya, atau pun di bidang-bidang lainnya. Memang harapan yang baik akan membawa kegembiraan, terlebih lagi jika harapan itu sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan, dan bukan sekedar harapan palsu.

Harapan yang menggembirakan inilah yang diwartakan di dalam Bacaan-bacaan suci hari ini. Harapan umat Israel diungkapkan di dalam Bacaan pertama. Nabi Yesaya bernubuat tentang kegembiraan yang akan terjadi pada bangsa Israel, yang pada waktu itu masih di dalam pembuangan di Babel. Yesaya memberikan harapan kepada mereka, bahwa Allah akan memberikan kepada mereka suatu tanah terjanji yang subur dan indah. Hal itu akan terjadi pada saat Tuhan datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Tanda-tanda dari keselamatan itu adalah penyembuhan atas orang-orang yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.

Harapan yang kegembiraan itu tergenapi di dalam diri Yesus Kristus, sebagaimana yang diwartakan di dalam Bacaan Injil tadi. Memang dari pertanyaannya Yohanes Pembaptis terkesan, bahwa ia ragu akan kemesiasan Yesus. Namun, karena pertanyaan inilah, akhirnya Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias yang telah dinanti-nantikan oleh umat manusia. Penggenapan janji Allah di dalam diri Yesus bukan saja tampak dari perkataan dan pengajaran-Nya yang penuh kuasa, tetapi juga dari perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Seperti yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, demikianlah yang dilakukan oleh Yesus: orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang bisu berbicara, orang lumpuh berjalan, dan bahkan orang mati dibangkitkan, dan kepada yang miskin diberitakan kabar baik. Semua yang dilakukan oleh Yesus ini menjadi bukti nyata, bahwa Dialah Mesias yang diutus oleh Allah, dan yang telah dinanti-nantikan oleh bangsa Israel selama beribu-ribu abad. Kedatangan Yesus ke dunia sungguh-sungguh memenuhi harapan umat manusia, yang merindukan keselamatan yang berasal dari Allah.

Saudara-saudari terkasih, harapan dan kegembiraan yang diwartakan oleh para nabi dan digenapi oleh Yesus tentu saja tidak hanya berhenti di masa lampu. Harapan dan kegembiraan yang sama juga diwartakan kepada kita yang hidup di zaman sekarang ini. Selama Masa Adven ini kita menantikan dengan penuh harapan Perayaan Kelahiran Sang Juruselamat kita, Yesus Kristus. Kita semua diajak untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk merayakan Peristiwa yang begitu agung ini.

Pertobatan menjadi pintu utama untuk dapat mempersiapkan diri dalam menyambut perayaan kelahiran Yesus Kristus. Maka, marilah kita berusaha untuk bertobat, mengubah hati dan perbuatan kita dari yang buruk dan jahat menjadi yang baik dan benar, serta berkenan kepada Allah. Pertobatan yang sejati harus dimulai dengan menerima Sakramen Tobat atau Pengakuan dosa. Maka, marilah di Masa Adven ini kita membersihkan diri kita dari segala dosa dan membangun sikap tobat yang layak dan pantas, agar Perayaan Natal yang akan kita rayakan nanti sungguh-sungguh bermakna bagi kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita hening sejenak untuk merenungkan sabda Tuhan.








Share:

Saturday, 7 December 2019

DATANGLAH KERAJAAN-MU


Hari Minggu Adven II: 
(8 Desember 2019)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita telah memasuki Minggu Adven yang kedua. Secara liturgis, Minggu Adven II ini masih dalam lingkaran Adven Eskatologis. Artinya, Penantian akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya pada akhir zaman. Dalam bacaan-bacaan suci yang telah kita dengarkan tadi, Nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptisan sama-sama mewartakan tentang kedatangan Kerajaan Allah.

Memang dalam konteks hidup St. Yohanes Pembaptis, ia mewartakan tentang kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini. Namun, pewartaan Yohanes Pembaptis tidak hanya berlaku untuk zaman dahulu saja, yakni saat kedatangan Yesus yang pertama kali ke dunia ini, tetapi berlaku juga untuk zaman kita saat ini, yaitu dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya pada akhir zaman. Inti dari pewartaan Yohanes Pembaptis adalah PERTOBATAN dan Kedatangan Kerajaan Allah. Kita semua diajak untuk bertobat, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!

Sebenarnya Kerajaan Allah itu sudah, sedang, dan akan datang ke dunia ini. Apa maksudnya? Ada tiga hal yang dapat kita renungkan tentang kedatangan Kerajaan Allah. Pertama, Kerajaan Allah itu sudah datang ke dunia 2.000 tahun yang lalu sejak kelahiran Yesus. Inti dari pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah. Namun, Yesus tidak hanya mewartakan Kerajaan Allah di dunia ini, tetapi Ia juga menghadirkan Kerajaan Allah di atas muka bumi.

Kedua, Kerajaan Allah sedang datang ke dunia ini. Artinya, kita semua diutus oleh Tuhan untuk membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Kerajaan Allah adalah kerajaan damai, cinta kasih, pengampunan, dan kebaikan, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Bacaan pertama tadi. Jika kita mampu menciptakan perdamaian, cinta kasih, pengampunan, kebaikan, dan semua ajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus, maka kita sudah menjadi warga Kerajaan Allah dan sudah turut berpartisipasi dalam membangun Kerajaan Allah di dunia ini.

Ketiga, Kerajaan Allah akan datang ke dunia ini. Artinya, kepenuhan yang sempurna dari Kerajaan Allah akan datang dan terwujud pada akhir zaman, pada saat kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini. Inilah yang menjadi misteri iman kita. Kita tidak tahu kapan saatnya Yesus akan datang kembali ke dunia ini untuk menghakimi orang yang hidup dan yang sudah mati. Tetapi kita percaya dengan iman dan dengan penuh harapan, bahwa Yesus akan datang kembali ke dunia ini pada akhir zaman. Inilah yang disebut dengan pengadilan terakhir, yaitu: pemisahan total dan definitif antara orang baik dan orang jahat. Seperti yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis, bahwa “alat penampi sudah ada di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” Seperti itulah pemisahan antara orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat pada akhir zaman. Orang yang baik akan diselamatkan oleh Tuhan, sedangkan orang yang jahat akan dibinasakan selama-lamanya!

Saudara-saudari yang terkasih, pewartaan Injil pada hari ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti kita, atau mengancam kita dengan pengadilan terakhir, tetapi pertama-tama bertujuan agar kita bertobat. Pertobatan menjadi langkah awal untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, agar dapat menjadi warga Kerajaan Allah yang sejati. Tanpa pertobatan, maka pewartaan Kerajaan Allah akan sia-sia belaka. Maka, marilah pada Masa Adven ini, seraya menantikan dengan rindu kedatangan Tuhan pada akhir zaman, kita berusaha untuk bertobat dan mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Mari kita merubah sikap dan perbuatan kita, dari yang buruk dan jahat, menjadi yang baik dan berkenan kepada Allah. Hanya itu satu-satunya jalan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah dan satu-satunya cara untuk membangun Kerajaan Allah di dunia ini.

Sakramen Tobat menjadi “kendaraan” untuk dapat sampai kepada Pertobatan yang sejati. Sarana ini sudah diberikan Allah kepada kita dengan cuma-cuma, agar kita selamat di dunia dan di akhirat nanti. Maka, marilah kita mempergunakan sarana ini sebaik-baiknya. Marilah kita menerima Sakramen Tobat pada Masa Adven ini, agar kita dapat sungguh-sungguh bertobat dan menjadi warga Kerajaan Allah yang sejati.







Share:

Thursday, 28 November 2019

SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN


Hari Minggu Adven I: 
(1 Desember 2019)
Bac: Yes.2:1-5; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kedatangan Tuhan yang kedua kali ke dunia ini merupakan bagian dari iman kita. Kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan Yesus akan datang lagi untuk kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman. Kepercayaan ini kita ungkapkan dalam Syahadat para rasul: “dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati.” Dari situ, artinya dari Surga, Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia, untuk mengadili orang yang hidup dan yang sudah mati. Itulah yang disebut dengan pengadilan terakhir pada akhir zaman.

Bagi kita orang beriman, kedatangan Tuhan ini bukanlah sesuatu yang menakutkan, seperti yang kita bayangkan jika mendengar kata kiamat! Tetapi kedatangan Tuhan ini selalu kita rindukan dan nantikan dengan penuh harapan, seperti yang kita ungkapkan dalam Anamnesis: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan”.

Injil yang kita dengarkan pada hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan makna kedatangan Tuhan ini dalam hidup kita saat ini. Memang kedatangan Tuhan tetap menjadi misteri bagi kita. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang lagi ke dunia ini? Kapan itu akhir zaman? Tuhan Yesus mengumpamakan kedatangan Tuhan ini seperti seorang pencuri yang akan datang pada malam hari. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan pencuri akan datang. Demikian pula kedatangan Tuhan yang kedua kalinya ke dunia ini, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu kapan waktunya? Di sinilah letak dari misteri kedatangan Tuhan, bila kita berbicara tentang waktu.

Namun, di balik misteri kedatangan Tuhan ini, ada pesan yang ingin disampaikan oleh Yesus, yaitu berkaitan dengan cara hidup kita dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini. Tuhan Yesus membandingkan kedatangan-Nya pada akhir zaman, seperti kedatangan air bah yang membinasakan sekaligus menyelamatkan. Hanya orang-orang yang percaya kepada Allah, seperti Nuh dan keluarganya yang diselamatkan oleh Tuhan dari bencana air bah. Sedangkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dibinasakan oleh air bah ini. Demikian pula, pada akhir zaman, orang baik akan dipisahkan dari orang jahat. Orang jahat akan dibinasakan, sedangkan orang baik akan diselamatkan oleh Tuhan. Maka dari itu, sikap yang perlu kita bangun dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini adalah berjaga-jaga dan berdoa.

Sikap berjaga-jaga ini diserukan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Kita harus berjaga-jaga dengan cara “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.” Dengan menjauhi segala kejahatan dan melakukan kebaikan, kita telah mengamalkan sikap berjaga-jaga sesuai dengan yang Yesus ajarkan kepada kita.

Maka, marilah pada Masa Adven I ini kita membangun sikap tobat, agar kita dapat mempersiapkan diri, bukan saja merayakan kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini dalam Perayaan Meriah Natal, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman. Marilah kita bertekun dalam doa, memperbanyak waktu doa, dan semakin serius dalam berdoa. Doa hendaknya bukan saja menjadi rutinitas dan kewajiban belaka, tetapi harus menjadi kebutuhan bagi jiwa kita, perjumpaan yang intim dengan Tuhan sendiri, agar kita mendapatkan rahmat kekuatan dari Tuhan untuk dapat berjaga-jaga dalam melakukan segala kebaikan sesuai dengan kehendak Tuhan.  















Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive