BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Thursday, 28 February 2019

TATA PERAYAAN SABDA TANPA IMAM (4 of 4)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

Katekese Tata Perayaan Sabda Tanpa Imam di Buluh Empirit

TEKS PANDUAN UNTUK PEMIMPIN IBADAT DAN UMAT

Setelah kita memahami secara benar tentang Tata Perayaan Sabda Tanpa Imam, sekarang saatnya kita mempraktikkannya dalam setiap Ibadat Sabda Hari Minggu dan Hari Raya yang dilaksanakan di masing-masing stasi/ kring. Supaya pemimpin ibadat dan juga umat dapat melaksanakan ibadat ini dengan baik dan benar, berkaitan dengan urutan ibadat, sikap liturgi, dan jawaban umat, maka saya memberikan Teks Panduan untuk Pemimpin Ibadat dan Umat, yang dapat didownload di bawah ini. Semoga dengan Katekese dan Teks Panduan ini kita semakin bersemangat dalam menguduskan Hari Tuhan, sehingga hidup kita senantiasa dilimpahi berkat Tuhan, dan hidup kita semakin bermakna dan berguna bagi keselamatan kita dan sesama. 


Download Teks Panduan untuk Pemimpin Ibadat --> di sini


Download Teks Panduan untuk Umat --> di sini


[1]   [2]   [3]   





Share:

TATA PERAYAAN SABDA TANPA IMAM (3 of 4)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


"Kuduskanlah Hari Tuhan"


CARA MENGGUNAKAN BUKU PSHMR

Ada dua Buku yang berbeda Masa Liturginya, yaitu:
a. Masa Biasa berwarna BIRU.
b. Masa Khusus (Adven, Natal, Prapaskah dan Paskah) berwarna MERAH.

Cara praktis menggunakan Buku ini adalah dengan teknik memanfaatkan tiga tali sebagai pembatas buku, yaitu:
a. MERAH untuk membatasi urutan Tata Perayaan Sabda (Hlm. 32 – 61 untuk Masa Khusus, dan hlm. 7 – 37 untuk Masa Biasa). 
b. KUNING untuk membatasi urutan Masa Liturgi yang sedang dirayakan (hlm 66 – 649 untuk Masa Khusus, dan hlm 40 – 854 untuk Masa Biasa). 
c. BIRU untuk membatasi DOA PUJIAN yang sedang digunakan sesuai dengan Masa Liturginya (hlm. 652 – 755 untuk Masa Khusus, dan hlm. 856 – 959 untuk Masa Biasa). 

Selain itu, kita juga bisa menggunakan kartu atau kertas lain untuk membatasi Kumpulan doa umat dalam INTENSI KHUSUS (hlm. 758 – 778 untuk Masa Khusus, dan hlm. 962 – 982 untuk Masa Biasa). Jangan dibiasakan melipat halaman buku untuk menjadi pembatas, karena lama-kelamaan lipatan itu akan koyak, dan buku itu akan rusak!

Bersambung......

[1]   [2]   [4]    



Share:

TATA PERAYAAN SABDA TANPA IMAM (2 of 4)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

Buku Perayaan Sabda Masa Khusus


PEDOMAN KHUSUS

Mengenai masalah pakaian yang boleh digunakan oleh Pemimpin Ibadat dalam memimpin Ibadat Sabda harus disesuaikan dengan kebijakan Keuskupan setempat. Untuk Keuskupan Sanggau, pemimpin ibadat TIDAK BOLEH menggunakan jubah/ alba. Maka gunakanlah pakaian yang pantas untuk ibadat: Baju Kemeja dan celana panjang. 

Pemimpin ibadat hendaknya lebih dari satu orang, berbeda dengan Misa bisa hanya dipimpin 1 orang imam saja. Pemimpin ibadat harus mempersiapkan diri dengan baik, dan membagi tugasnya secara jelas. Harus ada kerja sama yang baik, antara pemimpin ibadat dengan petugas liturgi lainnya (lektor, doa umat, dirigen, dll).

Sikap Liturgi dalam menghormati Altar adalah dengan cara membungkuk, dan jika ada Sakramen Mahakudus dengan cara bersujud. Pengucapan berkat oleh Pemimpin ibadat harus dengan kata “Semoga … “ dan membuat tanda salib pada dirinya sendiri. Tidak boleh memberikan berkat publik seperti imam!

Bersambung......

[1]    [3]    [4]








Share:

TATA PERAYAAN SABDA TANPA IMAM (1 of 4)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

Buku Tata Perayaan Sabda Masa Biasa


PEDOMAN UMUM 

Allah bersabda, "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat" (Kel 20:8). Gereja juga mengajarkan, "Hadapilah Misa Kudus pada hari Minggu, dan pada hari pesta yang diwajibkan, dan jangan melakukan pekerjaan yang dilarang." Maka, sangat pentinglah bagi kita orang Katolik untuk berkumpul dan berdoa bersama setiap hari Minggu, baik itu dalam Perayaan Ekaristi/ Misa, maupun dalam Perayaan Sabda Tanpa Imam. 

Pada Hari Minggu kita merayakan Kebangkitan Tuhan, maka Hari Minggu disebut Hari Tuhan. Unsur-unsur penting dari Hari Minggu, antara lain: berkumpulnya umat beriman, pewartaan Sabda, dan perayaan kurban ekaristi. Tetapi karena kekurangan tenaga imam, maka dilaksanakanlah  Perayaan Sabda Hari Minggu Tanpa Imam. 

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dapat melaksanakan Perayaan Sabda Tanpa Imam dengan baik dan benar, antara lain sebagai berikut:
  1. Harus ada pewartaan Kitab Suci dan doa-doa Gereja sesuai dengan Masa Liturgi yang sedang berlangsung. 
  2. Bisa digabung dengan Ritus Komuni (jika ada diakon, suster, frater, atau bruder) dan Ibadat berkat.
  3. Perayaan Sabda tidak boleh menghapus Perayaan Ekaristi, dan malah seharusnya mengembangkan kerinduan umat untuk merayakan Ekaristi. 
  4. Perayaan Sabda harus dilaksanakan sesuai dengan persetujuan Uskup dan Pastor Paroki setempat. 


Ada dua bagian pokok dari Tata Perayaan Sabda Tanpa Imam, yaitu: Liturgi Sabda dan Ritus Komuni. Doa-doa dan bacaan liturgis semuanya sudah disusun dalam satu buku, yaitu Perayaan Sabda Hari Minggu dan Hari Raya (PSHMR). Dalam Ibadat ini, Pemimpin ibadat tidak boleh bertindak seperti imam, dan memohon berkat dengan rumusan “Semoga …”. Demikian pula dalam memberikan Salam. Secara umum urutan Perayaan Sabda, dibagi menjadi 5 bagian, yakni:
1. Pembuka
2. Liturgi Sabda
3. Doa Pujian
4. Komuni (jika ada diakon, suster, frater, atau bruder)
5. Penutup 
Teks Homili bisa diminta kepada Pastor, atau menggunakan Buku-buku Homili atau dari situs-situs internet yang resmi dari Gereja Katolik.


Bersambung .... 

[2]   [3]   [4]

























Share:

KATEKESE LITURGI DI BULUH EMPIRIT

 Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

www.tatakatolik.comPerayaan Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup beriman orang Katolik. Maka, pentinglah penghayatan yang benar tentang Ekaristi atau Misa, terutama terkait dengan Tata Perayaan Ekaristi dan sikap-sikap Liturgi, beserta partisipasi aktif umat dalam merayakan Ekaristi. Oleh karena itu, katekese tentang Liturgi sangat penting dan berguna bagi umat, agar dapat merayakan Ekaristi secara baik dan benar.

Foto Bareng OMK Buluh Empirit

Berbagai kegiatan katekese telah digalakkan oleh Paroki Sosok, seperti Katekese untuk Remaja Katolik di stasi-stasi yang mengangkat tema: Tata Perayaan Ekaristi dan sikap Liturgi. Demikian pula, pembinaan iman umat ini dilaksanakan pula di Stasi Buluh Empirit pada hari Rabu, 27 Februari 2019, pkl. 19.00. Kegiatan Katekese ini diawali dengan puji-pujian dari OMK Paroki dan stasi Buluh Empirit. Setelah itu dilanjutkan dengan doa pembuka oleh Dendri, dan kata pengantar oleh Pak Abi, selaku Pemimpin Umat di Stasi Buluh Empirit. Katekese dibawakan oleh Pastor Vinsen, Pr.

Dalam kegiatan katekese ini diadakan pelatihan sikap-sikap Liturgi dan jawaban umat yang benar sesuai Tata Perayaan Ekaristi, dan juga Tata Perayaan Sabda tanpa imam. Harapannya, dengan katekese liturgi ini umat semakin berpartisipasi aktif dalam mengikuti Perayaan Ekaristi dan Sabda Hari Minggu, sehingga Ekaristi sungguh-sungguh menjadi sumber dan puncak kehidupan umat Katolik, dan Sabda Tuhan menjadi santapan jiwa yang menyegarkan iman umat Allah. Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua yang berniat baik dan tulus dalam mewartakan Kerajaan Allah.



Download Tata Perayaan Ekaristi -->  disini

Pak Abi, Pemimpin Umat Stasi Buluh Empirit
Penyampaian Materi Katekese oleh Pastor Vinsen, Pr.
Antusiasme umat dalam mengikuti Katekese






Saat ini anda menggunakan ponsel?, silahkan coba klik VIEW WEB VERSION pada bagian paling bawah, untuk melihat tampilan penuh
Share:

Wednesday, 27 February 2019

HUBUNGAN ANTARA YANG LAHIRIAH DAN BATINIAH

 (Hari Minggu Biasa VIII: 3 Maret 2019)
[Bacaan I: Sir. 27:4-7; Bacaan Injil: Luk. 6:39-45]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


  
"Sebab yang diucapkan mulut meluap dari hati"


www.tatakatolik.com - Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menilai seseorang melalui kata-kata yang ia ucapkan. Seolah-olah kebaikan dan keburukan seseorang tergantung dari apa yang ia ucapkan/ katakan. Apakah benar demikian? Apakah tidak keliru jika kita menilai seseorang hanya dari perkataannya saja? Sebab bisa saja orang itu berbohong, dan apa yang ia katakan tidak sesuai dengan isi hatinya. Lalu jika demikian, bagaimana kita bisa percaya dengan perkataan seseorang? Bacaan-bacaan suci pada hari ini menantang kita untuk merenungkan hubungan antara perkataan dan isi hati seseorang, atau secara lebih luas hubungan antara yang lahiriah dan yang batiniah, yaitu apa yang dapat kita tangkap melalui panca indera kita, dan apa yang gelap sama sekali bagi indera kita, yaitu isi hati dan karakter asli seseorang.
  
Dalam Bacaan Pertama tadi kita telah mendengarkan ajaran kebijaksanaan dari Putra Sirakh. Putra Sirakh ingin menjelaskan hubungan antara perkataan dan isi hati manusia itu dalam tiga perumpamaan, yaitu seperti: (1) sebuah ayakan/ tampi, (2)  periuk tanah liat, dan (3) sebuah pohon buah. Melalui ketiga perumpamaan ini kita dapat menyimpulkan, bahwa setiap perkataan itu mencerminkan apa yang ada di dalam hati seseorang. Namun, kita perlu menyaring lagi perkataan itu, apa sungguh-sungguh benar atau hanya kabar angin saja (hoax), seperti kita mengayak beras atau pasir, sehingga kita bisa memisahkan beras atau pasir itu dari batu, kerikil, atau sampah lainnya. Demikian pula, setiap perkataan yang kita ucapkan dan dengarkan perlu kita saring, apakah ini sungguh-sungguh kebenaran atau kebohongan belaka. Dengan kata lain, kita harus berhati-hati dalam berbicara dan juga kritis dalam menerima berbagai berita, sebab setiap perkataan akan berdampak pada diri kita, dan akan membentuk karakter diri kita.

Setiap perkataan itu dapat diibaratkan seperti bejana tanah liat yang kualitasnya dapat kita ketahui setelah dibakar, apakah ia akan pecah atau tetap utuh, apakah menjadi bejana yang baik atau buruk? Demikian pula pribadi manusia dapat dinilai setelah ia berbicara, yaitu dari setiap perkataan yang ia ucapkan.

Setiap perkataan juga dapat diibaratkan seperti buah yang tumbuh di tanah. Kualitas buah itu sangat tergantung dari kesuburan tanah, tempat pohon buah itu ditanam. Atau dengan kata lain, kualitas tanah yang tidak tampak secara inderawi, akan tampak dari kualitas buah yang ditanam di tanah tersebut, yang tampak secara inderawi. Demikian pula kualitas pribadi manusia, yang sifatnya batiniah, segala kebaikan dan keburukan manusia dapat kita lihat dari apa yang lahiriah, yaitu salah satunya setiap perkataan yang ia ucapkan.

Saudara-saudari terkasih, hubungan antara yang lahiriah dan yang batiniah juga tampak pada ajaran Yesus, yang telah kita dengarkan dalam Injil tadi. Yesus mengibaratkan perkataan dan isi hati manusia itu seperti hubungan antara pohon dan buah. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, dan sebaliknya, pohon yang buruk akan menghasilkan buah yang buruk. Demikian pula dengan setiap perkataan manusia. Orang yang baik mengeluarkan perkataan yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan kata-kata yang jahat, sebab apa yang diucapkan seseorang itu meluap dari hatinya.  

Sama seperti pohon, kualitasnya akan tampak dari buah-buah yang ia hasilkan. Demikian pula, sifat asli manusia dan isi hatinya akan tampak dari “buah-buah” yang ia hasilkan dalam kehidupannya, yaitu dari setiap perkataan, tingkah laku, dan perbuatan yang ia lakukan sehari-hari. Maka, jelaslah bahwa apa yang lahiriah mencerminkan dan menampakkan apa yang batiniah. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga kemurnian dan kesucian hati kita, dengan cara menjaga setiap perkataan yang kita ucapkan, dan juga setiap perbuatan yang kita lakukan. Berhati-hatilah dalam berbicara dan bertindak.

Saat ini anda menggunakan ponsel?, silahkan coba klik VIEW WEB VERSION pada bagian paling bawah, untuk melihat tampilan penuh
Share:

Saturday, 23 February 2019

KASIH YANG MENGAMPUNI


 (Hari Minggu Biasa VII: 24 Februari 2019)
[Bacaan I: 1Sam.26:2.7-9.12-13.22-23; Bacaan Injil: Luk. 6:27-38]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

"Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada semua orang yang membenci kamu"
    
Saudara-saudari terkasih, kita harus dengan rendah hati mengakui, bahwa kita sulit untuk mengasihi orang-orang yang membenci kita. Kita sulit untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Namun, bagaimana pun sulitnya, hal ini bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita, berbuat baik kepada orang yang membenci kita, memberkati orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi orang yang berbuat jahat terhadap kita. Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka tidak ada bedanya kita dengan orang-orang yang berdosa, sebab mereka juga mengasihi orang yang mengasihi mereka. Maka, ada suatu tuntutan yang lebih dari Yesus kepada para murid-Nya, yaitu Kasih yang mengampuni.

Kasih yang mengampuni tampak dalam diri Daud, seperti yang telah kita dengarkan tadi dalam Bacaan Pertama. Daud mau mengampuni dan mengasihi Saul, walaupun Saul berniat untuk membunuhnya. Saul merasa iri hati, karena Daud telah dipilih Allah untuk menjadi raja Israel, dan banyak orang simpatik kepadanya. Sementara Saul semakin hari semakin menjauh dari Allah. Maka, Saul berniat untuk membunuh Daud yang menjadi saingannya. Namun, Allah menyertai Daud. Ketika Saul dan para prajuritnya tertidur, Daud berhasil menyusup ke kemah Saul dan mengambil tombak serta kendi yang berada di samping kepala Saul. Sebenarnya, bisa saja Daud membunuh Saul saat itu juga. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Daud, karena Daud sadar, bahwa bagaimana pun buruknya sifat Saul, dia adalah orang yang telah diurapi oleh Allah. Daud mau mengampuni semua kesalahan Saul kepadanya, dan hal ini dibuktikan oleh Daud dengan menunjukkan barang bukti yang telah diambilnya dan yang akhirnya dikembalikannya. Apa yang dilakukan oleh Daud ini menjadi bukti nyata dari Kasih yang mengampuni, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Saudara-saudari terkasih, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi. Kasih itu bukan saja kita berikan kepada orang yang kita senangi dan orang yang mengasihi kita. Tetapi, kasih itu juga harus kita berikan kepada orang yang tidak kita sukai, yang membenci dan menolak kita. Memang tidak mudah untuk melakukan hal ini. Namun, sesuatu yang sulit dapat kita lakukan, jika kita mengikutsertakan Tuhan dalam usaha kita itu. Tuhan akan membantu kita dengan rahmat-Nya, seperti Ia membantu Daud, sehingga Daud bisa mengampuni Saul yang ingin membunuhnya. Daud telah membuktikan bahwa Kasih mengalahkan segala kebencian dan balas dendam atas kejahatan.

Kasih yang kita berikan kepada orang yang kita musuhi atau yang memusuhi kita adalah Kasih yang mengampuni. Permusuhan terjadi ketika kita tidak mampu lagi mengasihi orang lain, ketika kebencian sudah menguasai diri kita, dan hanya kejahatan yang ada di dalam pikiran kita. Semuanya itu dapat kita kalahkan dengan cara Mengampuni. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada-Nya. Di atas kayu salib Yesus berdoa untuk orang yang telah menyalibkan-Nya, supaya Bapa sudi mengampuni dosa mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sungguh, Tuhan Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk mengampuni musuh kita, tetapi Ia juga telah memberikan teladan dalam mengampuni orang-orang yang memusuhi diri-Nya.

Sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang, kita harus memberikan kesaksian hidup yang baik sesuai dengan ajaran Yesus, terutama Kasih yang mengampuni. Di dalam dunia yang penuh dengan kekerasan, balas dendam, persaingan, dan kejahatan ini, marilah kita menebarkan Kasih, damai, kebaikan, dan pengampunan. Mari kita menerapkan ajaran utama dari Tuhan Yesus, yaitu Kasih. Kasih yang kita berikan kepada semua orang, bahkan kepada musuh kita. Mari kita senantiasa berbuat baik kepada orang yang membenci kita. Tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi dengan kasih dan pengampunan. Mari kita berdoa dan memohon berkat bagi orang yang mengutuk kita dan berbuat jahat kepada kita. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi murid-murid Yesus yang sejati, dan menerima upah yang besar di surga.

Mari kita mohonkan rahmat Allah, agar kita dapat mengasihi dan mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Semoga kita dapat menjadi penabur Kasih yang mengampuni di tengah-tengah kehidupan ini.


Share:

Friday, 22 February 2019

REMAJA KATOLIK: HARAPAN MASA DEPAN GEREJA


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.
 
Remaka Stasi Menyabo

Sasaran utama kejahatan di era globalisasi ini adalah kaum muda. Segala pengaruh negatif mudah sekali menjangkit kepada orang-orang muda pada usia mereka yang masih labil. Kita bisa melihat, maraknya peredaran narkoba yang mengancam hidup manusia, seks bebas dan seks pra-nikah yang dianggap hal yang wajar, dan masih banyak lagi contoh perilaku buruk di zaman sekarang ini, yang menandakan merosotnya nilai iman dan moral bangsa ini. Maka, berangkat dari situasi seperti ini, saya sebagai imam merasa ikut prihatin. Namun, tidak cukup prihatin, kita harus melakukan sesuatu yang berarti demi menyelamatkan masa depan kaum muda kita.

Di lingkungan Gereja, pembinaan sudah digalakkan di segala usia, mulai dari usia anak-anak (Sekolah Minggu), remaja (Misdinar), dewasa muda (OMK), dan berbagai bentuk kelompok doa kategorial lainnya. Namun, sayangnya kelompok ini hanya aktif di tingkat paroki saja. Memang, ada beberapa stasi yang sudah mulai aktif dalam pembinaan Sekolah Minggu dan juga OMK. Namun, saya melihat ada satu tahap yang masih belum diperhatikan, yaitu anak-anak remaja di stasi-stasi. Maka, saya pun menggerakkan OMK Paroki untuk membina remaja katolik (Remaka) di stasi-stasi yang ada di Paroki Sosok. Puji Tuhan, selama satu bulan ini kami sudah membentuk Remaka di tiga stasi, yaitu: Menyabo, Tanjung, dan Kubing. Para remaja dari ketiga stasi ini begitu antusias dalam mengikuti kegiatan pembinaan iman yang kami adakan. Adapun usia Remaka ini berkisar dari kelas IV SD sampai XII SMA.

Pembinaan Remaka Tanjung



Sebagai awal dari pembentukan Remaka ini, saya memberikan materi tentang Tata Perayaan Ekaristi, karena memang di banyak stasi yang ada di Paroki Sosok ini, banyak umat yang masih kurang berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi. Maka, dengan belajar bersama ini diharapkan para remaja dapat menjadi penggerak bagi umat untuk merayakan Ekaristi secara baik dan benar, baik itu sikap liturginya, jawaban doanya, maupun penghayatannya. Selain itu, pertemuan juga diisi dengan sharing dari perwakilan OMK. Dan diakhiri dengan pembentukan pengurus Remaka di masing-masing stasi ini.

Harapan saya, semoga pembinaan Remaka ini tetap berjalan dengan baik, sehingga kecemasan yang saya ungkapkan di awal tadi tidak terjadi pada remaja kita, sebab remaja Katolik adalah harapan masa depan Gereja. Masa depan Gereja dapat menjadi cerah jika remaja Katolik sungguh-sungguh membina diri dengan sebaik-baiknya, menjadi insan yang beriman dan bermoral baik, dan memiliki hati untuk melayani Tuhan dan sesama. Mari kita berikan perhatian kepada para remaja kita di mana pun kita berada. Adakanlah pembinaan iman yang baik bagi mereka, niscaya apa yang kita lakukan itu tidak akan sia-sia, tetapi akan indah pada waktunya. Kita akan menuai hasilnya di masa depan, demi perkembangan Gereja dan masyarakat kita. Tuhan Yesus memberkati segala niat baik kita.

 
Pembinaan Remaka Kubing












Share:

Thursday, 14 February 2019

VALENTINE MISDINAR SOSOK

Sukacita dan kegembiraan tampak pada anak-anak Misdinar pada Hari Valentine (14 Februari 2019). Mereka mengadakan acara Valentine di Aula Paroki Kristus Raja Sosok. Acara dimulai pkl. 18.00 dengan Lagu Puji-pujian kepada Tuhan. Setelah itu, dibuka dengan Doa dan sambutan dari Andre, selaku Ketua Misdinar. Supaya Acara Valentine ini bermakna, maka Pastor Vinsensius, Pr. selaku Pembina Misdinar memberikan renungan Valentine untuk anak-anak Misdinar [renungan valentine klik di sini]



Acara selanjutnya, diisi oleh Panitia Valentine Misdinar. Membuat game yang lucu dan menarik, serta mengajak semua peserta untuk bersemangat dalam memuji Tuhan lewat nyanyian. Selain itu, juga ada berbagai penampilan dari anggota Misdinar, seperti lagu-lagu dan musik sape'. Tidak lupa juga, ada makan bersama sebagai wujud dari kebersamaan di antara mereka. Di penghujung acara ini diadakan tukar kado valentine. Selamat merayakan Hari Kasih Sayang. Tuhan Yesus memberkati.  












Share:

MAU MENGANDALKAN TUHAN ATAU MANUSIA?


 (Hari Minggu Biasa VI: 17 Februari 2019)
[Bacaan I: Yer. 17:5-8; Bacaan Injil: Luk. 6:17.20-26]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang delapan sabda Yesus. Dari kedelapan sabda itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu empat sabda Bahagia, dan empat sabda Celaka. Kedua bagian ini saling terkait satu sama lain. Mari sekarang kita berfokus pada sabda bahagia yang keempat dan sabda celaka yang keempat. Yesus memuji bahagia, orang yang dibenci, dikucilkan, dicela, dan ditolak demi Yesus. Mereka berbahagia bukan karena penderitaan yang mereka terima dan alami, tetapi karena upah mereka besar di surga. Mereka boleh mengalami seperti apa yang dialami oleh para nabi pada zaman dahulu, yang juga dibenci dan ditolak demi Kerajaan Allah. Namun, di sisi lain, Yesus mengecam dengan keras orang yang dipuji karena perbuatan jahat yang mereka lakukan, sebab demikian juga nenek moyang mereka memperlakukan nabi-nabi palsu. Yesus menyebut mereka celaka, bukan untuk menyumpah mereka, tetapi memberitahukan secara jelas kepada mereka, bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu memang mendatangkan celaka bagi diri mereka sendiri!


          Sabda keempat dari sabda bahagia dan sabda celaka yang Yesus katakan itu bereferensi pada pengalaman konkret para nabi pada zaman dahulu. Hal ini sesuai dengan bacaan pertama yang hari ini kita dengarkan tadi. Nabi Yeremia juga mengucapkan berkat dan kutuk bagi bangsa Yehuda. Sama seperti Yesus, Yeremia juga tidak bermaksud mengutuk orang lain, tetapi ia ingin menegur secara keras dan memberitahukan, bahwa orang yang hanya mengandalkan kekuatan manusia dan yang hatinya menjauh dari Allah akan mendapatkan celaka! Mereka itu diibaratkan seperti semak di padang belantara yang hanya tumbuh dan hidup sesaat saja, kemudian akan mati. Namun, di sisi lain Yeremia memuji orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya kepada Tuhan, sebab mereka akan diberkati Tuhan. Mereka diibaratkan seperti pohon yang subur dan kuat, serta menghasilkan buah yang melimpah.

Saudara-saudari terkasih, di hadapan kita ditawarkan dua macam pilihan: Apakah kita mau mengandalkan Tuhan atau hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Orang yang hanya mengandalkan kekuatannya sendiri pasti akan kecewa, merana, dan berputus asa, karena kemampuan manusia itu sangatlah terbatas. Tetapi, orang yang selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya akan memperoleh berkat, perlindungan dan pertolongan dari Tuhan. Apa yang tidak bisa ia lakukan secara manusiawi, bisa ia lakukan bersama dengan Tuhan. Berbagai problem hidup sehari-hari yang kita hadapi menuntut kita untuk selalu mengandalkan Tuhan dan menaruh seluruh harapan kita hanya kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menolong kita dengan sempurna dan memberikan apa yang terbaik bagi hidup kita. 
Mengandalkan Tuhan bukan berarti kita akan terbebas dari segala masalah. Segala masalah dalam kehidupan selalu ada, bahkan semakin bertambah ketika kita sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Kita harus siap untuk dibenci, dikucilkan, dicela, dan ditolak demi iman kita kepada Yesus. Itulah yang menjadi tantangan dan ujian bagi iman kita. Namun, jika kita sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan, maka kita akan diberikan kekuatan dalam menghadapi segala masalah. Dengan mengandalkan Tuhan, maka kita tidak akan sendirian dalam menanggung beban hidup ini, sebab Tuhan yang akan menolong kita dengan berbagai cara yang tepat, sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Mengandalkan Tuhan berarti kita siap untuk menanggalkan ke-ego-an diri kita, dan menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. Dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup ini, kita perlu hening sejenak dan merenungkan dalam doa: “Apa yang Tuhan inginkan, agar saya perbuat?” Tuhan ingin kita melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya. Apa yang Tuhan inginkan dan perintahkan, itulah yang harus kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian kita akan mendapatkan berkat dari Tuhan, dan menikmati kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat nanti.

Marilah kita mohon bantuan rahmat Allah, agar kita dapat menanggalkan egoisme diri kita yang selalu mengandalkan diri sendiri dalam kehidupan ini. Dan semoga kita dapat selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita, dan selalu berharap kepada-Nya, sehingga kita dapat menerima ganjaran abadi di surga.

Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive