BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Friday, 30 August 2019

Disdukcapil melakukan pelayanan Jemput bola di Paroki Sosok



Paroki Sosok - Disdukcapil Kabupaten Sanggau melakukan kunjungan pelayanan Jemput Bola pembuatan Akta Kelahiran dan Akta Perkawinan di Paroki Kristus Raja Sosok, pelayanan tersebut bertujuan untuk peningkatan Pencatatan Akta Perkawinan di Kabupaten Sanggau tahun 2019-2020, dalam paparan nya Ibu Theodora Febrianty,SH yang merupakan kasi Perkawinan dan Perceraian menjelaskan dasar kegiatan tersebut adalah UU Nomor 1 Tahun 1974 Bab I Pasal 2  yang berbunyi : 
  1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
  2.  Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kegiatan tersebut sudah dilakukan dibeberapa Paroki diantaranya : Paroki Jangkang, Paroki Batang Tarang dan hari ini dilaksanakan di Paroki Kristus Raja Sosok.




Share:

Thursday, 29 August 2019

JADILAH RENDAH HATI


(Hari Minggu Biasa XXII: 1 September 2019)

Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kita perlu belajar dari padi. Semakin ia berisi semakin ia merunduk. Demikian pula sebagai manusia, semakin tinggi jabatan kita, dan semakin banyak ilmu kita, kita harus juga semakin rendah hati. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Kerendahan hati menjadi tema utama yang patut kita renungkan pada hari ini.

Dalam bacaan pertama, Putra Sirakh mengingatkan kita untuk bersikap sopan dalam bekerja, dan juga bersikap rendah hati, serta bersikap bijaksana. Ketiga hal ini sangat penting dalam kehidupan kita. Di tengah kemajuan zaman yang menggerus budaya kita, sehingga banyak orang tidak lagi mengenal sopan santun. Berbagai sarana bejalar sudah tersedia dan mudah diakses di mana-mana, tetapi banyak orang yang malah menjadi kurang ajar! Inilah tantangan hidup kita di zaman modern ini. Inilah krisis lingkungan hidup yang kita alami saat ini. Kita harus tetap mempertahanan budaya sopan santun terhadap sesama dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita.

Hal kedua yang patut kita perhatikan juga ialah sikap rendah hati. Putra Sirakh mengatakan, bahwa orang yang merendahkan dirinya akan mendapat karunia di hadapan Tuhan. Demikian pula sebaliknya, orang yang sombong akan ditimpa kemalangan dan keburukan akan berurat berakar di dalam dirinya, sehingga apa pun yang ia hasilkan semuanya adalah keburukan dan kejahatan.

Sikap yang rendah hati juga ditegaskan oleh Yesus di dalam Bacaan Injil tadi. Yesus bersabda, “Siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Artinya, orang yang sombong tidak disukai oleh Tuhan. Di hadapan Tuhan ia pandang hina dan akan menerima tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Sedangkan orang yang rendah hati akan mendapat tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga, sebab Tuhan suka akan sikap yang rendah hati.

Di tengah arus modernisasi ini, kesombongan menjadi hal yang utama di dalam hidup manusia. Banyak orang yang sombong, karena jabatannya atau kekayaannya. Kesombongan itu juga membuat ia “lupa daratan”. Atau lebih tepatnya lupa akan Surga. Ia bergaul dengan orang-orang yang selevel dengan dia saja, dan mengabaikan orang-orang yang miskin, menderita dan tersingkir. Dengan demikian ia tidak akan memperoleh kebahagiaan yang sejati, abadi dan kekal. Maka, sabda Yesus pada hari ini menegur kita semua untuk memberikan perhatian kita juga kepada orang-orang yang miskin, malang, sakit, menderita dan tersingkir. Memang secara material, mereka tidak dapat membalas semua perhatian, bantuan, dan kebaikan yang kita berikan. Tetapi Tuhan sendiri yang akan membalasnya pada Hari Kebangkitan orang-orang benar. “Upahmu besar di Surga,” sabda Tuhan.

Pesan ketiga yang disampaikan Putra Sirakh adalah agar kita menjadi orang yang bijaksana. Maka, kita perlu memiliki hati yang arif dan telinga yang pandai. Ada kaitan yang erat antara hati dan telinga, sebab dengan telinga kita “mendengarkan” dan dengan hati kita “merenungkan” kebijaksanaan.

Saudara-saudari terkasih, memasuki Bulan Kitab Suci Nasional ini, marilah kita memiliki hati yang arif dan telinga yang pandai dalam mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Dari Kitab Suci-lah kita memperoleh nasihat-nasihat yang penting bagi kehidupan kita sehari-hari, agar kita bisa mewartakan Kabar Baik di tengah krisis lingkungan hidup. Hanya dengan membaca dan mendengarkan sabda Tuhan, serta merenungkannya di dalam hati dan melakukannya dalam perbuatan nyata, maka kita akan mendapatkan karunia dan berkat dari Tuhan. Maka, marilah kita isi hari-hari kita dengan membuka Kitab Suci, membacanya dengan penuh perhatian, dan merenungkannya di dalam hati. Itulah satu-satunya jalan agar kita dapat melaksanakan kehendak Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari.

Selamat memasuki Bulan Kitab Suci Nasional 2019.



Pastor Vinsensius, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
Berkarya di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus” Sanggau

Share:

Saturday, 24 August 2019

RAKERDA 1 LP3KD SEKABUPATEN SANGGAU



Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) mengadakan kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pertama LP3KD Se-Kabupaten Sanggau, yang dilaksanakan pada tanggal 23-24 Agustus 2019, acara tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua LP3KD Provinsi Kalimantan Barat yakni bapak Drs.Ignasius Lyong,MM, hadir pula dalam acara tersebut wakil Bupati Sanggau Bapak Yohanes Ontot,M.Si yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum LP3KD Kabupaten Sanggau, serta beberapa pengurus LP3KD Kabupaten Sanggau yang juga menjadi nara sumber pemberi materi, yakni :
  1. Yakobus,SH,MH
  2. Daniel,S.Pd
  3. Susana Herpena,S.Sos
  4. Dr.Aloysius Mering

Pada hari pertama disampaikan 4 materi yang terbagi dalam 2 sesi yakni
  1. Eksistensi LP3KD
  2. Tugas dan fungsi pengurus LP3KD
  3. Penyampaian program kerja LP3KD Kabupaten Sanggau tahun 2019-2020
  4. Petunjuk teknis pesparani tingkat Nasional ke 2 di Kupang pada tahun 2020.
dan kegiatan diakhiri dengan rapat pleno untuk menentukan sistem seleksi peserta Perparani 2020 di NTT dengan kesepakatan bahwa peserta akan disaring dengan sistem ausisi.


Dihari berikutnya Sabtu, 24 Agustus 2019 acara diawali dengan misa syukur dan setelah itu dilanjutkan dengan pengukuhan kepengurusan LP3KD Tingkat Kecamatan, yang pengukuhannya di pimpin oleh Bapak Yohanes Onton,M.Si selaku Ketua Umum LP3KD Kabupaten Sanggau, usai itu diadakan pula acara ramah tamah dan sayonara.








Share:

Friday, 23 August 2019

PINTU SEMPIT MENUJU KESELAMATAN


(Hari Minggu Biasa XXI: 25 Agustus 2019)

Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, seringkali orang mengeluh: “Semakin saya dekat dengan Tuhan, semakin berat cobaan yang saya hadapi dan semakin banyak tantangannya.” Pernyataan ini muncul, karena banyak orang menganggap bahwa dengan dekat sama Tuhan semua cobaan dan tantangan akan hilang. Mereka lupa dengan perintah Yesus, supaya menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari, serta mengikuti jejak Yesus. Maka, Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini mengingatkan kita semua bahwa untuk sampai kepada Keselamatan yang sejati kita perlu melalui pintu yang sempit.

Dalam Bacaan Injil yang barusan kita dengarkan tadi, Tuhan Yesus menanggapi pertanyaan dari seseorang tentang keselamatan. Tuhan Yesus meminta mereka supaya berjuang untuk masuk melalui “pintu yang sempit”. Banyak orang yang mau berusaha masuk tetapi tidak bisa. Mengapa? Karena mereka telah melakukan kejahatan! Untuk menjelaskan alasan ini, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang seorang tuan yang mengadakan perjamuan makan. Tuan itu menutup pintu rumahnya, padahal masih ada orang yang mau masuk dan ikut dalam perjamuan itu. Mereka memprotes tuan itu, karena mereka merasa sudah dekat dengan tuan itu. Mereka sudah pernah mendengarkan pengajarannya dan makan bersama dia. Tetapi tuan itu mengatakan dengan keras, bahwa ia tidak mengenal mereka, karena mereka telah melakukan kejahatan. Kejahatan inilah yang membuat mereka tidak layak untuk masuk ke dalam perjamuan makan bersama tuan ini.

Saudara-saudari terkasih, dengan perumpamaan tentang pintu yang sempit, Yesus ingin mengatakan bahwa mengikuti ajaran Yesus bukanlah hal yang gampang dan bukannya tanpa kesulitan, cobaan, dan tantangan. Perjuangan untuk menjadi murid-murid Yesus itu seperti seorang yang mau masuk melalui pintu yang sempit. Ia akan menemukan kesulitan, tantangan, kadang kehabisan akal, dan bahkan bisa sampai berputus asa. Namun, sesungguhnya, pintu yang sempit itulah akan membawa kita menuju kepada keselamatan kekal.

Pintu yang sempit itu adalah ajaran-ajaran Tuhan Yesus yang harus kita dengarkan dan kita renungkan, serta harus kita lakukan dalam kehidupan kita setiap hari. Ajaran yang mana? Ada banyak ajaran dari Tuhan Yesus, yaitu cinta kasih, pengampunan, keadilan, kejujuran, dan lain sebagainya. Kita akan mengetahui semua ajaran Tuhan Yesus, jika kita rajin membaca, mendengarkan, dan merenungkan Kitab Suci. Apakah hanya sampai di situ saja? Tidak! Kita masih harus melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Perumpamaan tentang perjamuan makan yang diadakan oleh sang tuan ini ingin menjelaskan kepada kita, apa yang terjadi jika seseorang tidak mau masuk melalui pintu yang sempit. Di hadapan Tuhan, ia tidak layak untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Mengapa? Karena ia telah melakukan kejahatan. Sekalipun ia mengaku bahwa ia pernah mendengarkan pengajaran Tuhan, dan pernah ikut dalam perjamuan Tuhan, namun jika ia tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan dan malah melakukan kejahatan, maka ia tidak layak masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk senantiasa mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus mengetahui apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Maka, kita perlu membaca dan merenungkan Kitab Suci. Namun mengetahui saja tidak cukup, kita juga harus mengimani apa yang diajarkan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci. Maka, kita perlu berdoa dan memohon rahmat iman dari Tuhan. Namun mengimani saja belumlah cukup, kita juga harus melakukan ajaran Tuhan yang kita imani itu. Maka, tugas kita selanjutnya adalah melakukan semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam kehidupan kita masing-masing.

Marilah kita mohon rahmat dan bantuan dari Allah, agar kita dapat melaksanakan perintah Tuhan di tengah tantangan duniawi yang kita hadapi dan di tengah segala cobaan yang ada. Kita harus percaya, bahwa “pintu sempit” yang kita lewati ini akan membawa kita menuju kepada keselamatan yang sejati, yang berasal dari Allah sendiri.


Pastor Vinsensius, Pr.

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau



Share:

Monday, 19 August 2019

181 Umat Katolik Paroki Sosok Menerima Sakramen Krisma

Nuansa merah Putih meriah nya peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke 74 seakan menjadi pendukung semaraknya penyambutan Krisma oleh 181 orang Umat Katolik di Paroki Kristus Raja Sosok, Acara tersebut di selenggarakan pada hari Minggu, 18 Agustus 2019 yang bertepatan dengan Perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Kesurga.
Dalam perayaan tersebut nampak 3 orang Pastor dan Uskup Keuskupan Sanggau mengenakan pakaian merah putih, dan setidaknya 181 umat peserta Penerima Krisma mengenakan baju Putih.

Usai Misa Penyambutan Sakramen Krisma diadakan acara ramah tamah yang dilaksanakan di lapangan Volly dan parkir yang sudah di jamah oleh tangan-tangan profesional sehingga menjadi tempat yang sangat menarik. Dalam kegiatan tersebut nampak banyak sekali meja-meja yang tertata sajian makan siang, yang dipersembahkan oleh Umat Katolik Paroki Kristus Raja Sosok, baik dari Kring maupun stasi-stasi.
Foto Bersama Peserta Krisma Tingkat Umum

Foto Bersama Peserta Krisma Tingkat Pelajar
 Dalam acara ramah tamah tersebut diisi pula dengan persembahan lagu serta tarian sehingga membuat suasana semakin semarak.
Prosesi Penerimaan Sakramen Krisma


Misdinar yang terlibat dalam pelayanan




Ketua Panitia (Erik,S.Pd)



Pastor John Eddi,Pr (Pastor Kepala Paroki)


Mgr. Julius Giulio Mencuccini, C.P.

Pastor Fidelis Siagian,Pr

Sesi makan Bersaa


Share:

Thursday, 15 August 2019

HOMILI HARI KEMERDEKAAN


(Hari Raya Kemerdekaan RI ke-74: 17 Agustus 2019)

P. Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, Dalam Pembukaan UUD Negara Repubik Indonesia 1945 dikatakan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Maka, merayakan Hari Kemerdekaan ini juga adalah hak kita sebagai bangsa yang merdeka. Ada berbagai cara orang merayakan Hari Kemerdekaan ini. Ada yang dengan perlombaan, festival, pawai, dan acara-acara meriah lainnya. Namun, sebagai umat beriman kita jangan sampai lupa merayakan Kemerdekaan ini dengan bersyukur kepada Tuhan, sebab Kemerdekaan ini adalah karunia dari Tuhan, sebagaimana yang ditegaskan pula dalam UUD 1945: “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Maka, Misa Kudus pada hari ini merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah mengaruniakan kepada kita kemerdekaan, yang telah kita alami selama 74 tahun ini. Sekaligus kita juga ingin merenungkan apa artinya kemerdekaan bagi kita sebagai murid-murid Kristus.

Saudara-saudari terkasih, kita semua dipanggil untuk Kemerdekaan, maka kita harus saling mengabdi dalam Cinta Kasih. Pemazmur mengajak kita semua untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hidup tanpa cela, hidup yang suci, dan menjauhi segala macam kejahatan. Rasul Petrus dalam suratnya juga mengingatkan kita semua untuk menjadi warga negara yang baik. Sebagai warga negara yang baik, kita harus taat kepada peraturan Negara, karena mereka yang memerintah Negara ini telah diserahkan tugas untuk menjamin kebaikan dalam kehidupan bersama, dan menghukum segala bentuk kejahatan. Maka, menghormati pemerintah dan menaati segala peraturan Negara menjadi wujud nyata dari iman kita kepada Allah.

Tuhan Yesus sendiri menghendaki kita agar menjalankan dengan baik kewajiban kita sebagai warga negara: “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Memang dalam Injil tadi permasalahan yang muncul adalah kewajiban membayar pajak. Tetapi, sebenarnya kewajiban kita sebagai warga negara lebih daripada persoalan membayar pajak. Mentaati segala peraturan yang ada di masyarakat, menegakkan keadilan sosial, dan mewujudkan kebaikan bersama juga menjadi kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Maka, Sabda Yesus dapat menjadi pedoman bagi hidup kita, agar kita bisa memenuhi segala tugas, dan tanggung jawab, serta kewajiban kita, baik sebagai warga negara maupun sebagai anggota Gereja. Kita harus menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia seperti yang diserukan oleh Mgr. Soegijapranoto, Uskup pertama dari Indonesia.

Saudara-saudari terkasih, kesejahteraan sosial dan kebaikan bersama akan terwujud, jika ada kerja sama yang baik antara warga negara dan pemerintah. Maka, Putra Sirakh mengingatkan, agar pemerintah bersikap bijaksana, arif, dan bertanggung jawab, agar dapat menjamin ketertiban dan keteraturan di dalam Negara. Jabatan sebagai pemerintah adalah karunia dari Tuhan, sebab “Di dalam tangan Tuhan-lah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat.” Maka dari itu, kita harus menjauhi sikap saling membenci, dan jangan terpengaruh oleh nafsu duniawi, serta jangan jatuh dalam kesombongan dan kejahatan.

Marilah dalam kesempatan yang berbahagia ini, pada perayaan Hari Ulang Tahun Negara kita Republik Indonesia yang ke-74 ini, kita berdoa bagi Negara kita, baik bagi pemerintah maupun seluruh warga negaranya, agar selalu dilindungi oleh Tuhan dan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing dengan baik dan benar. Mari kita hening sejenak untuk menyampaikan doa-doa kita di dalam hati kita masing-masing.

 P. Vinsensius, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau




Share:

Saturday, 10 August 2019

Baliho Kunjungan Pastoral dan Penerimaan Sakramen Krisma di Paroki Kristus Raja Sosok

Berkenaan dengan jadwal kunjungan Uskup Keuskupan Sanggau di Paroki Kristus Raja Sosok dalam rangka Penerimaan Sakramen Krisma, telah di persiapkan beberapa hal oleh Kepanitiaan diantaranya Pembekalan Peserta Krisma, persiapan lokasi acara ramah tamah dan tidak pula ketinggalan persiapan pembuatan Spanduk Ucapan Selamat Datang dan Spanduk nama kegiatan yang akan di pasang di dalam gereja dengan ukuran 3x1 Meter.
Spanduk Nama Kegiatan yang akan dipasang di dalam gereja 

Spanduk Ucapan Selamat Datang yang akan dipasang di Pintu Gerbang

Share:

Thursday, 8 August 2019

MENJADI HAMBA YANG SETIA


(Hari Minggu Biasa XIX: 11 Agustus 2019)


P. Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, Injil pada hari ini mengajak kita merenungkan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menantikan Kedatangan Tuhan. Kedatangan Tuhan adalah salah satu misteri dari iman kita. Dikatakan misteri, karena kita tidak tahu kapan waktunya Tuhan akan datang. Tuhan akan datang pada saat yang tidak kita duga. Kedatangan Tuhan ini disebut sebagai akhir zaman, atau dalam bahasa populer sering disebut kiamat. Ini adalah sebuah misteri iman yang tidak bisa kita ketahui sepenuhnya dengan akal budi manusiawi kita, tetapi dengan iman kita percaya, bahwa Kedatangan Tuhan itu pasti akan terjadi. Kedatangan-Nya kita rindukan, seperti yang sering kita nyanyikan dalam ananemsis.

Dalam Syahadat Para Rasul, kita juga mengakui, bahwa kita percaya akan Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini. Salah satu kalimat dalam Doa Aku Percaya, kita mengatakan: “Dari situ Ia akan datang, mengadili orang yang hidup dan yang mati.” Dari situ, artinya dari surga. Ia disini adalah Tuhan Yesus sendiri, yang dari surga akan datang kembali ke dalam dunia untuk menjadi Hakim Agung pada akhir zaman, yang mengadili orang hidup dan yang sudah mati. Inilah yang disebut dengan Pengadilan Terakhir. Peristiwa ini sangat penting, karena saat inilah keputusan terakhir, apakah kita akan masuk ke dalam Dunia yang baru atau tidak. Maka dari itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambut Kedatangan Tuhan.

Saudara-saudari terkasih, dalam hal mempersiapkan diri untuk menyambut Kedatangan Tuhan, Yesus memberikan dua perumpamaan, yaitu tentang hamba yang setia dan pencuri di malam hari. Kedatangan Tuhan diumpamakan seperti seorang tuan yang akan pulang dari pesta perkawinan. Entah kapan tuan itu akan pulang, entah tengah malam atau subuh? Maka, hambanya harus siap sedia dan berjaga-jaga menantikan kedatangan tuannya. Kedatangan Tuhan juga diumpamakan seperti seorang pencuri yang datang pada malam hari. Entah malam kapan pencuri itu akan datang? Malam ini atau besok malam? Atau hari apa? Tidak ada seorang pun yang tahu. Maka, sikap yang sama juga harus ada pada diri tuan rumah, yaitu bersiap sedia dan berjaga-jaga.   

Saudara-saudari terkasih, sikap bersiap sedia dan berjaga-jaga bukan berarti kita hanya diam saja, seperti orang yang ronda malam. Tetapi harus seperti seorang hamba yang setia, yang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan tuannya. Tuhan Yesus bersabda, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat.” Mengangkat baju yang panjang dan mengikatnya pada pinggang adalah tanda siap untuk melakukan tugas. Seorang hamba yang setia akan selalu siap untuk menjalankan tugasnya, dan tidak pernah melalaikan satu pun pekerjaannya.
Entah itu mempersiapkan makanan, atau minuman, entah membersihkan rumah atau perabot rumah tangga, dan lain sebagainya. Intinya, ada suatu kegiatan yang bermanfaat, yang dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan tuannya itu.

Lalu, apa ganjaran bagi seorang hamba yang setia? Tuhan Yesus bersabda, “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” Suatu ganjaran yang tidak pernah dibayangkan oleh seorang hamba, yaitu dilayani oleh tuannya sendiri. Peran akan dibalik, tuan sendiri akan mengikat jubahnya yang panjang pada pinggangnya dan melayani hamba-hambanya. Suatu kebahagiaan yang tidak pernah diduga dan tidak pernah disangka oleh para hamba tersebut.

Saudara-saudari terkasih, sama seperti para hamba yang setia, kita juga harus memiliki sikap bersiap sedia dan berjaga-jaga dalam menantikan Kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Kita tidak boleh lengah dan terbuai oleh kenikmatan dunia ini, sehingga kita lupa dengan Tuhan. Kita harus mengikuti teladan dari hamba yang setia, yang melakukan segala sesuatu yang baik untuk mempersiapkan kedatangan tuannya. Maka, kita juga harus melakukan hal-hal yang baik untuk mempersiapkan Kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Sikap yang perlu kita bangun adalah sikap batin yang selalu dekat dengan Tuhan. Selalu siap melayani Tuhan dalam diri sesama, terutama mereka yang miskin, menderita, dan tersingkir. Perhatian kita, kepedulian kita, dan bantuan kita, meskipun kecil sangat berarti bagi mereka yang sangat membutuhkannya. Dan bahkan apa yang kita lakukan bagi mereka yang paling hina ini, sebenarnya kita lakukan bagi Tuhan Yesus sendiri.

Maka, marilah saudara-saudari yang terkasih, kita meneladan sikap dari para hamba yang setia, dengan sikap yang selalu siap sedia dan berjaga-jaga, agar kelak kita didapati Tuhan dalam keadaan yang layak untuk masuk ke dalam Perjamuan-Nya yang abadi di dalam Kerajaan Surga. Berkat Allah senantiasa menyertai kita semua.


 P. Vinsensius, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau



Share:

Thursday, 1 August 2019

JAUHI KETAMAKAN, UTAMAKAN KEBAIKAN BERSAMA


 (Hari Minggu Biasa XVIII: 4 Agustus 2019)


Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, dalam kehidupan ini banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta duniawi. Harta itu bisa berasal dari usahanya sendiri, maupun berasal dari warisan orang tuanya. Karena nafsu akan kekayaan dunaiwi yang begitu besar ini, maka tak jarang terjadi perselisihan antar saudara kandung dalam sebuah keluarga, dan bahkan bisa menjadi sumber keretakan dan kehancuran dalam keluarga. Semua itu hanya gara-gara ketamakan diri, dan mengabaikan kebaikan bersama. Maka, Injil yang barusan kita dengarkan tadi menjadi inspirasi bagi kita untuk menjauhi ketamakan, dan mengutamakan kebaikan bersama.

Bacaan Injil tadi mengisahkan kepada kita: suatu sengketa pembagian warisan, yang ditanggapi oleh Yesus dengan peringatan tentang ketamakan, dan dengan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Di balik sengketa ini, ada suatu latar belakang yang luhur dalam tradisi orang Israel. Mereka mencita-citakan suatu kebaikan bersama. Tinggal bersama sebagai saudara di tanah warisan nenek moyang mereka, tanpa membagikannya. Namun demikian, seorang saudara berhak meminta bagian harta miliknya. Pembagian itu harus dilakukan menurut ketentuan hukum Taurat. Kalau terjadi sengketa, mereka harus mencari bantuan seorang ahli Taurat, yang dapat menyelesaikan masalah mereka, yang menjadi hakim dan penengah bagi mereka. Maka, dengan mengatakan, “Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim dan penengah bagimu?”, Yesus bermaksud menolak untuk berperan sebagai akhi Taurat yang berwenang memutuskan perkara ini. Yesus memiliki misi pengajaran yang berbeda dengan ahli Taurat. Yesus ingin mengungkapkan akar dari sengketa harta warisan ini, yaitu ketamakan.  

Tuhan Yesus bersabda, “Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.” Kebahagiaan hidup sebenarnya tidak tergantung dari banyaknya harta milik yang dimiliki seseorang. Harta benda bukan jaminan bagi kehidupan yang sejati, apalagi kehidupan yang kekal. Harta benda akan berguna, bila digunakan untuk melayani sesama. Maka, Yesus meminta para murid-Nya untuk melepaskan diri dari keterikatan akan harta duniawi, dan memberikannya kepada orang miskin, agar mereka dapat memperoleh harta di surga.

Bahaya dari ketamakan ini dijelaskan oleh Yesus dalam Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Dalam perumpamaan ini, Orang kaya itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Keinginannya tak lebih daripada menikmati hidupnya dalam kemewahan, tanpa memperdulikan orang lain yang miskin dan menderita. Ia menyangka, bahwa kenikmatan hidupnya dijamin oleh hartanya yang banyak itu. Kesalahannya di sini bukan karena ia kaya, tetapi karena ia tamak dalam mempergunakan kekayaaan, sehingga ia tidak memperdulikan sesama dan tidak mengutamakan kebaikan bersama. Orang kaya yang mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri, sesungguhnya tidak kaya di hadapan Allah. Ia tidak mengumpulkan harta di surga, karena tidak menggunakana harta miliknya untuk kebaikan bersama.

Saudara-saudari terkasih, keselamatan hidup kita tidak tergantung kepada harta kekayaan duniawi. Seberapa pun banyaknya harta kita, toh semuanya itu akan kita tinggalkan untuk orang lain saat kita mati nanti. Maka, pesan Injil pada hari ini mengajak kita semua untuk menjauhi ketamakan dan mengutamakan kebaikan bersama. Janganlah tamak dan pelit kepada sesama. Kembangkanlah sikap berbagi dan peduli dengan sesama. Tingkatkan karya amal, memberikan bantuan-bantuan sosial kepada orang lain, dan derma kepada orang-orang yang miskin dan menderita. Itulah caranya agar kita memperoleh harta di surga. Semoga dengan renungan hari ini, kita dapat berubah menjadi orang yang peduli kepada sesama, bermurah hati dan mau berbagi dengan sesama. Berkat Allah senantiasa menyertai kita semua. Amin. 



Pastor Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau







Share:

Thursday, 25 July 2019

BELAJAR DARI DOA “BAPA KAMI”


(Minggu Biasa XVII: 28 Juli 2019)


P. Vinsensius, Pr.




Kita pasti pernah mendengar tentang hukum ekonomi, yang berkaitan dengan managemen keuangan, yaitu prinsip dalam berbelanja: “Belilah apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan.” Kalau kita menuruti keinginan kita, banyak sekali yang kita inginkan, tetapi sebenarnya hanya sedikit yang kita butuhkan. Jika kita hanya menuruti keinginan kita, maka kebutuhan kita tidak akan tercukupi, dan bahkan terabaikan. Apa yang terpenting dan sangat kita butuhkan malah tidak terpenuhi, jika kita hanya mengikuti keinginan kita saja. Maka, kita harus bisa membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang hanya keinginan saja?

Demikian pula halnya dalam berdoa. Ada orang yang mengeluh, “Doa saya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan!” Pertanyaannya: “Apakah yang ia doakan itu adalah sungguh-sungguh apa yang ia butuhkan? Atau hanya sekedar keinginannya saja, yang sebenarnya tidak ia butuhkan?”

Melalui Injil hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita apa yang seharusnya kita doakan? Doa yang paling sempurna adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami menjadi contoh bagi setiap doa pribadi yang kita panjatkan kepada Tuhan. Dalam Doa Bapa Kami terkandung 5 permohonan, yaitu:

(1)          Dimuliakanlah nama-Mu
Ini merupakan suatu permohonan yang sesuai dengan perintah Allah: “Jangan menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat!” Maka, kita memohon agar nama Tuhan selalu dimuliakan melalui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kita sehari-hari.

(2)          Datanglah Kerajaan-Mu
Kita memohon agar Kerajaan Allah hadir di dalam kehidupan kita, yaitu kerajaan cinta kasih, seperti yang diwartakan oleh Tuhan Yesus. Di mana ada cinta kasih, hadirlah Tuhan.
Jika Kerajaan Allah telah hadir dalam hidup kita, maka kita akan melakukan Kehendak Allah, dan bukan kehendak kita sendiri. Kita bukan saja memohon “Jadilah kehendak-Mu”, tetapi kita sendiri akan melakukan Kehendak Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

(3)          Berilah kami rezeki pada hari ini
Rezeki di sini memiliki arti yang luas, bukan saja yang bersifat jasmani tetapi juga rohani. Dan bahkan jika kita mengucapkan Doa ini pada waktu Misa sebenarnya yang kita mohonkan adalah rezeki surgawi, yang sebentar lagi akan kita terima, yaitu Tubuh Kristus. Maka, dengan memohon rezeki, kita harus memohon bukan saja hal-hal yang bersifat jasmani, tetapi juga rohani, yaitu: iman, harapan, dan kasih, agar kita semakin dekat dengan Tuhan dan mengasihi sesama.

(4)          Ampunilah dosa kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dengan permohonan ini kita diajak untuk meneruskan rahmat pengampunan yang telah kita terima dari Allah, yaitu dengan mengampuni sesama. Di satu sisi kita memohon ampun kepada Tuhan, dan sekaligus kita memohon agar kita bisa  mengampuni sesama, seperti Allah telah mengampuni kita.

(5)          Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Kita memohon kepada Allah, agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa dan kejahatan. Dengan Doa ini, kita memohon Perlindungan dari Allah.

Saudara-saudari terkasih, belajar dari Doa Bapa Kami, maka marilah kita memohon kepada Tuhan: Apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan, sebab apa yang kita inginkan belum tentu berguna bagi diri kita dan keselamatan jiwa kita. Tuhan hanya akan mengabulkan doa kita, jika yang kita mohonkan adalah apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan. Dan dalam hal ini, Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita setiap hari, dan apa yang berguna bagi keselamatan jiwa kita.

Maka dari itu, belajarlah dari Doa Bapa Kami. Kelima permohonan dalam Doa Bapa Kami inilah yang sebenarnya sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita setiap hari. Kita membutuhkan keselamatan dari Allah, maka kita memohon, agar kita dapat memuliakan nama Allah, menghadirkan Kerajaan-Nya, dan melakukan kehendak-Nya. Kita juga membutuhkan rezeki, pengampunan, dan perlindungan dari Tuhan, maka itu juga menjadi isi dari permohonan kita.  Marilah kita berdoa  seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Doa kita harus sejalan dengan semangat Doa Bapa kami, sebab itulah yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Pastor Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
bertugas di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus”, Sanggau



Sumber-sumber Bacaan:

Berthold Anton Pareira, O.Carm, Homili Tahun C: Masa Khusus dan Masa Biasa, Dioma, Malang 2003.


Martin Harun, OFM, Lukas: Injil Kaum Marjinal, Kanisius, Yogyakarta 2019. 








Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive