BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Thursday, 31 October 2019

KEBANGKITAN ORANG MATI


Peringatan Arwah Semua Orang Beriman: 
(Sabtu, 2 November 2019)

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya, kita percaya, bahwa dengan kematian di dunia, maka terbukalah tabir kehidupan baru di surga. Hidup bukannya dilenyapkan, tetapi hanyalah diubah dari hidup yang fana menjadi hidup yang baka, abadi, dan kekal. Namun, untuk memasuki kehidupan yang kekal ini bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi butuh perjuangan, usaha, dan pengorbanan sepanjang hidup. Dan bagi mereka yang sudah meninggal dunia dan masih berada di api penyucian, membutuhkan doa-doa dari kita yang masih hidup di dunia ini, agar mereka dibebaskan dari segala dosa dan hukuman akibat dosa, sehingga mereka layak untuk memasuki kehidupan yang baru dan membahagiakan bersama Allah dan Para Kudus-Nya di surga.

Dengan mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, kita percaya akan adanya kebangkitan orang mati, sebagaimana yang diimani oleh Yudas Makabe dalam Bacaan Pertama tadi. Meskipun Yudas Makabe hidup sebelum kelahiran Yesus, tetapi ia sudah percaya akan kebangkitan. Harapan akan kebangkitan inilah yang menjadi dasar untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia, sebab bagi mereka tersedia pahala yang amat indah di surga. Yudas Makabe memberikan teladan bagi kita semua untuk senantiasa berdoa bagi para arwah dan mempersembahkan kurban penebusan dosa bagi mereka.

Harapan akan kebangkitan orang mati tergenapi secara sempurna di dalam diri Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menegaskan, bahwa semua orang yang telah dipersatukan dengan Kristus akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Artinya, sama seperti Yesus yang telah mengalami kebangkitan yang mulia, orang-orang beriman yang sudah meninggal juga akan mengalami kebangkitan badan dan kehidupan yang kekal.

Iman akan kebangkitan bersumber pada sabda Tuhan Yesus sendiri, sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan Injil tadi. Tuhan Yesus menjanjikan kehidupan kekal dan kebangkitan badan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus telah turun dari surga untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus memperoleh hidup yang kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman.

Saudara-saudari terkasih, seraya kita menantikan dengan penuh harapan kebangkitan orang mati yang akan terjadi pada akhir zaman, marilah sekarang kita berdoa bagi arwah semua orang beriman, baik anggota keluarga kita, maupun orang lain yang membutuhkan doa-doa kita, semoga mereka semua dibersihkan dari segala noda dosa dan dibebaskan dari hukuman akibat dosa, sehingga mereka boleh memasuki kediaman abadi dan menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah dan para kudus-Nya di surga. Mari kita juga berdoa bagi arwah-arwah yang tidak pernah didoakan oleh anggota keluarganya, semoga mereka juga boleh mengalami penebusan dosa dan menikmati keselamatan abadi di surga. Dan marilah kita persatukan semua doa-doa kita dengan kurban Kristus, yang dihadirkan kembali dalam Ekaristi Kudus ini. Semoga kurban salib Kristus ini memberikan rahmat penebusan dosa bagi jiwa-jiwa yang kita doakan pada hari ini.







Share:

MELALUI MARIA KEPADA YESUS


Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, kita tidak bisa memisahkan kehidupan Yesus dari kehidupan Bunda Maria. Bunda Maria senantiasa hadir dalam seluruh kehidupan Yesus, sejak Ia dikandung di dalam rahimnya sampai kelahiran-Nya, dari kelahiran sampai kematian-Nya di atas kayu salib, dan bahkan sampai kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Bunda Maria tetap setia mendampingi Yesus, Puteranya yang terkasih.

Yesus sendiri pun memulai dan mengakhiri karya Keselamatan-Nya dengan melibatkan Bunda Maria. Hal ini dapat kita lihat pada kisah pernikahan di Kana yang di Galilea. Berkat permohonan dari Bunda Maria, akhirnya Yesus mengadakan mukjizat-Nya yang pertama, yaitu mengubah air menjadi anggur. Yang terpenting dari mukjizat ini bukan anggurnya, tetapi Kemuliaan Allah yang dinyatakan oleh Yesus, sehingga murid-murid-Nya menjadi percaya kepada-Nya. Dan dari peristiwa ini kita juga bisa melihat peran Bunda Maria sebagai perantara doa kita kepada Yesus.

Tidak hanya di awal karya-Nya Yesus melibatkan Bunda Maria, tetapi di akhir karya-Nya juga Yesus tetap melibatkan Bunda Maria. Sebelum Yesus menghembuskan nafas terakhir-Nya di atas kayu salib, Yesus memberikan perintah yang amat penting kepada Bunda-Nya dan juga kepada murid-murid-Nya. Di bawah kaki salib, Yesus menyerahkan Maria kepada Gereja, dengan bersabda kepada Rasul Yohanes, “Anak, inilah ibumu.” Demikian pula kepada Maria, Yesus menyerahkan Gereja-Nya, dengan bersabda, “Ibu, inilah anakmu”. Dengan demikian, sekarang Maria bukan saja menjadi Bunda Yesus, tetapi juga Bunda Gereja, Bunda kita semua.

Saudara-saudari terkasih, Allah telah memulai karya keselamatan-Nya melalui diri Maria, dengan memilihnya menjadi Ibu Tuhan, yang akan mengandung dan melahirkan Yesus, Juruselamat kita. Sampai saat ini pun Allah senantiasa melibatkan Bunda Maria dalam memelihara Gereja, Umat Allah yang beriman. Maka, marilah kita senantiasa berdevosi kepada Bunda Maria, tidak hanya pada bulan Oktober saja, tetapi di setiap bulan, di sepanjang tahun, kita harus tetap berdevosi kepada Bunda Maria. Kita percaya, bahwa doa-doa yang kita sampaikan kepada Bunda Maria, akan disampaikannya kepada Yesus, Puteranya.

Namun, berdevosi saja tidak cukup, jika kita tidak merayakan Ekaristi, sebab puncak dari iman kita adalah Perayaan Ekaristi, di mana Yesus hadir secara nyata di dalam Sabda dan Sakramen Mahakudus. Maka, selain rajin berdevosi, kita juga harus rajin mengikuti Perayaan Ekaristi. Dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh merasakan karya Keselamatan Allah yang dikerjakan-Nya melalui Bunda Maria, dan Yesus Kristus, Putera-Nya. Devosi yang sejati kepada Bunda Maria akan mengantar kita kepada puncak iman kita, yaitu Perayaan Ekaristi, sebab melalui Bunda Maria, kita akan sampai kepada Yesus.



Share:

Friday, 25 October 2019

DOA DAN PERBUATAN


Hari Minggu Biasa XXX: 27 Oktober 2019

Pastor Vinsensius, Pr.


Image result for pharisees and tax collector prayer


Saudara-saudari terkasih, kita tidak bisa memisahkan antara doa dan sikap hidup. Keduanya saling berkaitan satu sama lain. Apa yang kita hidupi itulah yang kita doakan. Demikian pula sebaliknya, apa yang kita doakan itulah yang kita hidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Doa kita mencerminkan sikap hidup kita sehari-hari, karena doa itu muncul dari lubuk hati kita yang paling dalam. Demikian pula dengan sikap hidup kita, yang tampak dalam segala perbuatan dan perkataan kita, juga meluap dari kedalaman hati kita. Apa yang tampak di luar dari diri kita mencerminkan apa yang tidak tampak, yang ada di dalam diri kita.

Injil hari ini mengisahkan kepada kita, bahwa sikap hidup dan karakter sesorang tampak dari cara ia berdoa dan isi dari doanya. Untuk menjelaskan hal ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang sedang berdoa di Bait Allah. Keduanya sama-sama berdoa. Tetapi yang membedakan mereka adalah cara dan isi dari doa mereka.

Orang Farisi ini berdoa dengan cara yang angkuh, ia berdiri dengan sombong, lalu berdoa. Isi dari doanya pun mengungkapkan keangkuhan dirinya. Memang ia mengucap syukur kepada Allah, tetapi bukan karena Allah ia bersyukur, tetapi karena dirinya sendiri. Ia memuji-muji dirinya, dan menjelek-jelekkan orang lain di hadapan Allah. Sedangkan, pemungut cukai ini berdiri jauh-jauh, menunduk, dan memukul-mukul dirinya. Hal ini mengungkapkan bahwa ia tidak layak dan pantas di hadapan Tuhan, karena ia sadar bahwa ia adalah seorang pendosa. Maka, di dalam doa ia memohon ampun kepada Tuhan, agar Tuhan mengasihaninya. Akhirnya, Tuhan berkenan kepada doa dari si pemungut cukai ini, dan ia pulang sebagai orang yang dibenarkan Allah. Sedangkan doa orang Farisi itu tidak berkenan di hati Allah, dan ia pulang sebagai orang yang tidak dibenarkan oleh Allah.

Saudara-saudari terkasih, dari perumpamaan ini kita dapat belajar tentang sikap hidup dan doa. Kita harus bersikap rendah hati, baik dalam sikap hidup yang tampak dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita, maupun di dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Hanya doa orang yang rendah hati yang didengarkan dan dikabulkan oleh Tuhan.

Sikap rendah hati ini digambarkan oleh Putra Sirakh seperti orang miskin yang selalu berharap pertolongan dari Tuhan, karena baginya tidak ada penolong lain selain daripada Tuhan. Maka, Putra Sirakh mengatakan, bahwa “doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sebelum mencapai tujuannya.” Kita harus menjadi orang yang miskin di hadapan Allah, yang selalu berharap kepada pertolongan Tuhan, karena tidak ada sesuatu lain yang dapat menolong kita, selain daripada Tuhan.

Marilah kita senantiasa bersikap rendah hati, dan menjauhkan segala macam kesombongan, baik di dalam perkataan, perbuatan, tingkah laku, dan cara hidup, maupun di dalam setiap doa-doa kita. Sikap rendah hati harus kita praktikkan di dalam sikap hidup dan doa, agar Tuhan berkenan kepada kita, dan mau menjawab setiap doa yang kita panjatkan kepada-Nya.













Share:

Saturday, 19 October 2019

DIBAPTIS DAN DIUTUS


Hari Minggu Biasa XXIX:
Hari Minggu Misi Sedunia Ke-93

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, ada satu ungkapan yang menarik dari Paus Fransiskus dalam Pesannya untuk Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-93 ini, yaitu: “Saya adalah sebuah misi, anda adalah sebuah misi, setiap pria dan wanita yang telah dibaptis adalah sebuah misi.” Misi artinya kita berani keluar dari diri kita sendiri, dan dari kenyamanan diri kita, untuk memberikan diri kepada sesama lewat pelayanan kita, yang didasari oleh kasih Allah.

Sesuai dengan tema Minggu Misi Sedunia tahun ini, yaitu “Dibaptis dan Diutus”, maka Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk merenungkan tentang makna pembaptisan dan perutusan kita sebagai murid-murid Kristus. Kehidupan ilahi telah dianugerahkan kepada kita melalui pembaptisan. Pembaptisan memberi kita kelahiran kembali dalam gambar dan rupa Allah, dan menjadikan kita anggota Gereja. Dalam hal ini, pembaptisan benar-benar diperlukan untuk KESELAMATAN. Melalui Pembaptisan, Allah memenuhi janji-Nya untuk menjadikan setiap orang: putra dan putri-Nya di dalam Kristus. Maka, dalam pembaptisan kita menerima asal mula dari semua kebapaan dan keibuan yang sejati. Misi kita berakar pada kebapaan Allah dan keibuan Gereja. Artinya, tugas Perutusan itu melekat di dalam Pembaptisan. Kita semua yang telah dibaptis, bukan saja sekedar dibaptis, tetapi juga diutus untuk menjadi pewarta kasih Allah kepada sesama. Dan isi dari pewartaan itu ialah ajaran Kristus dan Gereja-Nya.

Saudara-saudari terkasih, pertanyaan yang patut kita renungkan pada hari ini: “Apakah yang dapat kita lakukan dalam menjalankan misi ini, dalam melaksanakan tugas perutusan kita sebagai orang yang sudah dibaptis?” Ada tiga hal yang dapat kita lakukan, yaitu: Pertama, kita perlu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Misi yang sejati harus berakar kuat di dalam doa. Tanpa doa, pelayanan yang kita berikan hanya akan menjadi sekedar pekerjaan sosial yang tidak memberikan buah rohani di dalam kehidupan bersama. Maka, kita harus berdoa dengan tidak jemu-jemu, seperti yang Tuhan Yesus kehendaki dalam Bacaan Injil tadi.

Kita harus berdoa seperti Musa, yang berdoa memohon kemenangan bagi bala tentara Israel yang berperang melawan bangsa Amalek. Musa telah membuktikan kuasa dari doa itu. Ketika ia mengangkat tangannya, bangsa Israel menjadi kuat, tetapi ketika ia menurunkan tangannya bangsa Israel menjadi lemah.

Maka, sesuai dengan pesan Yesus dan teladan Musa, kita harus bertekun dalam doa. Kita berdoa bukan saja untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Gereja secara universal. Kita berdoa, semoga misi Gereja Kristus di dunia ini dapat semakin berkembang, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengalami Keselamatan yang berasal dari Tuhan.

Kedua, kita harus berpegang kuat kepada ajaran Tuhan yang tertulis di dalam Kitab Suci, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, bahwa Kitab Suci itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Misi Gereja berakar di dalam Doa dan Sabda Allah. Maka, selain berdoa kita juga harus tekun membaca dan merenungkan Sabda Tuhan yang tertulis di dalam Kitab Suci.

Ketiga, buah dari Doa dan Pembacaan Sabda Allah adalah karya kasih kepada sesama. Maka dari itu, kita juga harus mendukung karya misi Gereja dengan memberikan DERMA. Kolekte yang kita kumpulkan pada hari minggu ini akan diserahkan langsung ke Roma, guna mendukung karya misi Gereja di seluruh dunia. Persembahan yang kita berikan ini akan sangat berguna bagi misi Gereja-gereja Katolik yang ada di seluruh penjuru dunia, terutama negara-negara yang terpencil dan masih membutuhkan uluran tangan kita dalam menjalankan karya pelayanannya.

Marilah kita senantiasa menghidupkan semangat misi dalam diri kita, melalui Doa, Sabda, dan Derma, agar kita dapat sungguh-sungguh menghayati identitas kita sebagai murid-murid Kristus, yang dibaptis dan diutus untuk mewartakan kabar gembira Keselamatan Allah kepada semua orang.















Share:

Friday, 11 October 2019

MENJADI ORANG YANG TAHU BERTERIMA KASIH


Hari Minggu Biasa XXVIII: 
(13 Oktober 2019)


P. Vinsensius, Pr.





Ada dua kata yang sulit dan sering lupa kita ucapkan, yaitu: “Maaf dan Terima kasih”. Kita sulit mengucapkan maaf, mungkin karena kita merasa diri selalu benar dan tidak menyadari segala kesalahan yang telah diperbuat. Demikian pula kita sulit mengucapkan terima kasih, seolah-olah kita pantas menerima semua kebaikan dari orang lain dan dari Tuhan, tanpa harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sikap inilah yang dicela oleh Tuhan Yesus, dan terjadi pada 9 orang kusta yang sudah disembuhkan oleh Yesus.

Injil hari ini menampilkan kepada kita kisah penyembuhan atas kesepuluh orang kusta. Mereka memohon belaskasih dari Yesus, agar Yesus mau menyembuhkan mereka. Memang Yesus tidak mengatakan iya atau tidak, tetapi Yesus langsung memberikan perintah supaya mereka memperlihatkan dirinya kepada imam, sebab dalam konteks orang Yahudi hanya imam yang berhak menyatakan: apakah seorang itu telah sembuh dari kusta atau belum, sehingga mereka dapat diterima kembali ke dalam jemaat Yahudi. Namun, sebelum mereka sampai kepada imam, ketika masih dalam perjalanan, secara ajaib mereka menjadi sembuh dari kustanya.

Kesepuluh orang kusta yang memohon kepada Yesus semuanya mengalami kesembuhan, tetapi anehnya hanya satu orang saja yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya dan berlutut di hadapan Yesus. Yesus menjadi heran dan kecewa terhadap 9 orang kusta yang telah disembuhkannya itu, karena mereka tidak tahu berterima kasih. Mereka hanya bisa meminta, tetapi tidak tahu berterima kasih. Sedangkan orang Samaria yang tahu berterima kasih ini dipuji oleh Yesus. Yesus mengutusnya dan memberikan kepadanya anugerah keselamatan. Karena imannya, ia tidak hanya mendapatkan kesembuhan tetapi juga keselamatan yang berasal dari Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari kita juga sering bersikap seperti 9 orang kusta yang tidak tahu berterima kasih. Kita hanya bisa meminta sesuatu dari Tuhan atau orang lain, tetapi kita tidak tahu berterima kasih. Sikap ini sungguh tidak berkenan kepada Tuhan! Tuhan ingin supaya kita menjadi orang yang tahu berterima kasih. Terima kasih itu harus kita wujudkan dalam perkataan dan juga perbuatan kepada Tuhan dan sesama. Melalui perkataan, kita harus membiasakan diri mengucapkan “terima kasih” kepada setiap orang yang telah memberikan bantuan kepada kita, apapun bentuknya, baik moril maupun materiil. Tetapi itu saja tidak cukup! Kita juga harus mewujudkan terima kasih itu di dalam setiap perbuatan, sikap dan tindakan kita sehari-hari dalam relasi kita dengan sesama. Misalnya, dengan membantu sesama kita yang membutuhkan bantuan kita.

Terima kasih juga harus kita sampaikan kepada Tuhan di dalam doa. Kita harus datang dan berlutut di hadapan Tuhan untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Maka, tidak cukup jika dalam doa kita hanya memohon ini dan itu kepada Tuhan, tetapi lupa berterima kasih kepada-Nya! Kita harus menyampaikan terima kasih kita kepada Tuhan, walaupun sebenarnya ucapan syukur kita sama sekali tidak akan menambah kemuliaan Tuhan, tetapi sangat berguna bagi keselamatan kita. (Lih. Prefasi Umum IV). Maka, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan di dalam doa dan karya. Di dalam doa kita harus menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, dan di dalam karya kita harus mewujudkan terima kasih itu melalui perbuatan baik kepada sesama. Dengan demikian, kita akan memperoleh rahmat keselamatan yang berasal dari Tuhan.


P. Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau





Share:

Thursday, 3 October 2019

TAMBAHKANLAH IMAN KAMI


Hari Minggu Biasa XXVII: 
(6 Oktober 2019)

Oleh: P. Vinsensius, Pr.





Seorang murid Yesus harus memiliki sikap seorang hamba. Tuhan Yesus mengumpamakannya seperti seorang hamba yang pulang bekerja dari ladang, ia masih harus melayani tuannya dengan menyediakan makanan bagi tuannya. Sampai tuannya selesai makan baru ia boleh makan. Ia melakukan semuanya itu tanpa mengharapkan pujian atau terima kasih, malah ia menganggap dirinya hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna dan ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Betapa rendah hatinya sikap hamba ini. Ia telah melakukan yang terbaik, tetapi ia tidak mau memegahkan diri dan menyombongkan dirinya, melainkan tetap bersikap rendah hati.

Sikap yang rendah hati seperti ini hanya bisa dimiliki oleh seorang murid jika mereka memiliki iman. Maka, para murid meminta kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Yesus tidak langsung mengabulkan permohonan mereka, tetapi Ia mau menjelaskan kepada para murid, supaya mereka tahu apa yang mereka minta, yaitu: apa gunanya memiliki iman? Yesus mengatakan bahwa iman walaupun hanya sebesar biji sesawi bisa memindahkan pohon ara ke laut. Artinya, dengan iman kita bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin, yang mustahil di hadapan manusia, tetapi sesungguhnya bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Termasuk memiliki sikap yang rendah hati seperti seorang hamba tadi, menuntut iman dari para murid.


Bagaimana caranya supaya kita memiliki iman yang kuat? Pertama-tama, kita perlu berdoa seperti para murid Yesus: “Tuhan, tambahkanlah iman kami.” Iman adalah karunia dari Tuhan. Kita tidak bisa memiliki iman, jika Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita. Maka dari itu, kita harus rajin berdoa dan memohon rahmat iman dari Tuhan.

Kedua, kita harus tetap percaya kepada Tuhan walaupun di tengah tantangan, cobaan, dan penderitaan. Kita mungkin sering kali mengeluh seperti Nabi Habakuk, karena banyaknya penindasan dan kejahatan di sekeliling kita, yang membuat kita menderita. Namun, tetaplah percaya kepada sabda Tuhan, yang disampaikan-Nya kepada Habakuk: “Sungguh, orang yang sombong tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hidup berkat imannya.” Meskipun banyak kejahatan yang terjadi di sekitar kita, jangan sampai kita ikut-ikutan di dalamnya, tetapi kita harus memberikan kesaksian akan hidup yang benar. Dengan demikian kita akan tetap hidup dalam perlindungan Tuhan.

Ketiga, kita harus tetap memegang ajaran yang sehat dan melakukannya di dalam iman dan kasih kepada Yesus, seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius. Dunia saat ini menawarkan kepada kita berbagai macam ideologi dan ajaran yang menyesatkan! Maka, kita harus tetap berpegang pada ajaran Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kita, dan melaksanakannya dalam kehidupan yang nyata. Dengan demikian, iman kita akan tetap kuat dan teguh.

Marilah kita senantiasa berdoa dan berusaha, agar iman kita tetap kuat. Tanpa doa dan usaha kita tidak akan memiliki iman sama sekali. Tetapi dengan doa dan usaha, maka kita akan memiliki iman yang sejati, yang mengakar kuat di dalam hati dan berbuah dalam tindakan nyata, yaitu perbuatan baik kepada sesama.







Share:

Friday, 27 September 2019

PEDULI KEPADA SESAMA


(Hari Minggu Biasa XXVI: 29 September 2019)


Oleh: P. Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, kita semua diajarkan, bahwa selama hidup di dunia ini kita harus berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Orang bisa berbuat baik, tetapi masih saja berbuat jahat. Berarti perbuatan baiknya belum sempurna. Demikian pula, orang yang tidak berbuat jahat, tetapi ia juga tidak berbuat baik. Itu juga berarti tidak ada kesempurnaan di dalam dirinya. Hal ini tampak pada diri orang kaya dalam Bacaan Injil tadi. Ia hidup dalam kemewahan, tetapi ia tidak peduli kepada sesama.

Orang kaya ini memang tidak berbuat kejahatan sama sekali. Kejahatan dalam arti yang ekstrim, seperti membunuh, menindas, dll. Tetapi ada satu kesalahan yang ia lakukan, yaitu: TIDAK PEDULI kepada sesama. Ia tidak memiliki belaskasihan sama sekali kepada orang yang menderita. Salah satu buktinya adalah ketika Lazarus yang miskin datang ke rumahnya. Ia tidak memperlakukannya sebagai manusia, tetapi membiarkannya duduk di pintu dan memakan remah-remah yang jatuh dari mejanya, sedangkan anjing datang menjilati boroknya. Orang kaya itu cuek aja... dia berpikir, “peduli amat sama orang itu”. Ia tidak memandang Lazarus sebagai manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi. Ia sama sekali tidak memiliki belaskasihan dan kepedulian kepada orang yang miskin, sakit, dan menderita.

Akibat dari perbuatannya, maka orang kaya ini menerima hukuman yang setimpal  dengan perbuatannya di akhirat. Kenyataan hidup di akhirat berbalik dengan apa yang ada di dunia saat ini. Orang kaya yang hidup dalam kemewahan tapi tidak peduli dengan sesama dan tidak memiliki belaskasih kepada sesama, di akhirat akan mengalami penderitaan selama-lamanya dan tidak akan menerima belaskasih juga dari siapapun. Sedangkan Lazarus yang miskin dan menderita selama hidup di dunia, akan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Allah di surga.

Kisah Lazarus dan orang kaya ini menjadi kesaksian bagi kita semua yang masih hidup di dunia ini. Tidak perlu Lazarus datang ke dunia lagi untuk mewartakan tentang akhirat. Kesaksian Musa dan para nabi sudah cukup bagi kita. Yesus sendiri mengatakan bahwa, jika seseorang tidak percaya kepada kesaksian Musa dan para nabi, maka ia juga tetap tidak akan percaya, sekalipun yang datang itu adalah seorang yang bangkit dari antara orang mati. Kita semua yang percaya kepada Yesus, harus percaya kepada kebangkitan orang mati dan kehidupan yang kekal. Yesus telah turun dari Surga dan kini telah bertahta dalam Kerajaan Surga. Pengajaran dan kesaksian hidup Yesus menjadi bukti nyata bagi kita, untuk percaya adanya kehidupan di akhirat, adanya penghakiman setelah kematian di dunia, adanya keselamatan abadi di surga, dan adanya kebinasaan kekal di neraka.  

Kesempatan hidup di dunia ini haruslah kita pergunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri menyongsong kehidupan di akhirat. Jangan sampai kita lupa dengan akhirat, seperti orang kaya dalam Bacaan Injil tadi. Maka dari itu, tidak cukup jika kita hanya menghindari kejahatan, tetapi tidak melakukan kebaikan bagi sesama. Kejahatan memang harus kita hindari, tetapi kita juga harus berbuat baik kepada sesama, terutama mereka yang miskin, sakit, dan menderita. Kita harus memiliki belas kasih dan kepedulian kepada mereka, serta mewujudkannya dalam tindakan nyata dengan menolong dan membantu mereka, baik secara moril maupun materiil. Dengan demikian, kelak kita akan disambut oleh mereka dalam kehidupan yang abadi di Surga.










Share:

Friday, 20 September 2019

PERSAHABATAN YANG SEJATI

Hari Minggu Biasa XXV: 
(22 September 2019)

P. Vinsensius, Pr.
  


Sahabat adalah harta yang paling berharga, bahkan melebihi harta yang sifatnya material belaka. Ketika kita mengalami kesusahan, kita pasti akan datang kepada sahabat kita, untuk curhat dan meminta pendapatnya serta masukkannya bagi kita dalam menghadapi masalah tersebut. Segala harta milik kita tidak berarti sama sekali, jika kita tidak memiliki sahabat. Sahabatlah yang dapat menolong kita, ketika kita menghadapi segala permasalahan hidup, dan bukan semata-mata harta dunaiwi. Sahabatlah satu-satunya yang dapat menolong kita, ketika harta duniawi tidak lagi dapat membantu kita dalam mengatasi permasalahan hidup.

Hal yang serupa terjadi dengan bendahara yang tidak jujur dalam Bacaan Injil tadi. Bendahara ini akan dipecat oleh tuannya kerena ia telah menghamburkan harta milik tuannya. Menghadapi permasalahan ini, bendahara ini pun berpikir, bukan  bagaimana caranya agar ia tidak dipecat, karena sudah jelas kesalahannya dan dia pasti akan dipecat, tetapi ia berpikir bagaimana cara supaya ada orang yang mau menampung dia di rumahnya ketika ia dipecat oleh tuannya. Artinya, ia mencari seorang sahabat yang bisa menolong dia dalam menghadapi permasalahan ini.

Karena pada dasarnya bendahara ini tidak jujur, maka solusi yang ia lakukan juga tidak jujur. Ia membuat surat hutang palsu bagi para pelanggannya, yaitu dengan mengurangi jumlah hutang mereka. Hutang yang awalnya 100 tempayan minyak dikuranginya menjadi 50 tempayan, dan seterusnya. Semua hutang pelanggan itu dikuranginya. Hal ini tentu saja membuat para pelanggan menjadi senang kepadanya, dan menganggap dia “baik”.  Mereka tidak tahu kalau semua ini hanyalah modus, agar mereka simpatik terhadap dia. Bendahara yang tidak jujur ini berusaha menjalin persahabatan dengan para pelanggannya dengan cara yang tidak jujur pula. Tujuannya hanya satu, yaitu supaya kelak kalau dia dipecat oleh tuannya, mereka mau menerima dia di rumahnya, dan memberikan pekerjaan baru kepadanya.

Perumpamaan yang diberikan Yesus ini sama sekali tidak bermaksud supaya kita meniru perbuatan curang dari bendahara yang tidak jujur ini. Tetapi kita dapat belajar dari kesalahan bendahara ini: betapa berharganya sebuah persahabatan. Persahabatan yang sejati tidak dapat dibeli dengan harta apapun. Bahkan ketika harta tidak dapat lagi menolong kita, sahabatlah satu-satunya orang yang dapat menolong dan membantu kita.

Pertanyaannya: “Bagaimana persahabatan yang sejati itu?” Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang tulus dan bukan karena modus, seperti bendahara yang tidak jujur ini. Seorang sahabat yang tulus tidak mencari keuntungan diri sendiri, tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi sahabatnya. Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang jujur. Seorang sahabat tidak menutup-nutupi kelemahan dan kesalahannya di depan sahabatnya atau berbohong demi kebaikannya sendiri, melainkan jujur dan terbuka untuk menceritakan segala kelemahan, kesalahan, dan permasalahannya, sehingga mereka dapat saling memahami dan membantu.

Persahabatan yang sejati inilah yang dapat menghantar kita ke dalam “kemah abadi”, yaitu Kerajaan Allah di surga. Maka, marilah kita mengikat persahabatan yang sejati dengan Tuhan dan sesama. Yesus telah menyebut kita sahabat, karena Ia telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang Ia dengar dari Bapa (bdk. Yoh. 15:15). Maka, kita juga harus menjadikan Yesus sebagai sahabat sejati dalam hidup kita. Mari kita datang kepada-Nya setiap hari di dalam doa, dan mendengarkan sabda-Nya, dengan setia membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari. Melalui persahabatan yang sejati dengan Tuhan dan sesama, kita akan memperoleh keselamatan yang berasal dari Tuhan.





Share:

Friday, 13 September 2019

KESETIAAN TUHAN

Hari Minggu Biasa XXIV: 

(15 September 2019)

P. Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, Tuhan selalu setia kepada manusia. Hanya manusia saja yang selalu tidak setia kepada Tuhan. Kesetiaan Tuhan tampak dalam Bacaan Pertama dari Kitab Keluaran. Allah setia menolong umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Tetapi, apa balas dari mereka? Mereka malah mengkhianati Tuhan! Mereka membuat berhala untuk disembah! Baru saja mereka ditinggalkan oleh Musa - karena Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima Sepuluh Perintah Allah - mereka sudah melakukan dosa yang berat! Perbuatan dosa ini membuat Tuhan murka terhadap umat Israel, sehingga Tuhan mau membinasakan mereka semua. Namun, Musa sebagai utusan Allah, memohon pengampunan bagi umatnya. Karena kemurahan hati Allah, dan kerahiman-Nya, maka Ia mau mengampuni dosa umat Israel. Inilah bukti dari kesetiaan Tuhan kepada manusia, walaupun manusia selalu mengingkari janjinya terhadap Tuhan.

Kesetiaan Tuhan tampak nyata dalam diri Yesus Kristus. Dalam Bacaan Injil yang diambil dari Injil Lukas dikisahkan, bahwa Yesus dekat dengan orang-orang yang berdosa. Persahabatan Yesus dengan orang berdosa mempunyai satu tujuan yang luhur, yaitu supaya mereka bertobat. Namun, misi Yesus ini ternyata tidak disukai oleh kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka bersungut-sungut karena Yesus mau menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi para pemuka agama Yahudi.

Dengan latar belakang situasi seperti ini, maka Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang gembala yang baik. Gembala yang baik itu mempunyai 100 ekor domba. Ketika 1 ekor itu pergi dan tersesat, maka ia akan pergi mencari yang hilang itu sampai ia menemukannya. Ada suatu kegembiraan yang besar, jika ia menemukan 1 ekor yang tersesat itu. Demikian pula dengan Tuhan Yang Maha Setia. Ia akan berusaha mencari umat-Nya yang hilang dan tersesat karena dosa. Ia akan mendekati mereka, makan bersama mereka, dan mewartakan Kabar Gembira Keselamatan Allah kepada mereka, supaya mereka bertobat. Jika orang berdosa itu bertobat, maka akan ada suatu kegembiraan yang besar di surga.

Saudara-saudari terkasih, pertanyaan yang patut kita renungkan hari ini adalah: “Apakah kita sudah setia kepada Tuhan?”  “Ataukah kita sering kali mengkhianati Tuhan dengan melakukan dosa?” Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengajarkan kita semua untuk tetap setia kepada Tuhan, sama seperti Tuhan yang tetap setia kepada kita. Walaupun kita pernah jatuh ke dalam dosa, jangan sampai dosa itu membuat kita menjadi tidak setia lagi kepada Tuhan. Mari kita bangkit lagi! Mari kita menyesali segala dosa yang pernah kita perbuat dan memohon ampun kepada Tuhan. Tuhan pasti akan mengampuni dosa kita, asalkan kita sungguh-sungguh bertobat dan ingin kembali kepada-Nya. 

Kesetiaan Tuhan menjadi teladan yang baik bagi kita untuk senantiasa setia kepada Tuhan dan sesama. Tuhan telah memberikan contoh kepada kita bagaimana bersikap setia, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Maka, marilah kita tetap setia kepada Tuhan, dan setia kepada janji yang kita ucapkan di hadapan Tuhan. Hanya dengan kesetiaan, maka kita akan menerima keselamatan yang dijanjikan Tuhan bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.  



P. Vinsensius, Pr.

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau




Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive