BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Friday, 11 September 2020

DENDAM DAN PENGAMPUNAN

 (Hari Minggu Biasa XXIV: 

13 September 2020)




Saudara-saudari terkasih, selama dua minggu ini, kita merenungkan dalam Bacaan-bacaan suci tentang bagaimana kita harus membangun relasi yang baik dengan sesama. Minggu lalu kita sudah merenungkan tentang teguran yang harus kita berikan kepada sesama yang bersalah. Minggu ini kita merenungkan tentang pengampunan yang harus kita berikan juga kepada sesama yang bersalah kepada kita.

 

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyaknya tindakan kejahatan, seperti pembunuhan, permusuhan, atau juga kehancuran dalam rumah tangga, terjadi karena tidak ada pengampunan. Yang ada hanya balas dendam dan amarah. Seseorang yang sudah dikuasai oleh dendam dan amarah akan melakukan berbagai tindakan yang jahat untuk melampiaskan kemarahannya dan membalas dendamnya terhadap sesama.

 

Dalam Bacaan Pertama, Putra Sirakh mempertentangkan pengampunan dengan dendam dan amarah. Dendam dan amarah dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, dan hanya orang berdosa yang dikuasai oleh dendam dan amarah ini. Bahaya dari dendam dan amarah ini bukan saja terjadi pada sesama, yang dimusuhi, tetapi juga terhadap diri orang yang membalas dendam dan amarah tersebut. Dengan tegas Putra Sirakh menyatakan, bahwa “Siapa saja yang membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan”. Maka dari itu, pentinglah pengampunan. Kita harus mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, agar Tuhan juga mau mengampuni segala dosa-dosa kita.

 

Dalam Bacaan Injil, Tuhan Yesus dengan jelas menjawab pertanyaan dari Rasul Petrus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali kah?” Namun, Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.” Sabda Tuhan ini jangan kita artikan secara matematis! Memang secara harafiah, 70x7=490, dan itu masih bisa dihitung dan bersifat terbatas. Akan tetapi, yang dimaksud oleh Yesus melalui perkataan ini adalah pengampunan yang tak terbatas, tak terhitung jumlahnya, dan tetap berlaku sampai selama-lamanya.

 

Perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang membayar hutang dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya pengampunan ini. Jika kita tidak mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, kita akan bersikap seperti hamba yang tidak tahu berterima kasih. Dia telah diampuni oleh tuannya dan dihapus segala hutangnya, tetapi dia tidak mau mengampuni sesamanya yang berhutang kepadanya. Maka, tuannya itu menjadi murka dan memberikan hukuman kepadanya, karena sikapnya yang tidak berbelas kasih kepada sesamanya.

 

Marilah kita senantiasa mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, dengan segenap hati, dan bukan hanya setengah-setengah atau dengan rasa terpaksa. Dengan pengampunan, kita bisa menghindari sikap balas dendam dan amarah. Dengan mengampuni sesama, maka kita juga akan diampuni oleh Allah yang berbelas kasih. Maka, hendaklah kita berbelas kasih kepada sesama, dan mau mengampuni sesama, seperti Allah sendiri berbelas kasih kepada kita dan mau mengampuni semua dosa kita.

 

Penulis:  

R.D. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Friday, 4 September 2020

MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS IMAN DAN IDENTITAS

 Hari Minggu Biasa XXIII: 

(6 September 2020)




Pada bulan September ini Gereja Katolik Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional. Tema yang diangkat adalah: “Mewartakan kabar baik di tengah krisis iman dan identitas.Memang ada banyak krisis di zaman sekarang ini, apalagi di masa pandemi covid-19 ini. Namun, dengan tema ini kita mau berfokus pada dua jenis krisis ini, yaitu iman dan identitas. Kedua krisis ini saling berkaitan satu sama lain. Krisis iman bisa saja disebabkan oleh krisis identitas, demikian pula sebaliknya. Maka, sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk menemukan kembali identitas kita sebagai murid-murid Kristus, agar iman kita tidak mengalami krisis.

 

Dalam Bacaan Kedua Rasul Paulus dengan jelas mengungkapkan identitas kita sebagai murid Kristus. Ia mengatakan, “…segala firman lain mana pun juga sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Cinta kasih menjadi identitas kita sebagai murid Kristus, karena cinta kasih merupakan hukum yang paling pertama dan utama, yang diajarkan oleh Yesus kepada kita. Segala sesuatu yang kita lakukan harus bersumber pada cinta kasih, dilakukan karena cinta kasih, dan demi cinta kasih, baik kepada Allah maupun kepada sesama.

 

Sebenarnya cinta kasih itu sudah diajarkan oleh Allah sejak dahulu kala, baik dalam kesepuluh perintah Allah, maupun dalam setiap sabda-Nya yang disampaikan melalui para nabi. Dalam Bacaan Pertama tadi, Allah bersabda kepada Nabi Yehezkiel, supaya ia menegur umat Israel yang berbuat jahat. Entah mereka mau mendengarkan atau tidak, yang penting dia harus menegur mereka yang berbuat jahat, karena jika dia tidak menegurnya, dan orang itu tetap berbuat jahat, maka ia harus menanggung akibat dari kejahatannya. Tetapi jika ia sudah menegur mereka, dan walaupun mereka tetap berbuat jahat, dia tidak akan menanggung akibat dari kejahatan itu.

 

Melalui firman ini Allah menghendaki agar kita peduli dengan sesama kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk menegur sesama kita yang berbuat salah, yang melakukan dosa dan kejahatan. Seringkali kita tidak mau menegur sesama, karena mungkin merasa tidak enak, sungkan, takut, atau berpikiran ‘ah... nanti dia juga tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan... lebih baik diam saja… sama saja ditegur atau tidak ditegur…’ Kita cenderung berorientasi hanya pada hasil dan keberhasilan, tetapi mengabaikan proses. Teguran yang kita berikan kepada sesama menjadi proses batiniah baginya untuk bertobat. Jika kita tidak mau menegur sesama dan membiarkan mereka tetap berbuat kejahatan dan dosa, maka kita juga telah berbuat dosa, yaitu dosa ketidak-pedulian dan dosa kelalaian terhadap sesama.

 

Mengenai teguran ini, Tuhan Yesus memberikan tips kepada kita, bagaimana cara menegur yang baik dalam Bacaan Injil tadi. Pertama-tama teguran itu bersifat pribadi: menegur di bawah 4 mata. Artinya bicarakan masalah itu secara pribadi dengan orang yang melakukan kesalahan. Jika ia masih tidak mau mendengarkan teguran yang bersifat pribadi itu, maka bawalah 2 atau 3 orang supaya membantu kita untuk menegurnya. Jika dia masih tidak mau mendengarkan teguran itu, maka bawalah perkaranya itu dalam komunitas. Mungkin dengan kehadiran banyak orang dan dukungan komunitas, orang itu bisa bertobat. Artinya, teguran itu memiliki tahapannya tersendiri, mulai dari yang bersifat pribadi/ personal, lalu komuintas kecil sampai pada komunitas besar. Semua orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk peduli kepada sesamanya yang telah berbuat salah. Inilah bentuk konkret dari cinta kasih kepada sesama, yang menjadi identitas kita sebagai murid-murid Kristus.

 

Semoga perayaan Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini semakin menyemangati kita untuk tetap tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang menjadi sumber dari iman dan idenitas kita. St. Hieronimus mengatakan, “Tidak mengenal Kitab Suci sama saja dengan tidak mengenal Kristus!” Maka kita harus mengenal lebih dalam Kitab Suci dengan rajin membacanya secara pribadi setiap hari dan merenungkannya di dalam doa, agar sabda Tuhan itu dapat bertumbuh dan berbuah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan hidup kita sehari-hari, sehingga dengan demikian kita dapat mewartakan kabar baik di tengah krisis iman dan identitas zaman sekarang ini.

 

“Selamat merayakan Bulan Kitab Suci Nasional.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.”

 




R.D. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

Share:

Friday, 14 August 2020

MARIA DIANGKAT KE SURGA

 (16 Agustus 2020)

 


Akhirnya Perawan Tak Bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga berserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut. Terangkatnya Perawan Suci adalah satu keikutsertaannya yang istimewa pada kebangkitan Putranya, dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.” (KGK. 966).

 

Ada beberapa point yang dapat kita renungkan dari kutipan Katekismus Gereja Katolik di atas:


1.    Apakah Bunda Maria meninggal dunia?

        Sama seperti Yesus dan manusia yang lainnya, Maria juga mengalami kematian. Dikatakan dalam KGK, bahwa “sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia”. Kematian adalah akhir dari perjalanan hidup di dunia secara normal. Namun, kematian bukan akhir dari segala-gala, karena kematian membuka tabir kehidupan yang baru, yaitu kehidupan kekal di surga.


2.    Apa maksudnya Maria diangkat ke surga?

        “Sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, [Bunda Maria] telah diangkat memasuki kemuliaan di surga berserta badan dan jiwanya.” Sama seperti Yesus, Maria juga mengalami kebangkitan badan setelah kematiannya. Maka, sama seperti Yesus juga Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya.


3.    Mengapa Maria diangkat ke surga?

        “[Maria] telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut.” Jika Yesus adalah Raja semesta alam, maka Bundanya Maria adalah Ratu alam semesta. Maria diangkat ke surga supaya ia lebih penuh menyerupai Putranya, Yesus Kristus. Bukan hanya di dunia saja Bunda Maria menyerupai Putranya dalam segala hal (ketaatan iman, kerendahan hati, dll), tetapi juga di surga.


4.    Apa makna Maria diangkat ke surga bagi kita?

Pertama-tama, “terangkatnya Perawan Suci adalah satu keikutsertaannya yang istimewa pada kebangkitan Putranya”. Yesus sebagai buah sulung dari kebangkitan badan, maka Maria-lah manusia pertama yang mengalami kebangkitan badan itu setelah Yesus. RAHMAT ISTIMEWA ini diterima oleh Maria, karena jasanya melahirkan dan membesarkan Yesus, Putra Allah. Oleh karena itu, karena Bunda Maria telah mengalami kebangkitan badan, maka ia juga mengalami kehidupan kekal di surga. Dan itu tercapai melalui proses diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya.


Kedua, bagi kita peristiwa Maria diangkat ke surga adalah “satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.” Artinya, telah ditampakkan bagi kita, bahwa sebagaimana Yesus dan Bunda Maria mengalami kebangkitan badan dan kehidupan kekal di surga, kelak kita juga akan mengalami hal yang sama, yaitu pada akhir zaman. Pada akhir zaman, jiwa kita akan bersatu kembali dengan tubuh kita yang baru. Itulah peristiwa kebangkitan badan. Dan kita akan memasuki suatu dunia yang baru, setelah dunia yang lama ini, yang penuh dengan kejahatan dan dosa dihancurkan. Itulah peristiwa akhir zaman, yaitu pada saat kedatangan Yesus yang kedua kali ke dunia ini sebagai Raja untuk menghakimi orang yang hidup dan yang sudah mati.


5.    Apa yang harus kita lakukan sekarang?

        Pertama-tama, kita harus memiliki kerinduan akan Surga. Kita harus percaya, bahwa Surga itu lebih indah dari dunia. Dunia ini sifatnya sementara saja, sedangkan surga itu abadi dan kekal. Jika kita sudah punya kerinduan akan Surga, dan pemahaman yang benar tentang Surga ini, maka segala sikap hidup kita akan terarah kepada kerinduan ini, dan menyesuaikan diri agar kelak dapat menikmati kebahagiaan kekal, yang tak tergantikan ini.


        Kedua, doa menjadi sumber kekuatan kita, agar kerinduan ini tidak hilang dan tergantikan oleh sesuatu yang lain, yang duniawi dan fana. Maka, rajin-rajinlah berdoa bersama Bunda Maria, agar kelak kita juga diperkenankan untuk menikmati kehidupan kekal bersama dia dalam Kerajaan Surga.


        Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah sikap hidup kita. Kita harus melakukan apa yang kita imani dan kita doakan. Dengan demikian, kita bekerja sama dengan Allah untuk mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini. rahmat Allah dapat bekerja dengan efektif jika kita dengan segala kemampuan kita yang ada, mau bekerja sama dengan Allah, dengan cara hidup kita yang baik dan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Semoga Perayaan Santa Perawan Maria diangkat ke surga ini memberikan rahmat dan berkat bagi kita semua yang merayakannya. Amin.   


R.D. Vinsensius

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau



Share:

Saturday, 13 June 2020

HADIR UNTUK BERSATU

(Hari Raya Tubuh & Darah Kristus: 
14 Juni 2020)




Saudara-saudari, pada perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, kita ingin merenungkan tentang kehadiran Yesus yang nyata dalam Sakramen Ekaristi, dan manfaatnya bagi kehidupan iman kita. Dalam Bacaan pertama, kehadiran Kristus dalam rupa roti telah diantisipasi melalui peristiwa turunnya manna, roti yang diberikan Allah kepada orang Israel ketika mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Roti itu yang memberi hidup kepada mereka di tengah kelaparan. Namun, Allah tetap mengingatkan mereka, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Sabda yang diucapkan oleh Tuhan. (bdk. Ul. 8:3).

Sabda Tuhan inilah, yang dengan kuasa Roh Kudus, mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi (lih. KGK, 1375). Hal ini sesuai dengan sabda Yesus, dalam Bacaan Injil. Yesus telah menyebut diri-Nya: Roti Kehidupan, yang turun dari surga. Roti ini berbeda dengan manna yang dimakan oleh nenek moyang Israel di padang gurun, karena Roti ini adalah Daging-Nya sendiri yang akan diberikannya kepada manusia, agar mereka dapat memperoleh hidup yang kekal. Yesus bersabda: “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh. 6:54).

Saudara-saudari, dengan iman kita percaya akan Kehadiran Yesus yang nyata dalam Sakramen Mahakudus. Roti dan anggur yang kita terima dalam Ekaristi, bukan lagi roti dan anggur secara hakikatnya, karena melalui doa konsekrasi dari imam, terjadilah suatu perubahan seluruh substansi roti dan anggur ke dalam substansi Tubuh dan Darah Kristus. Perubahan inilah yang secara tepat disebut dengan perubahan hakiki/ kodrat [transsubstansi] (lih. KGK. 1376).

Memang secara manusiawi, kita masih melihat rupa roti dan anggur, dan kita masih merasakan rasa roti dan anggur. Secara inderawi kita tidak dapat menangkap kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur, karena keterbatasan inderawi kita. St. Thomas Aquinas mengatakan: “Bahwa, Tubuh dan Darah Kristus yang sebenarnya hadir dalam Sakramen ini, tidak dapat ditangkap oleh indera, tetapi hanya oleh IMAN, yang bersandar pada otoritas ilahi.” (KGK. 1381).

Maka, marilah kita senantiasa mengimani Kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Yesus hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur, agar kita yang menerima-Nya dalam keadaan layak, dapat juga secara nyata bersatu dengan Dia. Persatuan yang erat dengan Yesus menjadi buah pertama dari Komuni Kudus. (bdk. KGK. 1391)

Persatuan dengan Tubuh dan Darah Kristus juga berguna bagi kita untuk membangun kesatuan Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus (lih. KGK. 1396).  Sebagaimana yang kita dengarkan dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus menegaskan lebih lanjut tentang makna Ekaristi: “Karena roti itu hanya satu, maka kita ini, sekalipun banyak merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu.” (1Kor. 10:17).

Maka, marilah kita senantiasa membangun dan membawa persatuan dengan Yesus dan sesama, dan bukan perpecahan. Dengan persatuan yang sejati ini, maka kelak kita juga akan mengalami persatuan yang kekal dengan Allah dalam perjamuan abadi di surga. Amin.  

*KGK: Katekismus Gereja Katolik
*lih: lihat
*bdk: bandingkan


R.D. Vinsensius
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau




Share:

Saturday, 23 May 2020

HIDUP MENJADI CERITA YANG BAIK


(Hari Minggu Paskah VII: 
24 Mei 2020)




Saudara/i terkasih, pada Hari Komunikasi sedunia yang ke 54 ini, Bapa Suci Paus Fransiskus mengangkat tema: “HIDUP MENJADI CERITA”, dengan kutipan Kitab Suci, yang diambil dari Kitab Keluaran 10:2, yang berbunyi: “Supaya engkau dapat menceritakannya kepada anak cucumu.” Apa artinya “hidup menjadi cerita”? Dan apa yang harus kita ceritakan kepada generasi muda sesuai dengan sabda Tuhan ini?  

Dalam surat yang lumayan panjang, Bapa Suci sudah menjelaskan makna dari tema ini sesuai dengan konteks zaman sekarang. Kehidupan ini diibaratkan seperti orang yang menenun pakaian. Benang demi benang ditenun, dan benang yang baik akan menghasilkan pakaian yang baik. Demikian pula, dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menenun cerita. Hari demi hari, apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan, semuanya itu akan menjadi sebuah cerita tentang kita.  Kehidupan yang baik tentu saja akan menghasilkan cerita yang baik. Demikian pula sebaliknya, kehidupan yang buruk akan menghasilkan cerita yang buruk.

Cerita yang dimaksudkan oleh Paus di sini ialah CERITA YANG BAIK. Paus mengatakan, “Kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik, supaya tidak tersesat”. Pertanyaannya: Bagaimana caranya kita membuat cerita yang baik itu?

Sesuai dengan pesan Paus Fransiskus dan sabda Tuhan pada hari ini ada tiga cara yang harus kita lakukan, agar hidup kita dapat menjadi cerita yang baik:

Pertama, carilah sumber cerita yang baik dan benar. Pada zaman sekarang ini, banyak sumber cerita, berita, dan informasi di google, tetapi hanya sedikit yang benar. Jika tidak hati-hati dan selektif dalam membaca berita itu, kita bisa tertipu oleh cerita bohong, kabar hoax, dan cerita-cerita yang buruk lainnya.

Apa yang kita baca, itulah yang akan terkonsep di dalam pikiran kita, dan akhirnya mempengaruhi hidup kita. Semuanya itu akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita berbicara, dan cara kita bertindak. Paus Fransiskus mengatakan, bahwa Kitab Suci-lah cerita dari segala cerita yang baik, benar, dan indah, karena di dalamnya dikisahkan karya keselamatan Allah, melalui para nabi dan terutama melalui Putra-Nya sendiri, Tuhan kita Yesus Kristus. Maka, rajin-rajinlah membaca dan merenungkan Kitab Suci, agar kita dapat mengikuti teladan hidup yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kedua, lakukanlah kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, agar cerita yang kita hasilkan dan wariskan kepada generasi berikut adalah cerita yang baik dan benar. Dalam hal ini, Rasul Petrus mengingatkan kita dalam Bacaan Kedua, bahwa kita harus hidup sesuai dengan ajaran Kristus, menjadi orang Kristen yang sejati, walaupun harus mengalami penderitaan, karena iman kepada Kristus.

Lebih baik menderita karena kebenaran dan kebaikan, daripada menderita karena kejahatan. Penderitaan karena iman kepada Kristus akan menghasilkan sukacita yang sejati. Dan dengan demikian, kita akan menenun benang-benang kehidupan yang baik, yang kelak akan menghasilkan cerita yang baik pula.

Ketiga, berceritalah dengan Allah sesering mungkin. Artinya, kita harus berdoa dengan tekun. Berdoa sama dengan kita bercerita dengan Allah, menyampaikan keluh kesah kita kepada-Nya, memohon belas kasih dan pengampunan-Nya, dan jangan lupa juga berterimakasih kepada-Nya.

Jemaat perdana yang dipimpin oleh para rasul telah memberikan teladan yang baik bagi kita dalam hal berdoa. Dalam Bacaan Pertama, setelah Yesus naik ke surga, para rasul bersama Bunda Maria dan para murid yang lain berkumpul untuk berdoa setiap hari, menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus.

Inilah asal usul dari Doa Novena Roh Kudus yang telah kita mulai 2 hari yang lalu. Sesuai dengan teladan para rasul dan Bunda Maria, kita berdoa selama 9 hari berturut-turut, tanpa putus-putusnya, memohon karunia Roh Kudus. Jika kita sungguh-sungguh bertekun dalam Novena ini dan percaya, maka kita akan menerima karunia Roh Kudus yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti yang sudah dialami oleh para rasul dan Bunda Maria pada hari Pentakosta.

Maka, marilah saudara/i terkasih, kita senantiasa bertekun dalam DOA, bukan hanya pada saat Novena Roh Kudus saja, tetapi setiap hari di sepanjang hidup kita. Kita harus berdoa, seperti Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan Injil tadi.

Dalam berdoa Yesus tidak hanya berdoa untuk diri-Nya sendiri, tetapi juga berdoa untuk para murid-Nya, agar mereka memperoleh keselamatan di dunia dan di surga. Doa Yesus bersifat sosial.


Maka, doa kita juga haruslah bersifat sosial. Artinya, kita berdoa bukan saja untuk diri kita sendiri, tetapi juga berdoa untuk orang lain, terutama mereka yang saat ini sakit dan menderita akibat pandemi covid 19 ini. Marilah kita mohon pertolongan dari Allah, agar pandemi ini segera berakhir, sehingga kita dapat kembali menenun cerita yang baik dalam kehidupan kita sehari-hari, dan dapat mewariskannya kepada generasi muda.

RD. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau



Share:

Tuesday, 19 May 2020

Panduan Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan Katedral Sanggau

Berikut kami lampirkan Panduan Misa Live Streaming
Hari Raya Kenaikan Tuhan
Kami juga melampirkan Novena Roh Kudus

Mari Mengikuti Misa Live Streaming
di Fans Page Facebook "HATI KUDUS YESUS Sanggau". 
Kamis, 21 Mei 2020
Pukul 08.00 WIB
silahkan download pada link dibawah.
[[ Download disini ]]


Perlu Bantuan Cara Download
[[  Klik disini ]]

 
Share:

Friday, 15 May 2020

Panduan Misa Hari Minggu Paskah Ke VI Keuskupan Sanggau


Selamat merayakan hari Tuhan
Mari kita mengikuti Misa Hari Minggu Paskah VI secara Live Streaming
di Fans Page Facebook "HATI KUDUS YESUS Sanggau". Minggu 17 Mei 2020
Pukul 08.00 WIB
silahkan download pada link dibawah.
(Download Panduan di Sini)

atau
(Download Panduan  Disini )
Ada Iklan dan Anda Berdonasi


Share:

JANJI TUHAN BUKAN PHP


(Hari Minggu Paskah VI: 
17 Mei 2020)




Tentu saja kita sering berjanji kepada orang lain, atau bahkan berjanji kepada Tuhan. Tetapi sering juga kita mengingkari janji itu. Kita tidak menepati janji itu, tidak setia kepada janji itu, dan mengabaikan, dan bahkan dengan sengaja melanggarnya. Dalam bahasa zaman now tindakan ini disebut PHP (Pemberi harapan palsu). Inilah kelemahan dari manusia. Tidaklah demikian dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah PHP. Tuhan selalu setia dengan janji-Nya dan pasti menepati apa yang pernah dikatakan-Nya kepada manusia. Bacaan Suci hari ini menampakkan kepada kita janji Allah dan penggenapan-Nya dalam diri Yesus dan para rasul-Nya.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus berjanji kepada para rasul, bahwa Ia akan mengutus seorang Penolong lain, yaitu Roh Kebenaran, supaya menyertai mereka selama-lamanya. Sebentar lagi mereka tidak akan melihat Yesus secara fisik, sebab Ia akan wafat, bangkit, dan naik ke surga. Tetapi, Roh Kudus itulah yang akan menyertai para murid yang masih ada di dunia. Bagaimana syaratnya agar mereka dapat menerima Roh Kudus itu?

Sebelum Yesus mengucapkan janji ini, Ia memberikan perintah kepada para murid, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintahku.” Kasih kepada Yesus dan ketaatan kepada-Nya menjadi dua hal yang saling berkaitan satu sama lain, dan tak terpisahkan. Jika kita mengatakan “Aku cinta Yesus”, maka kita juga harus taat kepada Yesus, dengan melakukan semua perintah dan ajaran-Nya. Jika kita tidak taat kepada Yesus, maka cinta itu hanyalah gombalan belaka, cinta palsu yang hanya ada di bibir saja. Bukan cinta yang sejati. Cinta yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu ketaatan yang murni.

Kita harus memegang perintah Yesus dan melakukannya, jika kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Dengan demikian, kita akan dikasihi oleh Allah Bapa di surga dan Tuhan Yesus sendiri, dan Tuhan Yesus akan menyatakan diri-Nya kepada kita.

Pernyataan diri Yesus tampak nyata dalam pengalaman para rasul sebagaimana telah kita dengarkan dalam Bacaan Pertama. Diakon Filipus memperoleh keberhasilan dalam pewartaan Injil di Samaria. Banyak orang yang dibaptis dan percaya kepada Yesus. Sebenarnya, ini bukanlah tindakan Filipus sebagai manusia, tetapi karya keselamatan Yesus sendiri melalui perantaraan para murid-Nya. Demikian pula, mukjizat yang ia adakan dan pencurahan Roh Kudus yang diberikan lewat penumpangan tangan para rasul, semuanya itu dilakukan “dalam pribadi Kristus dan atas nama Kristus sendiri, demi kemuliaan Allah yang semakin besar” (in persona Christi, ad majorem Dei gloriam).

Maka, marilah kita senantiasa berpegang pada pengharapan yang Tuhan berikan kepada kita. Apalagi menjelang perayaan kenaikan Tuhan dan Pentakosta ini, kita berharap akan menerima karunia-karunia Roh Kudus yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita di hadapan semua orang, dengan cara hidup kita yang baik, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasul Petrus dalam Bacaan Kedua. Kita harus mewartakan Yesus dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya karena hidupmu yang saleh dalam Kristus menjadi kesaksian akan Kristus bagi semua orang.

RD. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau








Share:

Friday, 8 May 2020

Panduan Misa Live Streaming Minggu Ke V Keuskupan Sanggau


Selamat merayakan hari Tuhan
Mari kita mengikuti Misa Hari Minggu Paskah V secara Live Streaming
di Fans Page Facebook "HATI KUDUS YESUS Sanggau". Minggu 10 Mei 2020
Pukul 08.00 WIB
silahkan download pada link dibawah.
Share:

Friday, 1 May 2020

Panduan Misa Hari Minggu Paskah IV Keuskupan Sanggaau


Selamat merayakan hari Tuhan
Mari kita mengikuti Misa Hari Minggu Paskah IV secara Live Streaming
di Fans Page Facebook "HATI KUDUS YESUS Sanggau". Minggu 3 Mei 2020
Pukul 08.00 WIB
silahkan download pada link dibawah.
Share:

PANGGILAN MENJADI MURID YESUS:


DI TENGAH WABAH VIRUS CORONA
(Hari Minggu Paskah IV: 
Hari Minggu Panggilan, 
3 Mei 2020)




Saudara-saudari terkasih, berkat peristiwa Pentakosta, dengan pencurahan Roh Kudus atas para rasul, warta tentang kebangkitan Yesus tersebar luas. Hal ini tampak dalam kotbah Petrus di hadapan orang-orang Yahudi. Petrus mewartakan dengan berani bahwa Yesus yang mereka disalibkan telah dibangkitkan dan dimuliakan menjadi Tuhan dan Kristus. Warta gembira itu membuat mereka sangat terharu. Ada suatu penyesalan yang mendalam atas peristiwa itu, tetapi juga ada suatu pengharapan yang besar berkat peristiwa itu. Tanggapan mereka atas pemberitaan Petrus bukan saja sekedar pengetahuan baru (informasi saja), tetapi membawa suatu perubahan cara hidup (berkaitan dengan aksi). Maka, mereka pun bertanya kepada Petrus, “Apa yang harus kami perbuat?”

Inilah kesempatan bagi Petrus untuk bersaksi dan mewartakan Injil Kristus. Tidak ada jalan lain bila mereka mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, selain dengan bertobat dan dibaptis. Dengan demikian mereka akan menerima karunia Roh Kudus yang sama dengan yang diterima oleh para rasul pada saat Pentakosta.

Rasul Petrus memberikan syarat untuk menjadi murid-murid Yesus, yaitu melalui pertobatan dan pembaptisan. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pertobatan artinya perubahan pola pikir/ paradigma dan cara hidup ke arah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Pembaptisan adalah kelahiran baru menjadi anak-anak Allah dan murid-murid Kristus. Untuk dapat dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah perlu adanya perubahan hidup. Artinya agar rahmat baptisan yang kita terima itu efektif di dalam kehidupan kita, kita perlu bekerja sama dengan Allah dengan cara bertobat: mengubah pola pikir, tingkah laku, dan cara hidup kita yang lama, yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang buruk, jahat, dan penuh dosa, menjadi cara hidup yang baru, yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam masa pandemi ini panggilan menjadi murid-murid Yesus tetap harus kita wujudkan dalam kehidupan kita. Di tengah masa sulit ini, di mana usaha manusiawi kita seakan sia-sia. Kita merasa tak berdaya menghadapi ancaman virus ini. Namun, sesungguhnya di saat seperti inilah kita harus semakin percaya kepada Tuhan, berharap kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan memohon pertolongan dari-Nya, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Memang di saat ini kita merasa ruang gerak kita sangat terbatas. Kita hanya boleh diam di rumah saja. Tidak boleh berkumpul. Tidak boleh berjabat tangan, dan lain sebagainya. Tetapi kita harus memaknai semua ini secara positif. Saat seperti ini menjadi semacam retret agung bagi kita untuk membina kembali hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi, dan membangun kembali relasi yang harmonis dengan sesama dimulai dari keluarga kita sendiri. Ini juga menjadi saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan secara lebih mendalam panggilan kita sebagai murid-murid Kristus.

Maka dari itu, waktu dan kesempatan yang ada ini harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk bertobat, agar kita dapat menjadi murid-murid Kristus yang sejati. Pengakuan kita kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus tidak cukup di bibir saja, tetapi juga harus nyata dalam perbuatan hidup kita. Iman kepada Yesus harus merasuk ke dalam pikiran kita, tingkah laku kita, dan cara hidup kita sehari-hari. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi murid-murid Yesus yang sejati di tengah pandemi ini.

Dalam bacaan II Rasul Petrus menegaskan, bahwa panggilan menjadi murid-murid Yesus bukan semata-mata karena usaha manusiawi kita, kehebatan kita, tetapi pertama-tama karena kasih karunia dari Tuhan. Demikian pula dengan penderitaan yang dialami karena menjadi murid Kristus juga adalah karunia, yaitu kita boleh mengambil bagian dalam penderitaan Kristus demi keselamatan dunia.

Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita juga merayakan hari Minggu Panggilan, hari yang dikhususkan untuk berdoa bagi panggilan khusus menjadi imam, biarawan dan biarawati. Sama seperti Yesus memilih 12 orang rasul dari antara banyak murid-Nya untuk tugas pelayanan, demikian pula pada zaman sekarang Yesus tetap memilih dari antara umat-Nya orang-orang yang dikhususkan untuk pelayanan rohani dan sakramental, yaitu para imam, dan biarawan-biarawati. Maka, sabda Yesus hari ini menjadi pedoman bagi para pelayan Tuhan dalam melayani umat Allah.

Yesus memberikan perumpamaan tentang pintu kepada domba-domba. Seorang gembala pasti masuk melalui pintu untuk datang kepada domba-dombanya dan membawa domba-dombanya ke padang rumput yang hijau. Hal ini dikontraskan dengan pencuri dan perampok yang masuk tidak melalui pintu, tetapi memanjat dari tempat yang lain, entah tembok atau pagar, untuk dapat menangkap dan mencuri domba-domba itu. Dan Yesus menjelaskan bahwa Dialah pintu bagi domba-domba itu, yaitu umat Allah.

Dengan perumpamaan ini, Yesus ingin mengatakan bahwa setiap orang yang dipanggil untuk menjadi gembala jiwa-jiwa harus membawa umat Allah kepada Yesus, satu-satunya Pintu untuk menuju kepada keselamatan kekal. Setiap perkataan, tingkah laku, perbuatan, karya pelayanan dan pekerjaannya harus membawa umat untuk semakin dekat dengan Yesus, dan mencerminkan ajaran Yesus.

Marilah dalam kesempatan hari Minggu Panggilan ini, kita memperbaharui niat dan motivasi kita dalam mengikuti Yesus sebagai pelayan-Nya, agar semakin banyak orang yang tertarik untuk mengikuti Yesus dengan cara yang khusus ini. Marilah kita berdoa bagi para Uskup, Imam, biarawan dan biarawati, agar mereka selalu teguh dalam panggilannya dan semoga pelayanan mereka dapat mengantar umat untuk sampai kepada Yesus. Marilah kita juga berdoa bagi para kaum muda kita, agar mereka juga terbuka hatinya dan terpanggil untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati di tengah arus moderenisasi ini, agar semakin banyak orang yang diselamatkan dan diantar kepada Yesus, satu-satunya Jalan, kebenaran, dan kehidupan.


RD. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau








Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive