BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Thursday, 28 November 2019

SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN


Hari Minggu Adven I: 
(1 Desember 2019)
Bac: Yes.2:1-5; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kedatangan Tuhan yang kedua kali ke dunia ini merupakan bagian dari iman kita. Kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan Yesus akan datang lagi untuk kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman. Kepercayaan ini kita ungkapkan dalam Syahadat para rasul: “dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati.” Dari situ, artinya dari Surga, Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia, untuk mengadili orang yang hidup dan yang sudah mati. Itulah yang disebut dengan pengadilan terakhir pada akhir zaman.

Bagi kita orang beriman, kedatangan Tuhan ini bukanlah sesuatu yang menakutkan, seperti yang kita bayangkan jika mendengar kata kiamat! Tetapi kedatangan Tuhan ini selalu kita rindukan dan nantikan dengan penuh harapan, seperti yang kita ungkapkan dalam Anamnesis: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan”.

Injil yang kita dengarkan pada hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan makna kedatangan Tuhan ini dalam hidup kita saat ini. Memang kedatangan Tuhan tetap menjadi misteri bagi kita. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang lagi ke dunia ini? Kapan itu akhir zaman? Tuhan Yesus mengumpamakan kedatangan Tuhan ini seperti seorang pencuri yang akan datang pada malam hari. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan pencuri akan datang. Demikian pula kedatangan Tuhan yang kedua kalinya ke dunia ini, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu kapan waktunya? Di sinilah letak dari misteri kedatangan Tuhan, bila kita berbicara tentang waktu.

Namun, di balik misteri kedatangan Tuhan ini, ada pesan yang ingin disampaikan oleh Yesus, yaitu berkaitan dengan cara hidup kita dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini. Tuhan Yesus membandingkan kedatangan-Nya pada akhir zaman, seperti kedatangan air bah yang membinasakan sekaligus menyelamatkan. Hanya orang-orang yang percaya kepada Allah, seperti Nuh dan keluarganya yang diselamatkan oleh Tuhan dari bencana air bah. Sedangkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dibinasakan oleh air bah ini. Demikian pula, pada akhir zaman, orang baik akan dipisahkan dari orang jahat. Orang jahat akan dibinasakan, sedangkan orang baik akan diselamatkan oleh Tuhan. Maka dari itu, sikap yang perlu kita bangun dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini adalah berjaga-jaga dan berdoa.

Sikap berjaga-jaga ini diserukan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Kita harus berjaga-jaga dengan cara “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.” Dengan menjauhi segala kejahatan dan melakukan kebaikan, kita telah mengamalkan sikap berjaga-jaga sesuai dengan yang Yesus ajarkan kepada kita.

Maka, marilah pada Masa Adven I ini kita membangun sikap tobat, agar kita dapat mempersiapkan diri, bukan saja merayakan kedatangan Yesus yang pertama ke dunia ini dalam Perayaan Meriah Natal, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman. Marilah kita bertekun dalam doa, memperbanyak waktu doa, dan semakin serius dalam berdoa. Doa hendaknya bukan saja menjadi rutinitas dan kewajiban belaka, tetapi harus menjadi kebutuhan bagi jiwa kita, perjumpaan yang intim dengan Tuhan sendiri, agar kita mendapatkan rahmat kekuatan dari Tuhan untuk dapat berjaga-jaga dalam melakukan segala kebaikan sesuai dengan kehendak Tuhan.  















Share:

Friday, 22 November 2019

YESUS RAJA PENGAMPUNAN


Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam:
(24 November 2019)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari, sering kali orang mengatakan, “Bagaimana seseorang bisa menyelamatkan orang lain, jika ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri?” Dengan pernyataan ini seolah-olah ingin dikatakan, bahwa seseorang hanya bisa menyelamatkan orang lain, jika ia sendiri selamat. Benarkah pernyataan ini? Sejauh mana kebenarannya? Keselamatan dalam hal apa dulu yang dimaksud? Banyak persoalan yang muncul dari pernyataan ini. Hal yang serupa juga dialami oleh Yesus. Ia menyelamatkan manusia dengan cara yang tragis, yaitu disalibkan. Hal ini tidak masuk akal bagi orang-orang Yahudi. “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1Kor. 1:18)

Injil pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini menampilkan kepada kita Yesus, Raja yang tersalib. Ia Raja yang diejek, diolok-olok, dihina, disiksa, dan dibunuh. Mengapa demikian? Karena sesuai dengan sabda Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yoh. 18:36). Lalu kerajaan seperti apa yang diwartakan oleh Yesus?

Kerajaan Yesus adalah Kerajaan Surga yang hadir di dunia. Di dalam Kerajaan Allah ini, nilai cinta kasih menjadi hukum yang utama dan pertama. Dari cinta kasih mengalirlah hukum-hukum dan nilai-nilai lainnya yang selaras dengan ajaran Yesus. Salah satunya adalah pengampunan. Yesus adalah Raja Pengampunan. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Penghinaan dan kekejian dibalasnya dengan pengampunan. Di atas kayu Salib Yesus berdoa bagi orang-orang yang telah menyalibkan Dia, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Di atas kayu salib Yesus juga mengampuni dosa penjahat yang disalibkan bersama Dia. Penjahat itu menyadari segala dosanya, dan mengakui kebaikan Yesus, bahwa Yesus tidak berbuat salah sama sekali. Dan dengan tulus penjahat itu memohon kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:42). Sejak saat itu orang tersebut bukan lagi penjahat, tetapi ia sudah menjadi orang kudus di tengah para kudus, sebab Yesus mengampuni dosanya dengan bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43).

Saudara-saudari terkasih, ada dua sikap yang dapat menjadi pegangan kita dalam mengimani Yesus sebagai Raja Pengampunan. Pertama, kita harus menjadi seperti Yesus yang mau mengampuni orang lain yang berbuat jahat kepada-Nya. Maka, kita juga harus mau mengampuni sesama kita yang bersalah kepada kita. Janganlah kita membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan, seperti yang dilakukan oleh Yesus.

Kedua, kita harus mengikuti teladan dari penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus, bukan mengikuti kejahatannya, tetapi meneladani pertobatannya dan kepercayaannya yang total kepada Yesus. Berkat pertobatan dan kepercayaannya kepada Yesus Raja Pengampunan, maka ia memperoleh rahmat pengampunan dosa dan keselamatan yang abadi.

Maka, menjelang Masa Adven ini, marilah kita menyadari segala dosa dan kesalahan kita, dan memohon ampun kepada Tuhan, agar kita juga boleh mengalami keselamatan yang berasal dari Tuhan. Dan marilah kita juga mengampuni sesama yang pernah berbuat salah kepada kita. Pertobatan dan pengampunan menjadi jalan bagi kita untuk memasuki Kerajaan Yesus. Dengan diampuni dan mengampuni kita akan mengalami kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini, dan secara penuh kelak di dalam Kerajaan Surga.  



Share:

Sunday, 17 November 2019

Peresmian dan Pemberkatan Gereja Katolik Fransiskus Asisi Stasi Bondes

Tatakatolik.com - Bupati Sanggau, Paolus Hadi, S.IP, M.Si hadir dalam peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Stasi Bondes, Desa Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu, Minggu (17/11/2019). Pemberkatan Gereja dilakukan oleh Uskup Keuskupan Sanggau, Mgr.Julius Giulio Mencuccini, CP dan sekaligus memimpin Misa bersama.
nampak hadir pada kesempatan tersebut Kepala OPD Kabupaten Sanggau, Sekcam Tayan Hulu yang sekaligus menjabat Plt Camat Tayan Hulu Bapak Drs.Manudi, Forkompimcam, Pastor Kepala Paroki John Eddi,Pr, Pastor Rekan yakni Fedelis Siagian,Pr, Plt.Kades Pandan Sembuat, Titus Linggang Hari, SE, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama dan masyarakat (umat) Stasi Bondes.
Iring-iringan Jalan Kaki Rombongan Uskup, Bupati dan Pastor dari Kediaman pemimpin Umat Stasi Bondes menuju gereja


Umat Stasi Bondes nampak begitu semarak dan dengan penuh kehangatan menyambut kedatangan  Uskup Sanggau dan Rombongan Bupati Sanggau. Kegiatan diawali dengan iring-iringan jalan kaki dari Kediaman Pemimpin umat Stasi Bondes, setelah itu dilaknjutkan ritual adat Dayak yakni Pancung Buluh Muda, Pembukaan Plang nama gereja, Penandatangan prasasti, Pemotongan Pita oleh Bupati Sanggau dan dilanjutkan dengan pemberkatan luar dan dalam gereja oleh Bpk.MgrJulius Giulio Mencuccini,CP.
Prosesi Pancung Buluh Muda
Usai Pembukaan Plang Nama Gereja

Penandatanganan Prasasti

Usai mengikuti misa uskup mengajak Panitia dan anak-anak untuk berfoto bersama, dengan harapan foto tersebut mampu menjadi kenangan dimasa-masa yang akan datang, sehingga anak-anak yang merupakan penerus gereja kelak mengingat kembali kenangan penuh sejarah tersebut.


Penyerahan Kunci Oleh Uskup Kepada Pemipin Umat






 






Dalam sambutannya M.Aliang selaku Ketua Panitia Peresmian dan Pemberkaan Gereja St.Fransiskus Asisi Stasi Bondes tidak lupa memaparkan penyampaikan ucapan terimakasih kepada Umat, para donatur dan Pemkab Sanggau yang sudah mau terlibat dalam hal pendanaannya, adapun dana yang diperoleh yakni dana swadaya umat sebanyak  Rp.76.994.700,-, sumbangan donatur 5.000.000,- dan dana hibah Tahap 1 Rp.80.000.000 serta dana Hibah Tahap II Rp.100.0000.000,-. sehingga jumlah dana yang diperoleh berjumlah Rp.261.994.700,-. Dan total dana yang dipergunakan untuk pebangunan gereja serta fasilitas pendukung lainnya senilai Rp.260.034.700,- belum termasuk dana untuk peresmian dan pemberkatan pada hari tersebut.

M.Aliang (Ketua Panitia Peresmian dan Pemberkatan)

Pada kesempatan tersebut, Pastor Paroki Kristus Raja Sosok P.John Eddi,Pr menuturkan adapun dana baik dari umat, donatur maupun Pemkab Sanggau membuktikan bahwa terjalinnya simpul-simpul kerjasama antara pihak Gereja dengan Pemerintah Daerah dan para donatur sehingga dapat terwujudnya bentuk pembangunan Gereja tersebut.
“Saya merasa senang dan bangga sebagai Pastor Kepala Paroki dari Tahun 2015 hingga saat ini sebanyak 4 Gereja sudah diresmikan. Setiap tahun kita mewujudkan satu Gereja di kampung dan ini merupakan suatu program dari Paroki,” tuturnya.
Pastor, John Eddi juga mengucapkan terimakasih kepada umat, para donatur serta dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau yang mau peduli terkait kehidupan rohani umat Katolik, sehingga dapat terwujudnya yang menjadi seven brand images dari pembangunan Kabupaten Sanggau yakni; masyarakat yang berbudaya dan beriman.
“Pesan saya bahwa kampung Bondes sudah memiliki Gereja. Setelah peresmian ini jangan sampai Gereja tinggal Gereja, dan sebagaimana kita ketahui selama ini dibeberapa kampung gereja hanya dipenuhi oleh Ibu-ibu dan anak-anak serta nenek-nenek" ujar nya.
P.John Eddi,Pr (Pastor Kepala Paroki Kristus Raja Sosok)
Dalam sela semaraknya acara ramah-tamah, Uskup Keuskupan Sanggau Mgr.Julius Giulio Mencuccini, CP menyampaikan bahwa Gereja ini merupakan Gereja yang ke-19 yang diresmikan untuk tahun 2019 ini, beliau juga menyampaikan bahwa Sejak beliau  menjadi Pastor Paroki hingga menjadi Uskup sekarang ini sudah meresmikan sebanyak 898 Gereja,.
Uskup Mgr.Julius Giulio Mencuccini, CP juga mengucapkan terimakasih kepada umat Stasi Bondes yang sudah membangun Gereja yang cukup megah ini. Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan acara pisah sambut dengan umat Katolik di Stasi Bondes mengingat tidak lama lagi beliau akan emeritus dari jabatannya sebagai Uskup karena faktor Usia.
Mgr.Julius Giulio Mencuccini, CP (Uskup Sanggau)

Pada kesempatan yang sama Bupati Sanggau, Paolus Hadi,S.Ip,M.Si menyampaikan bahwa dengan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. umat dan juga dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau sehingga Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Stasi Bondes pada hari diresmikan.
“Pembangunan Gereja ini merupakan program dari Pemerintah Kabupaten Sanggau yang setiap tahun kita selalu untuk penguatan iman dan ketaqwaan yaitu sebagaimana yang tertuang dalam seven brand images Kabupaten Sanggau yakni berbudaya dan beriman,” sebari bergurau dan memegang daun Sabang Merah, Bupati yang terkenal dengan lantunan lagu Doleng Donado menanggapi masih defisiynya dana Panitia setelah dikalkulasi dengan acara peresmian pada hari tersebut. "Saya pikir saya diundang disini datang cuma makan ja' tapi ternyata masih masih  sumbangan (GURAU JAX)". ujarnya. Suasana hati yang riang dan bangga nampak dari raut wajah orang nomor 1 di Kabupaten Sanggau tersebut.  “Terimakasih kepada masyarakat Dusun Bondes, kalian hebat, luar biasa tentunya mudah-mudahan kedepan umat kita akan semakin baik,” ucapnya.
Paolus Hadi, S.IP, M.Si (Bupati Sanggau)


.

Share:

Saturday, 16 November 2019

HARAPAN DI TENGAH PENDERITAAN


Hari Minggu Biasa XXXIII: 
(17 November 2019)


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.








Saudara-saudari terkasih, bacaan-bacaan suci di akhir Masa Biasa ini menampilkan kepada kita nubuat tentang akhir zaman. Memang secara Liturgi Masa Biasa ditutup dengan Perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, yang menjadi harapan kita semua pada akhir zaman nanti. Hari raya ini akan kita rayakan minggu depan. Tetapi pada hari minggu ini gema tentang warta akhir zaman itu sudah mulai terdengar dari bacaan-bacaan suci, yang telah kita dengarkan tadi.



Dalam Bacaan pertama, kita telah mendengarkan nubuat dari Maleakhi tentang Hari Tuhan, yang akan segera datang. Hari Tuhan yang dimaksud di sini adalah akhir zaman. Apa yang terjadi pada akhir zaman? Pada akhir zaman akan terjadi pengadilan terakhir secara universal. Semua orang dari berbagai bangsa, dan dari berbagai zaman akan dihakimi oleh Tuhan. Pada saat itulah terjadi pemisahan yang total antara orang jahat dan orang baik. Yang jahat akan dibinasakan selamanya, seperti jerami yang dibakar di dalam api. Tetapi orang yang baik akan diselamatkan oleh Tuhan dan mengalami kehidupan selama-lamanya.



Nubuat yang sama juga disampaikan oleh Yesus dalam bacaan Injil yang barusan kita dengarkan tadi. Dengan berbicara tentang runtuhnya Bait Allah di Yerusalem, sebenarnya Yesus bernubuat tentang akhir zaman. Para murid tidak mengerti dengan maksud Yesus itu, maka mereka pun bertanya, “kapan hal itu akan terjadi?” Yesus tidak mau mengatakannya, karena itu adalah Rahasia Ilahi! Tetapi Yesus ingin supaya para murid mengetahui tanda-tanda dari akhir zaman ini, supaya mereka dapat sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Hari Tuhan ini. Ada tiga tanda yang akan muncul sebelum akhir zaman, yaitu:



Pertama, munculnya orang-orang yang mengaku dirinya Kristus. Mereka akan mengaku, bahwa dia adalah Yesus dan mengatakan bahwa kiamat sudah dekat! Berhadapan dengan nabi-nabi palsu ini kita harus waspada dan jangan percaya kepadanya.



Kedua, terjadinya peperangan, bencana alam yang dahsyat, serta muncul berbagai macam penyakit dan kelaparan. Bila kita menyaksikan dan mengalaminya sendiri, kita tidak perlu kuatir dan takut, sebab semuanya ini menjadi tanda yang mengingatkan kita akan akhir zaman, supaya kita bertobat dan mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Tuhan ini.



Ketiga, penganiayaan dan pembunuhan terhadap murid-murid Yesus. Hal ini sudah terjadi pada diri para rasul dan para martir dari zaman Yesus hingga sekarang ini. Karena iman kepada Yesus, kita akan dibenci, dianiaya, dan bahkan dibunuh! Namun, berhadapan dengan pengalaman pahit ini, kita jangan sampai murtad. Kita harus tetap berpegang teguh pada iman kita kepada Yesus. Yesus sendiri yang akan membela kita dan mengaruniakan kepada kita kata-kata hikmat, serta karuia-karunia Roh Kudus yang kita butuhkan dalam menghadapi penderitaan ini. Jika kita tetap bertahan sampai akhir hayat, maka kita akan memperoleh kehidupan yang kekal.





Saudara-saudari terkasih, sebagian besar dari nubuat Yesus tentang akhir zaman ini sudah terjadi dan masih akan terus menerus terjadi, hingga datangnya Hari Tuhan pada akhir zaman. Namun, bagi kita orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita tidak perlu takut dan cemas akan tanda-tanda dari akhir zaman ini. Kita percaya, bahwa ada harapan di tengah penderitaan. Harapan itu bukan berasal dari kekuatan kita sendiri, tetapi berasal dari Tuhan, yang menjadi tumpuan dari semua harapan kita. Maka, marilah kita senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita, apapun tantangan, cobaan, dan permasalahan yang kita hadapi. Mari kita datang kepada Tuhan dan bersujud di hadapan-Nya. Percayalah, Tuhan Yesus akan menyertai kita sampai akhir zaman. Amin. 



Share:

Friday, 1 November 2019

INDULGENSI BAGI ORANG MATI


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Kita tentu saja sering berdoa untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia, agar mereka diampuni dosanya dan masuk ke dalam surga. Namun, pertanyaannya: “Apakah kita sudah memohon indulgensi bagi orang-orang mati?” Atau mungkin pertanyaan ini terlalu cepat untuk ditanyakan… Lebih baik seperti ini: “Apakah kita sudah tahu tentang indulgensi?” Dalam artikel ini saya akan menjelaskan tentang “Indulgensi bagi orang mati.” Tetapi sebelumnya saya akan jelaskan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan indulgensi, yaitu siksa dosa.

Apa itu siksa dosa?
Setiap dosa mempunyai akibat ganda, yaitu siksa dosa abadi dan siksa dosa sementara (temporal):
a.         Setiap dosa berat merampas kita dari persekutuan dengan Allah, dan karena itu membuat kita tidak layak untuk memasuki kehidupan yang abadi. Perampasan inilah yang disebut dengan siksa dosa abadi.
b.        Sedangkan setiap dosa, bahkan dosa ringan sekalipun mengakibatkan satu hubungan yang berbahaya dengan makhluk, sehingga membutuhkan penyucian, baik di dunia ini maupun sesudah kematian, yakni di api penyucian (purgatorium). Penyucian inilah yang disebut dengan siksa dosa sementara.

Pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana caranya untuk bebas dari siksa dosa abadi dan sementara (temporal)? Ada dua cara, yaitu:




1)        Sakramen Tobat
Pengampunan dosa dan pemulihan dengan Allah melalui Sakramen Tobat membebaskan seseorang dari siksa dosa abadi. Akan tetapi, siksa dosa sementara tetap ada, sekalipun kita sudah mengaku dosa di depan imam. Siksa dosa sementara ini harus diterima sebagai rahmat, yaitu dengan menanggung segala macam penderitaan dan cobaan dengan sabar, dan pada saatnya menerima kematian dengan tulus.

2)        Indulgensi
Indulgensi adalah penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif.
Ada indulgensi sebagian atau seluruhnya, tergantung apakah ia dibebaskan dari siksa dosa temporal itu untuk sebagian atau seluruhnya. Indulgensi dapat diperuntukkan bagi orang yang hidup dan orang mati.

Dengan pemahaman tentang indulgensi di atas, maka sangat pentinglah untuk memohon indulgensi bagi para arwah yang telah mendahului kita, terutama mereka yang masih berada di api penyucian untuk menjalani siksa dosa sementara (temporal). Dengan memperoleh indulgensi, maka siksa dosa temporalnya akan dihapuskan, dan mereka akan masuk ke dalam kemuliaan abadi bersama Allah dan Para Kudus-Nya di surga.

Sekarang pertanyaan terakhir untuk sessi ini, “Bagaimana cara untuk memperoleh indulgensi bagi para arwah?”

Cara memperoleh indulgensi

Satu-satunya cara untuk memperoleh indulgensi bagi jiwa-jiwa di api penyucian adalah dengan mengunjungi makam mereka dan/ atau mendoakan mereka, dari tanggal 1 sampai dengan 8 November.
Bagi yang menjalankannya setiap hari dari tanggal 1 sampai dengan 8 November akan memperoleh indulgensi penuh bagi jiwa-jiwa yang didoakan.
Sedangkan bagi yang menjalankannya pada hari-hari lain akan memperoleh indulgensi sebagian.




Sumber:
Katekismus Gereja Katolik
Penanggalan Liturgi Gereja Katolik.




Share:

Thursday, 31 October 2019

KEBANGKITAN ORANG MATI


Peringatan Arwah Semua Orang Beriman: 
(Sabtu, 2 November 2019)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya, kita percaya, bahwa dengan kematian di dunia, maka terbukalah tabir kehidupan baru di surga. Hidup bukannya dilenyapkan, tetapi hanyalah diubah dari hidup yang fana menjadi hidup yang baka, abadi, dan kekal. Namun, untuk memasuki kehidupan yang kekal ini bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi butuh perjuangan, usaha, dan pengorbanan sepanjang hidup. Dan bagi mereka yang sudah meninggal dunia dan masih berada di api penyucian, membutuhkan doa-doa dari kita yang masih hidup di dunia ini, agar mereka dibebaskan dari segala dosa dan hukuman akibat dosa, sehingga mereka layak untuk memasuki kehidupan yang baru dan membahagiakan bersama Allah dan Para Kudus-Nya di surga.

Dengan mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, kita percaya akan adanya kebangkitan orang mati, sebagaimana yang diimani oleh Yudas Makabe dalam Bacaan Pertama tadi. Meskipun Yudas Makabe hidup sebelum kelahiran Yesus, tetapi ia sudah percaya akan kebangkitan. Harapan akan kebangkitan inilah yang menjadi dasar untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia, sebab bagi mereka tersedia pahala yang amat indah di surga. Yudas Makabe memberikan teladan bagi kita semua untuk senantiasa berdoa bagi para arwah dan mempersembahkan kurban penebusan dosa bagi mereka.

Harapan akan kebangkitan orang mati tergenapi secara sempurna di dalam diri Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menegaskan, bahwa semua orang yang telah dipersatukan dengan Kristus akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Artinya, sama seperti Yesus yang telah mengalami kebangkitan yang mulia, orang-orang beriman yang sudah meninggal juga akan mengalami kebangkitan badan dan kehidupan yang kekal.

Iman akan kebangkitan bersumber pada sabda Tuhan Yesus sendiri, sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan Injil tadi. Tuhan Yesus menjanjikan kehidupan kekal dan kebangkitan badan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus telah turun dari surga untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus memperoleh hidup yang kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman.

Saudara-saudari terkasih, seraya kita menantikan dengan penuh harapan kebangkitan orang mati yang akan terjadi pada akhir zaman, marilah sekarang kita berdoa bagi arwah semua orang beriman, baik anggota keluarga kita, maupun orang lain yang membutuhkan doa-doa kita, semoga mereka semua dibersihkan dari segala noda dosa dan dibebaskan dari hukuman akibat dosa, sehingga mereka boleh memasuki kediaman abadi dan menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah dan para kudus-Nya di surga. Mari kita juga berdoa bagi arwah-arwah yang tidak pernah didoakan oleh anggota keluarganya, semoga mereka juga boleh mengalami penebusan dosa dan menikmati keselamatan abadi di surga. Dan marilah kita persatukan semua doa-doa kita dengan kurban Kristus, yang dihadirkan kembali dalam Ekaristi Kudus ini. Semoga kurban salib Kristus ini memberikan rahmat penebusan dosa bagi jiwa-jiwa yang kita doakan pada hari ini.







Share:

MELALUI MARIA KEPADA YESUS


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, kita tidak bisa memisahkan kehidupan Yesus dari kehidupan Bunda Maria. Bunda Maria senantiasa hadir dalam seluruh kehidupan Yesus, sejak Ia dikandung di dalam rahimnya sampai kelahiran-Nya, dari kelahiran sampai kematian-Nya di atas kayu salib, dan bahkan sampai kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria tetap setia mendampingi Yesus, Puteranya yang terkasih.

Yesus sendiri pun memulai dan mengakhiri karya Keselamatan-Nya dengan melibatkan Bunda Maria. Hal ini dapat kita lihat pada kisah pernikahan di Kana yang di Galilea. Berkat permohonan dari Bunda Maria, akhirnya Yesus mengadakan mukjizat-Nya yang pertama, yaitu mengubah air menjadi anggur. Yang terpenting dari mukjizat ini bukan anggurnya, tetapi Kemuliaan Allah yang dinyatakan oleh Yesus, sehingga murid-murid-Nya menjadi percaya kepada-Nya. Dan dari peristiwa ini kita juga bisa melihat peran Bunda Maria sebagai perantara doa kita kepada Yesus.

Tidak hanya di awal karya-Nya Yesus melibatkan Bunda Maria, tetapi di akhir karya-Nya juga Yesus tetap melibatkan Bunda Maria. Sebelum Yesus menghembuskan nafas terakhir-Nya di atas kayu salib, Yesus memberikan perintah yang amat penting kepada Bunda-Nya dan juga kepada murid-murid-Nya. Di bawah kaki salib, Yesus menyerahkan Maria kepada Gereja, dengan bersabda kepada Rasul Yohanes, “Anak, inilah ibumu.” Demikian pula kepada Maria, Yesus menyerahkan Gereja-Nya, dengan bersabda, “Ibu, inilah anakmu”. Dengan demikian, sekarang Maria bukan saja menjadi Bunda Yesus, tetapi juga Bunda Gereja, Bunda kita semua.

Saudara-saudari terkasih, Allah telah memulai karya keselamatan-Nya melalui diri Maria, dengan memilihnya menjadi Ibu Tuhan, yang akan mengandung dan melahirkan Yesus, Juruselamat kita. Sampai saat ini pun Allah senantiasa melibatkan Bunda Maria dalam memelihara Gereja, Umat Allah yang beriman. Maka, marilah kita senantiasa berdevosi kepada Bunda Maria, tidak hanya pada bulan Oktober saja, tetapi di setiap bulan, di sepanjang tahun, kita harus tetap berdevosi kepada Bunda Maria. Kita percaya, bahwa doa-doa yang kita sampaikan kepada Bunda Maria, akan disampaikannya kepada Yesus, Puteranya.

Namun, berdevosi saja tidak cukup, jika kita tidak merayakan Ekaristi, sebab puncak dari iman kita adalah Perayaan Ekaristi, di mana Yesus hadir secara nyata di dalam Sabda dan Sakramen Mahakudus. Maka, selain rajin berdevosi, kita juga harus rajin mengikuti Perayaan Ekaristi. Dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh merasakan karya Keselamatan Allah yang dikerjakan-Nya melalui Bunda Maria, dan Yesus Kristus, Putera-Nya. Devosi yang sejati kepada Bunda Maria akan mengantar kita kepada puncak iman kita, yaitu Perayaan Ekaristi, sebab melalui Bunda Maria, kita akan sampai kepada Yesus.



Share:

Friday, 25 October 2019

DOA DAN PERBUATAN


Hari Minggu Biasa XXX: 27 Oktober 2019

Pastor Vinsensius, Pr.


Image result for pharisees and tax collector prayer


Saudara-saudari terkasih, kita tidak bisa memisahkan antara doa dan sikap hidup. Keduanya saling berkaitan satu sama lain. Apa yang kita hidupi itulah yang kita doakan. Demikian pula sebaliknya, apa yang kita doakan itulah yang kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Doa kita mencerminkan sikap hidup kita sehari-hari, karena doa itu muncul dari lubuk hati kita yang paling dalam. Demikian pula dengan sikap hidup kita, yang tampak dalam segala perbuatan dan perkataan kita, juga meluap dari kedalaman hati kita. Apa yang tampak di luar dari diri kita mencerminkan apa yang tidak tampak, yang ada di dalam diri kita.

Injil hari ini mengisahkan kepada kita, bahwa sikap hidup dan karakter sesorang tampak dari cara ia berdoa dan isi dari doanya. Untuk menjelaskan hal ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang sedang berdoa di Bait Allah. Keduanya sama-sama berdoa. Tetapi yang membedakan mereka adalah cara dan isi dari doa mereka.

Orang Farisi ini berdoa dengan cara yang angkuh, ia berdiri dengan sombong, lalu berdoa. Isi dari doanya pun mengungkapkan keangkuhan dirinya. Memang ia mengucap syukur kepada Allah, tetapi bukan karena Allah ia bersyukur, tetapi karena dirinya sendiri. Ia memuji-muji dirinya, dan menjelek-jelekkan orang lain di hadapan Allah. Sedangkan, pemungut cukai ini berdiri jauh-jauh, menunduk, dan memukul-mukul dirinya. Hal ini mengungkapkan bahwa ia tidak layak dan pantas di hadapan Tuhan, karena ia sadar bahwa ia adalah seorang pendosa. Maka, di dalam doa ia memohon ampun kepada Tuhan, agar Tuhan mengasihaninya. Akhirnya, Tuhan berkenan kepada doa dari si pemungut cukai ini, dan ia pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah. Sedangkan doa orang Farisi itu tidak berkenan di hati Allah, dan ia pulang sebagai orang yang tidak dibenarkan oleh Allah.

Saudara-saudari terkasih, dari perumpamaan ini kita dapat belajar tentang sikap hidup dan doa. Kita harus bersikap rendah hati, baik dalam sikap hidup yang tampak dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita, maupun di dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Hanya doa orang yang rendah hati yang didengarkan dan dikabulkan oleh Tuhan.

Sikap rendah hati ini digambarkan oleh Putra Sirakh seperti orang miskin yang selalu berharap pertolongan dari Tuhan, karena baginya tidak ada penolong lain selain daripada Tuhan. Maka, Putra Sirakh mengatakan, bahwa “doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sebelum mencapai tujuannya.” Kita harus menjadi orang yang miskin di hadapan Allah, yang selalu berharap kepada pertolongan Tuhan, karena tidak ada sesuatu lain yang dapat menolong kita, selain daripada Tuhan.

Marilah kita senantiasa bersikap rendah hati, dan menjauhkan segala macam kesombongan, baik di dalam perkataan, perbuatan, tingkah laku, dan cara hidup, maupun di dalam setiap doa-doa kita. Sikap rendah hati harus kita praktikkan di dalam sikap hidup dan doa, agar Tuhan berkenan kepada kita, dan mau menjawab setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya.













Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive