BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Friday, 6 November 2020

PELITA YANG TETAP BERNYALA

 

(Hari Minggu Biasa XXXII: 8 November 2020)



Saudara-saudari terkasih, kebijaksanaan sangat penting dalam hidup kita. Bahkan Negara kita pun dibangun di atas dasar kebijaksanaan, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan... (sila ke ke-4 dari Pancasila). Dalam Bacaan Pertama, penulis Kitab Kebijaksanaan mengatakan bahwa kebijaksanaan itu selalu bersinar dan tidak dapat layu. Artinya kebijaksanaan itu bersifat kekal, dan tetap menjadi hal yang utama dalam kehidupan kita, dari dahulu, sekarang, sampai akhir zaman. Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan, dan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih, sebab kebijaksanaan itu selalu menampakkan dirinya di sekitar kita. Tinggal kita lagi apakah mau belajar untuk menjadi bijaksana atau tidak? 


Contoh dari kebijaksanaan diberikan oleh Yesus dalam Bacaan Injil, melalui perumpamaan tentang 5 gadis bijaksana dan 5 gadis yang bodoh. Untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga kita harus seperti 5 gadis yang bijaksana, yang selain membawa pelita, juga membawa minyak dalam botol, agar pelitanya tetap bernyala dalam menantikan kedatangan mempelai laki-laki. Kebijaksanan di sini tampak dalam sikap antisipasi dan berjaga-jaga yang harus kita lakukan dalam menantikan  kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia pada akhir zaman. Kita tidak boleh terlena seperti kelima gadis yang bodoh, yang hanya membawa pelita saja tetapi tidak ada cadangan minyak sama sekali, sehingga pada saat Mempelai laki-laki datang mereka tidak dapat menyambutnya karena masih sibuk membeli minyak. 

Demikian pula dengan situasi kita pada zaman ini, banyak kesibukan duniawi yang membuat kita lupa dengan Tuhan. Kita cenderung bersikap seperti 5 gadis yang bodoh, yang terlena dalam menantikan kedatangan mempelai laki-laki, yang tak kunjung datang. Sementara mereka tidak menyediakan minyak untuk pelita mereka, yang sangat diperlukan untuk menyambut sang mempelai laki-laki, yang akan datang pada malam hari. Kepada kita masing-masing telah diberikan pelita, yaitu IMAN kepada KRISTUS, tetapi kita tidak mengisi iman kita dengan doa-doa, dan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama. Kita sibuk dengan dunia kita sendiri. Kita tenggelam dalam rutinitas dan pekerjaan kita, demi kesuksesan duniawi, dan harta kekayaan yang fana ini. Maka, Injil hari ini menjadi teguran bagi kita semua, agar kita memiliki kebijaksanaan: selalu INGAT untuk mengisi “pelita” kita, agar “pelita kita tetap bernyala”. Itulah sikap berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus, sebab kita tidak tahu kapan saat dan harinya Yesus akan datang kembali ke dunia ini untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. 


Saudara-saudari terkasih, marilah kita sungguh-sungguh mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini pada akhir zaman. Persiapan ini harus dilakukan setiap hari, dengan tekun berdoa, rajin beribadah di Gereja, dan melakukan kebaikan-kebaikan bagi sesama. Dengan demikian, sebenarnya kita juga mempersiapkan diri kita untuk memasuki kehidupan yang baru di surga, jika perjalanan hidup kita di dunia ini sudah berakhir. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua, bahwa kematian tidak boleh membuat kita berdukacita seperti orang yang tidak mempunyai harapan, sebab kita percaya akan kebangkitan. Yesus yang telah bangkit juga akan membangkitkan orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk menikmati kehidupan abadi di surga. 


Maka, marilah kita pergunakan waktu dan kesempatan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan kesempatan hidup yang hanya 1x saja, sebab jika kita salah jalan, jatuh dalam lembah dosa, dan tidak mau bertobat, maka penyesalan di akhirat tidak ada gunanya. Pertobatan selama kita masih hidup di dunia ini menjadi jalan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Berjaga-jagalah selalu di dalam doa dan perbuatan kasih, agar kelak kita diterima dalam kehidupan kekal di surga. 



RD. Vinsensius

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
Share:

Friday, 23 October 2020

KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA

 

(Hari Minggu Biasa XXX: 

25 Oktober 2020)


 


Saudara-saudari terkasih, jika kita memandang Salib Yesus, kita melihat ada simbol yang bermakna di balik salib itu. Pertama, ada garis vertikal (lurus dari atas ke bawah). Itu melambangkan hubungan Allah dan manusia. Dan yang kedua, ada garis horisontal (garis lurus menyamping kiri ke kanan), yang melambangkan hubungan antar sesama manusia. Pusat dari kedua garis itu adalah Yesus Kristus, Pengantara manusia kepada Allah. Pertanyaannya, hubungan seperti apa yang dikehendaki oleh Allah?

 

   Dalam Bacaan Injil tadi, kita sudah mendengarkan perintah yang paling utama dan pertama dalam Hukum Taurat, yaitu perintah KASIH, baik kepada Allah, maupun kepada sesama. Maka, perintah Kasih inilah yang harus ada dalam hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesama. Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita, dengan menyerahkan Putra-Nya yang tunggal, demi penebusan dosa dan keselamatan kita. Maka, sebagai tanggapan atas kasih Allah ini, kita juga harus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

 

Kasih kepada Allah tampak nyata dalam Bacaan Kedua tadi. Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus memuji umat di Tesalonika, karena mereka telah menuruti perintah Tuhan. Mereka sudah meninggalkan berhala-berhala, dan mengabdikan diri hanya kepada Allah saja. Kasih mereka kepada Allah sudah total, dan itu terbukti melalui iman mereka yang teguh kepada Allah.

 

Kasih kepada sesama tampak nyata dalam Bacaan Pertama. Allah berfirman kepada umat Israel melalui perantaraan Musa, bahwa mereka harus mengasihi sesamanya seperti mereka mengasihi diri mereka sendiri. Sebagai wujud dari kasih ini, mereka dilarang keras untuk menindas sesamanya yang terlantar, yaitu orang-orang asing, para janda dan yatim piatu, serta orang-orang miskin. Segala bentuk penindasan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan perintah kasih. Maka, mereka harus memberikan perhatian dan pertolongan bagi orang-orang yang terlantar dan menderita ini, agar mereka juga mengalami kesejahteraan, dan bukan sebaliknya menindas mereka, demi memperoleh keuntungan diri sendiri. Jika, kita menindas orang lain, maka Tuhan sendiri akan membalas kejahatan itu, sesuai dengan sabda-Nya tadi.

 

Saudara-saudari terkasih, bacaan-bacaan suci hari ini sudah jelas bagi kita, dan mudah kita pahami, karena ajaran ini menjadi inti dari iman kita, dan pokok dari ajaran Kristus, yaitu CINTA KASIH. Tugas kita sekarang adalah mengamalkan cinta kasih ini dalam kehidupan kita sehari-hari dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Salib Kristus melambangkan cinta Allah kepada manusia (garis vertikal) dan cinta manusia kepada sesamanya (garis horisontal). Maka, kita yang mengimani Kristus harus mewujudnyatakan lambang cinta kasih ini, yaitu dengan mengasihi Allah dan sesama dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Kasih kepada Allah dapat kita wujudkan dalam kehidupan rohani kita, dengan rajin berdoa setiap hari, merayakan Misa pada hari Minggu, dan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan bukan kepada berhala atau roh-roh lain. Sedangkan kasih kepada sesama dapat kita wujudkan melalui perhatian, kepedulian, dan bantuan yang kita berikan kepada sesama. Jauhkanlah sikap benci, iri hati, balas dendam, dan perbuatan jahat lainnya, agar kasih kita kepada sesama sungguh-sungguh total dan sejati. Marilah kita mengamalkan kasih kepada Allah dan sesama, agar kita semua dapat mengalami kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan bersama.

 

 R.D. Vinsensius

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Saturday, 17 October 2020

INI AKU, UTUSLAH AKU

 

Hari Minggu Misi Ke-94: 

Hari Minggu Biasa XXIX

(18 Oktober 2020)



 

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-94. Panggilan untuk bermisi pertama-tama adalah inisiatif dari Allah, muncul dari Allah dan tertuju kepada Allah, Sang Sumber Keselamatan. Dalam Bacaan Pertama, Tuhan menegaskan Misi-Nya kepada Nabi Yesaya, bahwa Ia telah memanggil dan memilih Raja Koresh, serta memberikan kemenangan kepadanya, supaya semua orang mengenal Allah yang benar, dan dapat mengalami keselamatan yang kekal dari Allah.

 

Misi Allah ini tampak secara nyata dan sempurna dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya. Sebagaimana telah kita dengarkan dalam Bacaan Injil, Yesus menjawab pertanyaan dari orang-orang Farisi dan Herodian, yang berusaha menjerat Dia dengan mempertentangkan urusan pemerintah dan agama, berkaitan dengan kewajiban pajak.  Namun, dengan bijaksana Yesus menjawab: “Berikanlah kepada Kaisar, apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat. 22:21).

 

Melalui sabda ini, Yesus ingin mengatakan bahwa Misi keselamatan-nya berlaku untuk semua orang, dan semua bidang kehidupan manusia, baik agama, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita memiliki kewajiban untuk mematuhi aturan dari masing-masing bidang atau lembaga yang ada ini. Tidak perlu kita mempertentangkan bidang yang satu dengan yang lain, karena semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu demi kesejahteraan bersama, baik yang sifatnya jasmani maupun rohani.

 

Saudara-saudari terkasih, sesuai dengan sabda Yesus ini, maka kita harus melaksanakan kewajiban kita masing-masing sesuai bidangnya. Sebagai warga negara, kita wajib menaati undang-undang dan peraturan dari pemerintah. Misalnya saat pandemi ini, kita wajib mematuhi protokol kesehatan (3M: Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak untuk menghindari kerumunan). Sebagai warga Gereja, kita wajib menaati perintah-perintah Tuhan dan Gereja Katolik. Sebagai orang tua, kita wajib bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anak. Dan masih banyak bidang lainnya lagi yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Berhadapan dengan aneka bidang kehidupan ini, kita harus bijaksana. Jangan sampai mempertentangkan bidang yang satu dengan yang lain, seperti orang-orang Farisi dan Herodian. Hendaknya, kita bijaksana dalam mengatur semua bidang ini, agar semuanya dapat berjalan dengan baik, sehingga terpenuhilah kewajiban kita, baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah.

 

Saudara-saudari terkasih, agar kita dapat memenuhi semua kewajiban kita dengan baik dan benar, maka kita harus memiliki semangat dasar yang benar, yaitu iman, harapan, dan kasih. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua tadi, bahwa ia bersyukur akan amal iman, usaha kasih, dan ketekunan harapan dari umat di Tesalonika kepada Yesus. Semua ini bisa terjadi karena Allah yang telah memanggil dan memilih mereka untuk melaksanakan Misi-Nya di dunia ini. Maka, ketiga semangat ini harus ada dalam kehidupan kita, yaitu iman, harapan, dan kasih, agar kita dapat melaksanakan Misi Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, demi kesejahteraan bersama dan keselamatan manusia.

 

Saudara-saudari terkasih, untuk Minggu Misi tahun ini Paus Fransiskus mengangkat tema: “Inilah Aku, Utuslah Aku.” (Yes. 6:8). Panggilan Allah harus ditanggapi dengan jawaban yang positif. Bacaan pertama hari ini berbicara tentang panggilan itu, sedangkan bacaan kedua dan Injil berbicara tentang tangapan atas panggilan Allah melalui perbuatan iman, harapan, dan kasih yang harus kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa dan menggereja. Maka sebagai penutup dari renungan hari ini, saya akan mengutip sedikit dari pesan Paus Fransiskus pada hari Minggu Misi ini, yang dapat menjadi bahan permenungan kita bersama dalam merayakan Hari Minggu Misi yang ke-94:  

 

Misi adalah tanggapan bebas dan sadar atas panggilan Allah. Tetapi kita melihat panggilan ini hanya ketika kita memiliki hubungan cinta yang personal dengan Yesus yang hadir di dalam Gereja-Nya. ... Keterbukaan batin ini esensial jika kita akan mengatakan pada Allah: “Ini aku, Tuhan, utuslah aku!” (bdk. Yes. 6:8).

Memahami apa yang disampaikan Allah kepada kita pada masa pandemi ini juga menunjukkan tantangan bagi misi Gereja. Keadaan sakit, penderitaan, ketakutan dan isolasi menantang kita. Kemiskinan mereka yang meninggal dalam kesendirian, yang tertelantarkan, mereka yang telah kehilangan pekerjaan dan pendapatan, yang tanpa tempat tinggal dan mereka yang kekurangan makanan menantang kita. Dipaksa untuk menjalankan sosial distancing dan untuk tinggal di rumah mengundang kita untuk menemukan kembali bahwa kita membutuhkan hubungan sosial seperti juga hubungan bersama kita dengan Tuhan. ...situasi ini hendaknya membuat kita lebih memberi perhatian pada cara kita berelasi dengan orang lain. Dan doa, di mana Allah menjamah dan menggerakkan hati kita, hendaknya membuat kita lebih terbuka pada kebutuhan saudara dan saudari kita untuk keluhuran martabat dan kebebasan, dan juga tanggung jawab kita terhadap pemeliharaan keutuhan ciptaan. Ketidakmungkinan berkumpul sebagai Gereja untuk merayakan Ekaristi telah mengantar kita untuk membagikan pengalaman banyak komunitas Kristen yang tidak dapat merayakan Misa setiap hari Minggu. Dalam semua hal ini, pertanyaan Allah: “Siapa yang hendak Kuutus?” ditujukan sekali lagi kepada kita dan menunggu jawaban yang murah hati dan meyakinkan: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8).

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Evangelisasi dan Penghibur yang menderita, murid-murid yang diutus Yesus Putra-Nya, terus menjadi pengantara kita dan menopang kita.

 

Roma, Basilika Santo Yohanes Lateran

Pada Hari Raya Pentakosta

31 Mei 2020

Paus Fransiskus


R.D. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

Share:

Thursday, 15 October 2020

BERHARGA DI HATI ALLAH, TAPI MURAH DAN MURAHAN DI MATA SESAMA

Jumat, 16 Oktober 2020 

Bac. I,  Ef. 1 : 11 - 14 [Baca disini]

Injil, Luk. 12 : 1 - 7 [Baca Injil disini]

Pekan Biasa XXVIII



" Engkau berharga di mata dan hati Allah karena tercipta menurut citra-Nya, tapi mengapa engkau menjadi murahan dan tak terpandang di mata sesama karena kebohongan dan kemunafikanmu? Ayo...kembalilah kepada keaslian dirimu, karena sesunggunya dalam balutan kemunafikan, Allah tak mengenalmu ."


Pagi ini Yesus menegaskan kembali tentang keaslian diri kita yang amat berharga, yang tak bisa dibandingkan dengan uang dan harta, pun dengan ciptaan lain.


Pagi ini kita disadarkan bahwa;

  1. Kadang citra Allah di dalam diri kita itu menjadi murah dan murahan akibat kemunafikan yang kita pakai menyelimuti diri kita;
  2. Citra Allah di dalam diri kita itu menjadi murah karena kesalahan dan dosa-dosa kita;
  3. Berusahalah untuk memperbaiki citra dirimu dengan pertobatan dan perbuatan baik.

Akhirnya sadarlah bahwa dosa-dosamulah yang menjadikan dirimu yang berharga di mata dan hati Allah itu menjadi murah dan bahkan murahan di mata sesamamu.


Selamat melayani dan berkarya....

Tuhan memberkati & 

Bunda Maria merestui...

Share:

Saturday, 26 September 2020

PERTOBATAN SEJATI

 Hari Minggu Biasa XXVI: 

27 September 2020



Saudara-saudari terkasih, seringkali kita menganggap orang yang berdosa itu selama tetap berada dalam dosa, seolah-olah tidak ada harapan lagi bagi dia untuk bertobat dan menjadi yang lebih baik. Kita cenderung mencap orang lain: ‘sekali berbuat salah, selamanya ia tetap bersalah!’ Pemikiran seperti ini tidak sesuai dengan Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini. Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan tentang pertobatan yang sejati.

 

Dalam Bacaan Pertama, Allah bersabda kepada Yehezkiel, bahwa Allah bertindak dengan tepat, yaitu menghukum orang yang berbuat jahat dan menyelamatkan orang yang berbuat baik. Ganjaran ini bukan berdasarkan pandangan orang, tetapi menurut apa yang ia lakukan selama hidupnya. Jika orang yang terkenal baik, tetapi ternyata dia melakukan kejahatan dan meninggalkan kebaikannya, maka ia akan menerima hukuman karena kejahatannya itu. Sebaliknya, jika orang yang terkenal berdosa dan jahat, tetapi ternyata ia sungguh-sungguh bertobat dan melakukan segala sesuatu yang baik, maka ia akan diselamatkan oleh Allah. Maka, pertobatan menjadi jalan untuk menuju kepada keselamatan kekal.

 

Pertobatan yang sejati juga telah dijelaskan oleh Yesus dalam Bacaan Injil tadi. Dengan menggunakan perumpamaan tentang dua bersaudara, yang disuruh oleh ayahnya supaya pergi bekerja ke kebun anggurnya. Anak yang pertama memang mengiyakan perintah ayahnya, tapi ia tidak pergi ke kebun anggur ayahnya. Malah anak kedua yang awalnya mengatakan ‘tidak’, akhirnya menyesal dan pergi ke kebun anggur ayahnya. Penyesalan menjadi syarat utama untuk mencapai pertobatan yang sejati. Tanpa penyesalan yang sungguh dan mendalam, kita tidak dapat bertobat.

 

Saudara-saudari terkasih, pertobatan sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, karena dengan bertobat kita akan mengalami keselamatan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Marilah kita mewujudkan pertobatan dalam hidup kita, dengan meninggalkan perbuatan kita yang jahat, yang penuh dengan dosa, dan tidak berkenan di hati Allah, dan melakukan perbuatan yang baik, benar, dan berkenan kepada Tuhan. Pertobatan artinya perubahan hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan ke arah yang lebih baik dan sesuai dengan perintah Tuhan.

 

Pertobatan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk kita lakukan. Asalkan kita memiliki niat yang kuat untuk bertobat dan sungguh-sungguh menyesali segala perbuatan dosa kita dan memohon ampun kepada Tuhan, maka dengan pertolongan Allah kita dapat bertobat dan memperoleh keselamatan yang berasal dari Allah, sebab di dalam Kristus ada belaskasihan yang melimpah, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua tadi.


Karena belas kasih-Nya, maka Tuhan memanggil kita untuk bertobat, agar kita tidak binasa dan mengalami kematian yang kekal, melainkan memperoleh keselamatan dan kehidupan yang kekal. Maka, jangan sia-siakan belas kasih Allah ini, selagi masih ada waktu dan kesempatan hidup, marilah kita bertobat dan kembali kepada Allah, dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita akan memperoleh keselamatan dalam Kerajaan Surga.

 

R.D. Vinsensius

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Friday, 11 September 2020

DENDAM DAN PENGAMPUNAN

 (Hari Minggu Biasa XXIV: 

13 September 2020)




Saudara-saudari terkasih, selama dua minggu ini, kita merenungkan dalam Bacaan-bacaan suci tentang bagaimana kita harus membangun relasi yang baik dengan sesama. Minggu lalu kita sudah merenungkan tentang teguran yang harus kita berikan kepada sesama yang bersalah. Minggu ini kita merenungkan tentang pengampunan yang harus kita berikan juga kepada sesama yang bersalah kepada kita.

 

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyaknya tindakan kejahatan, seperti pembunuhan, permusuhan, atau juga kehancuran dalam rumah tangga, terjadi karena tidak ada pengampunan. Yang ada hanya balas dendam dan amarah. Seseorang yang sudah dikuasai oleh dendam dan amarah akan melakukan berbagai tindakan yang jahat untuk melampiaskan kemarahannya dan membalas dendamnya terhadap sesama.

 

Dalam Bacaan Pertama, Putra Sirakh mempertentangkan pengampunan dengan dendam dan amarah. Dendam dan amarah dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, dan hanya orang berdosa yang dikuasai oleh dendam dan amarah ini. Bahaya dari dendam dan amarah ini bukan saja terjadi pada sesama, yang dimusuhi, tetapi juga terhadap diri orang yang membalas dendam dan amarah tersebut. Dengan tegas Putra Sirakh menyatakan, bahwa “Siapa saja yang membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan”. Maka dari itu, pentinglah pengampunan. Kita harus mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, agar Tuhan juga mau mengampuni segala dosa-dosa kita.

 

Dalam Bacaan Injil, Tuhan Yesus dengan jelas menjawab pertanyaan dari Rasul Petrus, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali kah?” Namun, Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.” Sabda Tuhan ini jangan kita artikan secara matematis! Memang secara harafiah, 70x7=490, dan itu masih bisa dihitung dan bersifat terbatas. Akan tetapi, yang dimaksud oleh Yesus melalui perkataan ini adalah pengampunan yang tak terbatas, tak terhitung jumlahnya, dan tetap berlaku sampai selama-lamanya.

 

Perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang membayar hutang dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya pengampunan ini. Jika kita tidak mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, kita akan bersikap seperti hamba yang tidak tahu berterima kasih. Dia telah diampuni oleh tuannya dan dihapus segala hutangnya, tetapi dia tidak mau mengampuni sesamanya yang berhutang kepadanya. Maka, tuannya itu menjadi murka dan memberikan hukuman kepadanya, karena sikapnya yang tidak berbelas kasih kepada sesamanya.

 

Marilah kita senantiasa mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, dengan segenap hati, dan bukan hanya setengah-setengah atau dengan rasa terpaksa. Dengan pengampunan, kita bisa menghindari sikap balas dendam dan amarah. Dengan mengampuni sesama, maka kita juga akan diampuni oleh Allah yang berbelas kasih. Maka, hendaklah kita berbelas kasih kepada sesama, dan mau mengampuni sesama, seperti Allah sendiri berbelas kasih kepada kita dan mau mengampuni semua dosa kita.

 

Penulis:  

R.D. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

Friday, 4 September 2020

MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS IMAN DAN IDENTITAS

 Hari Minggu Biasa XXIII: 

(6 September 2020)




Pada bulan September ini Gereja Katolik Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional. Tema yang diangkat adalah: “Mewartakan kabar baik di tengah krisis iman dan identitas.Memang ada banyak krisis di zaman sekarang ini, apalagi di masa pandemi covid-19 ini. Namun, dengan tema ini kita mau berfokus pada dua jenis krisis ini, yaitu iman dan identitas. Kedua krisis ini saling berkaitan satu sama lain. Krisis iman bisa saja disebabkan oleh krisis identitas, demikian pula sebaliknya. Maka, sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk menemukan kembali identitas kita sebagai murid-murid Kristus, agar iman kita tidak mengalami krisis.

 

Dalam Bacaan Kedua Rasul Paulus dengan jelas mengungkapkan identitas kita sebagai murid Kristus. Ia mengatakan, “…segala firman lain mana pun juga sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Cinta kasih menjadi identitas kita sebagai murid Kristus, karena cinta kasih merupakan hukum yang paling pertama dan utama, yang diajarkan oleh Yesus kepada kita. Segala sesuatu yang kita lakukan harus bersumber pada cinta kasih, dilakukan karena cinta kasih, dan demi cinta kasih, baik kepada Allah maupun kepada sesama.

 

Sebenarnya cinta kasih itu sudah diajarkan oleh Allah sejak dahulu kala, baik dalam kesepuluh perintah Allah, maupun dalam setiap sabda-Nya yang disampaikan melalui para nabi. Dalam Bacaan Pertama tadi, Allah bersabda kepada Nabi Yehezkiel, supaya ia menegur umat Israel yang berbuat jahat. Entah mereka mau mendengarkan atau tidak, yang penting dia harus menegur mereka yang berbuat jahat, karena jika dia tidak menegurnya, dan orang itu tetap berbuat jahat, maka ia harus menanggung akibat dari kejahatannya. Tetapi jika ia sudah menegur mereka, dan walaupun mereka tetap berbuat jahat, dia tidak akan menanggung akibat dari kejahatan itu.

 

Melalui firman ini Allah menghendaki agar kita peduli dengan sesama kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk menegur sesama kita yang berbuat salah, yang melakukan dosa dan kejahatan. Seringkali kita tidak mau menegur sesama, karena mungkin merasa tidak enak, sungkan, takut, atau berpikiran ‘ah... nanti dia juga tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan... lebih baik diam saja… sama saja ditegur atau tidak ditegur…’ Kita cenderung berorientasi hanya pada hasil dan keberhasilan, tetapi mengabaikan proses. Teguran yang kita berikan kepada sesama menjadi proses batiniah baginya untuk bertobat. Jika kita tidak mau menegur sesama dan membiarkan mereka tetap berbuat kejahatan dan dosa, maka kita juga telah berbuat dosa, yaitu dosa ketidak-pedulian dan dosa kelalaian terhadap sesama.

 

Mengenai teguran ini, Tuhan Yesus memberikan tips kepada kita, bagaimana cara menegur yang baik dalam Bacaan Injil tadi. Pertama-tama teguran itu bersifat pribadi: menegur di bawah 4 mata. Artinya bicarakan masalah itu secara pribadi dengan orang yang melakukan kesalahan. Jika ia masih tidak mau mendengarkan teguran yang bersifat pribadi itu, maka bawalah 2 atau 3 orang supaya membantu kita untuk menegurnya. Jika dia masih tidak mau mendengarkan teguran itu, maka bawalah perkaranya itu dalam komunitas. Mungkin dengan kehadiran banyak orang dan dukungan komunitas, orang itu bisa bertobat. Artinya, teguran itu memiliki tahapannya tersendiri, mulai dari yang bersifat pribadi/ personal, lalu komuintas kecil sampai pada komunitas besar. Semua orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk peduli kepada sesamanya yang telah berbuat salah. Inilah bentuk konkret dari cinta kasih kepada sesama, yang menjadi identitas kita sebagai murid-murid Kristus.

 

Semoga perayaan Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini semakin menyemangati kita untuk tetap tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang menjadi sumber dari iman dan idenitas kita. St. Hieronimus mengatakan, “Tidak mengenal Kitab Suci sama saja dengan tidak mengenal Kristus!” Maka kita harus mengenal lebih dalam Kitab Suci dengan rajin membacanya secara pribadi setiap hari dan merenungkannya di dalam doa, agar sabda Tuhan itu dapat bertumbuh dan berbuah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan hidup kita sehari-hari, sehingga dengan demikian kita dapat mewartakan kabar baik di tengah krisis iman dan identitas zaman sekarang ini.

 

“Selamat merayakan Bulan Kitab Suci Nasional.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.”

 




R.D. VINSENSIUS

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

Share:

Friday, 14 August 2020

MARIA DIANGKAT KE SURGA

 (16 Agustus 2020)

 


Akhirnya Perawan Tak Bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga berserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut. Terangkatnya Perawan Suci adalah satu keikutsertaannya yang istimewa pada kebangkitan Putranya, dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.” (KGK. 966).

 

Ada beberapa point yang dapat kita renungkan dari kutipan Katekismus Gereja Katolik di atas:


1.    Apakah Bunda Maria meninggal dunia?

        Sama seperti Yesus dan manusia yang lainnya, Maria juga mengalami kematian. Dikatakan dalam KGK, bahwa “sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia”. Kematian adalah akhir dari perjalanan hidup di dunia secara normal. Namun, kematian bukan akhir dari segala-gala, karena kematian membuka tabir kehidupan yang baru, yaitu kehidupan kekal di surga.


2.    Apa maksudnya Maria diangkat ke surga?

        “Sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, [Bunda Maria] telah diangkat memasuki kemuliaan di surga berserta badan dan jiwanya.” Sama seperti Yesus, Maria juga mengalami kebangkitan badan setelah kematiannya. Maka, sama seperti Yesus juga Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya.


3.    Mengapa Maria diangkat ke surga?

        “[Maria] telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Putranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut.” Jika Yesus adalah Raja semesta alam, maka Bundanya Maria adalah Ratu alam semesta. Maria diangkat ke surga supaya ia lebih penuh menyerupai Putranya, Yesus Kristus. Bukan hanya di dunia saja Bunda Maria menyerupai Putranya dalam segala hal (ketaatan iman, kerendahan hati, dll), tetapi juga di surga.


4.    Apa makna Maria diangkat ke surga bagi kita?

Pertama-tama, “terangkatnya Perawan Suci adalah satu keikutsertaannya yang istimewa pada kebangkitan Putranya”. Yesus sebagai buah sulung dari kebangkitan badan, maka Maria-lah manusia pertama yang mengalami kebangkitan badan itu setelah Yesus. RAHMAT ISTIMEWA ini diterima oleh Maria, karena jasanya melahirkan dan membesarkan Yesus, Putra Allah. Oleh karena itu, karena Bunda Maria telah mengalami kebangkitan badan, maka ia juga mengalami kehidupan kekal di surga. Dan itu tercapai melalui proses diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya.


Kedua, bagi kita peristiwa Maria diangkat ke surga adalah “satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.” Artinya, telah ditampakkan bagi kita, bahwa sebagaimana Yesus dan Bunda Maria mengalami kebangkitan badan dan kehidupan kekal di surga, kelak kita juga akan mengalami hal yang sama, yaitu pada akhir zaman. Pada akhir zaman, jiwa kita akan bersatu kembali dengan tubuh kita yang baru. Itulah peristiwa kebangkitan badan. Dan kita akan memasuki suatu dunia yang baru, setelah dunia yang lama ini, yang penuh dengan kejahatan dan dosa dihancurkan. Itulah peristiwa akhir zaman, yaitu pada saat kedatangan Yesus yang kedua kali ke dunia ini sebagai Raja untuk menghakimi orang yang hidup dan yang sudah mati.


5.    Apa yang harus kita lakukan sekarang?

        Pertama-tama, kita harus memiliki kerinduan akan Surga. Kita harus percaya, bahwa Surga itu lebih indah dari dunia. Dunia ini sifatnya sementara saja, sedangkan surga itu abadi dan kekal. Jika kita sudah punya kerinduan akan Surga, dan pemahaman yang benar tentang Surga ini, maka segala sikap hidup kita akan terarah kepada kerinduan ini, dan menyesuaikan diri agar kelak dapat menikmati kebahagiaan kekal, yang tak tergantikan ini.


        Kedua, doa menjadi sumber kekuatan kita, agar kerinduan ini tidak hilang dan tergantikan oleh sesuatu yang lain, yang duniawi dan fana. Maka, rajin-rajinlah berdoa bersama Bunda Maria, agar kelak kita juga diperkenankan untuk menikmati kehidupan kekal bersama dia dalam Kerajaan Surga.


        Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah sikap hidup kita. Kita harus melakukan apa yang kita imani dan kita doakan. Dengan demikian, kita bekerja sama dengan Allah untuk mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini. rahmat Allah dapat bekerja dengan efektif jika kita dengan segala kemampuan kita yang ada, mau bekerja sama dengan Allah, dengan cara hidup kita yang baik dan melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Semoga Perayaan Santa Perawan Maria diangkat ke surga ini memberikan rahmat dan berkat bagi kita semua yang merayakannya. Amin.   


R.D. Vinsensius

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau



Share:

Saturday, 13 June 2020

HADIR UNTUK BERSATU

(Hari Raya Tubuh & Darah Kristus: 
14 Juni 2020)




Saudara-saudari, pada perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, kita ingin merenungkan tentang kehadiran Yesus yang nyata dalam Sakramen Ekaristi, dan manfaatnya bagi kehidupan iman kita. Dalam Bacaan pertama, kehadiran Kristus dalam rupa roti telah diantisipasi melalui peristiwa turunnya manna, roti yang diberikan Allah kepada orang Israel ketika mereka mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Roti itu yang memberi hidup kepada mereka di tengah kelaparan. Namun, Allah tetap mengingatkan mereka, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Sabda yang diucapkan oleh Tuhan. (bdk. Ul. 8:3).

Sabda Tuhan inilah, yang dengan kuasa Roh Kudus, mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi (lih. KGK, 1375). Hal ini sesuai dengan sabda Yesus, dalam Bacaan Injil. Yesus telah menyebut diri-Nya: Roti Kehidupan, yang turun dari surga. Roti ini berbeda dengan manna yang dimakan oleh nenek moyang Israel di padang gurun, karena Roti ini adalah Daging-Nya sendiri yang akan diberikannya kepada manusia, agar mereka dapat memperoleh hidup yang kekal. Yesus bersabda: “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh. 6:54).

Saudara-saudari, dengan iman kita percaya akan Kehadiran Yesus yang nyata dalam Sakramen Mahakudus. Roti dan anggur yang kita terima dalam Ekaristi, bukan lagi roti dan anggur secara hakikatnya, karena melalui doa konsekrasi dari imam, terjadilah suatu perubahan seluruh substansi roti dan anggur ke dalam substansi Tubuh dan Darah Kristus. Perubahan inilah yang secara tepat disebut dengan perubahan hakiki/ kodrat [transsubstansi] (lih. KGK. 1376).

Memang secara manusiawi, kita masih melihat rupa roti dan anggur, dan kita masih merasakan rasa roti dan anggur. Secara inderawi kita tidak dapat menangkap kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur, karena keterbatasan inderawi kita. St. Thomas Aquinas mengatakan: “Bahwa, Tubuh dan Darah Kristus yang sebenarnya hadir dalam Sakramen ini, tidak dapat ditangkap oleh indera, tetapi hanya oleh IMAN, yang bersandar pada otoritas ilahi.” (KGK. 1381).

Maka, marilah kita senantiasa mengimani Kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Yesus hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur, agar kita yang menerima-Nya dalam keadaan layak, dapat juga secara nyata bersatu dengan Dia. Persatuan yang erat dengan Yesus menjadi buah pertama dari Komuni Kudus. (bdk. KGK. 1391)

Persatuan dengan Tubuh dan Darah Kristus juga berguna bagi kita untuk membangun kesatuan Gereja, yang adalah Tubuh Mistik Kristus (lih. KGK. 1396).  Sebagaimana yang kita dengarkan dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus menegaskan lebih lanjut tentang makna Ekaristi: “Karena roti itu hanya satu, maka kita ini, sekalipun banyak merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu.” (1Kor. 10:17).

Maka, marilah kita senantiasa membangun dan membawa persatuan dengan Yesus dan sesama, dan bukan perpecahan. Dengan persatuan yang sejati ini, maka kelak kita juga akan mengalami persatuan yang kekal dengan Allah dalam perjamuan abadi di surga. Amin.  

*KGK: Katekismus Gereja Katolik
*lih: lihat
*bdk: bandingkan


R.D. Vinsensius
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau




Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive