BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Sunday, 23 December 2018

YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA


(Malam Natal: 24 Desember 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR

Setiap tahun kita merayakan Natal. Natal identik dengan kemeriahan, pesta pora, hiasan-hiasan dan asesoris, serta lagu-lagu yang bernuansa Natal. Semua itu memang perlu, tetapi jangan sampai kita kehilangan semangat Natal yang sesungguhnya. Semangat Natal yang sesungguhnya dapat kita temukan di dalam Injil yang barusan kita dengarkan tadi. Injil pada malam Natal ini bercerita tentang kisah seputar Kelahiran Yesus, baik itu kisah sebelum maupun segera sesudah kelahiran Yesus.

Hari ini telah lahir Sang Juru selamat
TEOLOGI

         
Peristiwa kelahiran Yesus ini adalah peristiwa yang menggembirakan, sekaligus mengharukan. Peristiwa ini menggembirakan, karena telah lahir Seorang Juruselamat di dunia ini. Allah telah menjelma menjadi seorang manusia dalam diri Yesus untuk membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Namun, di balik kegembiraan ini, ada suatu peristiwa yang mengharukan pula, yaitu: tidak ada seorang pun yang mau menerima Yosef dan Maria yang sedang mengandung Yesus. Semua rumah sudah penuh dan mereka tidak mau memberikan tumpangan untuk seorang ibu yang dalam keadaan mau melahirkan ini. Akhirnya, Yosef dan Maria hanya mendapatkan sebuah kandang yang hina, dan Yesus dilahirkan di situ. Yesus, Putra Allah, lahir dalam keadaan hina dan dibaringkan di palungan.

Warta tentang kelahiran ini pertama-tama diwartakan bukan kepada orang-orang yang pandai, dan berpangkat, tetapi kepada orang-orang yang sederhana, yaitu: para gembala. Seorang Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada para gembala dan membawa kabar gembira kepada mereka, bahwa “Hari ini telah lahir seorang Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Supaya para gembala ini bisa mengenali Yesus, Malaikat ini pun memberikan tandanya kepada mereka, yaitu seorang Bayi yang dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di dalam palungan.

PROFETIS

Tema Natal kita pada tahun 2018 ini adalah “Yesus Kristus Hikmat Kita” (1 Kor. 1:24.30). Kita semua diajak untuk merenungkan, bahwa Yesus Kristus adalah Hikmat dari Allah, yang berbeda dengan hikmat dunia. Hikmat Allah telah hadir di dunia, yaitu dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristuslah Hikmat Allah bagi manusia. Sejak kelahiran-Nya Yesus telah mewartakan tentang Hikmat Allah melalui kesederhaan-Nya. Ia rela lahir di kandang hina. Pewartaan tentang kelahiran-Nya pun dinyatakan kepada orang-orang yang sederhana, seperti para gembala. Kesederhanaan Allah sungguh bertentangan dengan gegap gempita dan segala kemewahan duniawi, yang menjadi hikmat dunia. Dunia menawarkan segala kenikmatan dan kemegahannya. Tetapi sesungguhnya, semuanya itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Allah tidak mau hadir di dalam segala kemewahan duniawi itu. Ia hanya mau hadir di dalam kesederhanaan dan kemiskinan, yang Ia tampakkan melalui sebuah kandang yang hina, dan melalui pewartaan kelahiran-Nya kepada para gembala yang miskin.

Penjelmaan Allah menjadi manusia bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, yang telah jatuh akibat perbuatan dosa manusia. Allah rela menjadi miskin, agar kita menjadi kaya menurut hikmat Allah, dan bukan menurut hikmat dunia. Maka, kita yang mengimani Kristus dan menjadi pengikut Kristus, juga harus menjadikan Yesus Kristus sebagai Hikmat bagi kita. Caranya adalah dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, terutama mereka yang miskin, kecil, tersingkir, dan menderita. Yesus hadir dalam diri mereka, dan Yesus mengetuk hati kita untuk memberikan perhatian kepada mereka melalui bantuan-bantuan yang dapat kita berikan, baik secara moril, maupun materil. Itulah cara yang dapat kita lakukan dalam mewartakan Kabar Gembira kelahiran Yesus pada zaman sekarang. Sebagaimana  dahulu Kabar Gembira Kristus ini telah diwartakan oleh Malaikat Tuhan kepada para gembala yang sederhana, demikian pula sekarang kita harus mewartakannya juga kepada orang-orang sederhana, melalui tindakan dan perbuatan kita yang nyata kepada sesama.

Maka, marilah kita merayakan Natal ini dengan kegembiraan yang berasal dari Allah dan bukan dari manusia. Semoga dengan perayaan Natal ini, kita semakin mengandalkan Yesus dalam kehidupan kita, dan menjadikan Dia hikmat bagi kita, baik dalam berpikir, berkata, maupun bertindak. Yesus adalah ukuran segala-galanya bagi kita. Dialah Hikmat yang sempurna dari Allah bagi manusia. Semoga kita semakin mencintai Yesus dan setia kepada-Nya sampai akhir hayat kita. Marilah kita hening sejenak untuk merenungkan Sabda Tuhan.





Share:

Wednesday, 19 December 2018

SUKACITA MENYAMBUT KELAHIRAN YESUS



 (Hari Minggu Adven IV: 23 Desember 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR

Kita pasti pernah merasakan sukacita dan kegembiraan. Bapak ibu bersukacita karena pekerjaannya berjalan dengan baik dan memperoleh hasil. Anak-anak bersukacita karena mendapatkan peringkat di kelas, atau karena sudah liburan sekolah. Dan secara istimewa kita semua bersukacita karena sebentar lagi kita akan merayakan Hari Raya Natal. Sukacita yang besar dirasakan oleh St. Elisabet dan St. Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini, karena perjumpaan mereka yang istimewa dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria.

Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya
TEOLOGI

Injil hari ini mengisahkan tentang Bunda Maria yang mengunjungi Elisabet, saudarinya. Setelah Bunda Maria menerima Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus, Bunda Maria pun pergi ke rumah Elisabet. Elisabet pada waktu itu juga sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Sesampainya di rumah Elisabet, Maria memberikan salam kepada Elisabet. Ketika mendengar salam dari Maria, anak yang ada di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet pun dipenuhi dengan Roh Kudus.
Dengan keadaan berahmat, Elisabet membalas salam Maria dengan mengucapkan kata-kata, yang menjadi inspirasi bagi Gereja dalam merumuskan doa Salam Maria, yaitu: “Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.” Elisabet dengan terus terang mengatakan, bahwa ketika salam dari Maria sampai di telinganya, anak yang di dalam rahimnya melonjak kegirangan. Artinya, ada sukacita yang besar, baik bagi Elisabet sendiri, maupun bagi Yohanes yang masih dikandungnya.

Sukacita itu bukan berasal dari manusia, tetapi sungguh berasal dari Allah, karena sukacita itu adalah sukacita menyambut kelahiran Yesus, Sang Mesias, yang akan lahir di dunia. Sukacita ini bukan sekedar sukacita dunia, tetapi sukacita surga dan bumi, sebab Allah yang Mahakuasa telah datang ke dunia, dan masuk ke dalam rahim Bunda Maria dengan kuasa Roh Kudus. Maka, tidak mengherankan, jika Yohanes Pembaptis yang masih berada di dalam rahim Elisabet sudah bisa merasakan sukacita yang besar, karena berjumpa dengan Tuhan Yesus, yang pada waktu itu juga masih berada di dalam rahim ibu-Nya.

PROFETIS

Minggu lalu kita sudah merayakan Minggu Gaudete atau Minggu kegembiraan. Pada hari Minggu Adven IV ini kita semua kembali diajak untuk merasakan sukacita yang berasal dari Allah. Sukacita yang sama, yang dirasakan oleh Bunda Maria, Elisabet, dan Yohanes, anaknya, juga menjadi sukacita kita semua dalam menyambut Hari Raya Kelahiran Sang Juruselamat kita, Yesus Kristus. Pertanyaanya, bagaimana caranya supaya kita bisa merasakan sukacita ini?

Dunia dengan segala teknologi dan kecanggihannya menawarkan kepada kita sukacita yang bersifat duniawi. Kita bisa memperolehnya dengan mudah, dengan segala usaha dan jerih payah kita. Semua harta dan kekayaan juga memberikan sukacita kepada manusia. Tetapi, sesungguhnya sukacita itu hanyalah bersifat sementara saja, dan hanya bisa kita nikmati selama kita masih hidup di dunia. Artinya, dunia tidak memberikan sukacita yang bersifat abadi, sejati dan sempurna. Maka, di tengah segala kemajuan zaman ini, Tuhan menawarkan kepada kita sukacita yang sejati, abadi dan sempurna, yaitu sukacita rohani.

Sukacita rohani ini semata-mata adalah karunia dari Allah, dan bukan hasil dari usaha manusia. Allah sendiri yang memberikannya kepada manusia. Sukacita itu sudah hadir di dunia ribuan tahun yang silam, tepatnya sejak peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya akan kita rayakan pada Hari Raya Natal nanti. Maka, menjelang Hari Raya Natal ini marilah kita kembali merasakan sukacita yang sama, yang sudah dialami oleh Bunda Maria, Elisabet, dan Yohanes Pembaptis, serta orang-orang lain yang hidup pada zaman Yesus.

Kita bisa merasakan sukacita ini bila kita mau menerima kehadiran Yesus dalam hati kita, dan mau berjumpa dengan Yesus dalam keheningan dan doa. Berbagai usaha dapat kita lakukan agar dapat berjumpa dengan Yesus melalui doa, devosi, bacaan Kitab Suci, dan terutama melalui Perayaan Ekaristi. Bagi kita doa haruslah menjadi suatu perjumpaan dengan Tuhan Yesus, dan bukan rutinitas atau kewajiban belaka! Jika di dalam doa kita sungguh mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, maka kita bisa merasakan sukacita yang besar, yakni sukacita rohani yang berasal dari Roh Kudus.

Doa bagi kita haruslah menjadi perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus sendiri. Melalui perjumpaan ini kita dapat merasakan sukacita rohani dan dipenuhi dengan Roh Kudus. Sukacita rohani dapat kita rasakan, bila kita berada dalam keadaan berahmat. Maka, berbahagialah kita yang sudah menerima Sakramen Tobat selama Masa Adven ini, sebab melalui Sakramen Tobat atau pengakuan dosa kita dibersihkan dari segala dosa, dan kondisi jiwa kita menjadi suci kembali dan dalam keadaan berahmat. Dalam keadaan berahmat itulah kita ingin merayakan Hari Raya Kelahiran Sang Juruselamat kita, Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga dengan perayaan ini nanti kita dapat merasakan sukacita rohani dalam kehidupan kita setiap hari.


Maka, marilah menjelang Hari Raya Natal ini kita semakin mendekatkan diri dengan Tuhan Yesus melalui doa-doa kita, agar pada Hari Raya Kelahiran-Nya nanti kita sungguh dapat merayakannya dengan penuh sukacita, dan bermakna bagi kehidupan iman kita.  

Share:

Wednesday, 12 December 2018

KEGEMBIRAAN MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN


 (Hari Minggu Adven III: 16 Desember 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR
Kita telah memasuki Minggu Adven III, yang sering disebut sebagai Minggu Gaudete (Kegembiraan). Ada suatu kegembiraan dalam hati kita, karena Hari Raya Kelahiran Sang Juru selamat kita, Yesus Kristus, sudah semakin mendekat. Namun, kegembiraan itu tidak boleh menjadi euphoria. Kegembiraan yang ada dalam hati kita harus diimbangi dengan semangat tobat yang tetap kita hayati sepanjang masa Adven ini. Maka, warta pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis tetaplah berlaku bagi kita pada hari Minggu Adven ini.

Kondisi Sungai Yordan sekarang

TEOLOGI

Injil hari ini menampilkan kembali tokoh Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan demi pengampunan dosa. Secara konkret Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa pertobatan itu berarti memperhatikan orang yang menderita kekurangan dan tidak memeras orang lain dengan berbagai cara. Maka, buah-buah dari pertobatan itu jelas, yaitu tumbuhnya kepedulian kepada sesama yang berkekurangan dan berhentinya segala macam penindasan dan kekerasan yang menyebabkan penderitaan bagi orang lain.  

Pertobatan ini menjadi suatu jalan untuk mempersiapkan kedatangan Sang Mesias. Orang-orang Yahudi menyangka bahwa Yohanes Pembaptis-lah Mesias yang diutus Allah itu. Namun, Yohanes Pembaptis dengan terus terang mengatakan, bahwa dia bukanlah Sang Mesias yang dinantikan itu. Sang Mesias yang dinantikan itu akan segera datang, dan Ia lebih berkuasa daripada Yohanes Pembaptis. Dia akan membaptis dengan Roh Kudus dan api. Dengan demikian, Yohanes Pembaptis mewartakan kedatangan Yesus yang pertama kalinya ke dunia ini.

PROFETIS

Pertobatan demi pengampunan dosa yang menjadi jalan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus, haruslah menjadi nyata dalam hidup kita. Pertobatan itu akan menjadi nyata jika ada perubahan dari sikap hidup kita yang buruk dan jahat menjadi baik dan benar di hadapan Allah. Kepedulian kepada sesama menjaid point utama dalam pertobatan ini. Kita bisa peduli kepada sesama, jika kita mampu mengalahkan egoisme diri kita, dan menghilangkan kecurangan-kecurangan yang hanya menguntungkan diri kita sendiri, tetapi merugikan orang lain.

Semua perbuatan tobat yang kita lakukan itu haruslah kita lakukan dengan gembira, dan bukan dengan terpaksa. Itulah cara yang tepat untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Raya Natal nanti. Natal bukan sekedar asesoris, makanan, minuman, pakaian, dan lagu-lagu saja. Tetapi Natal akan bermakna jika kita mempersiapkan diri kita dengan semangat pertobatan. Jika kita sungguh-sungguh bertobat, dan menjadi pribadi yang lebih baik selama masa Adven ini, maka itulah kegembiraan Natal yang sebenarnya.

Marilah, kita berusaha untuk mengamalkan pertobatan dalam hidup kita. Mari kita mengoreksi diri kita, bagaimana sikap hidup kita selama ini terhadap sesama, dan apa perbuatan dosa yang masih melekat dan mengikat diri kita? Mari kita mengembangkan sikap kepedulian kepada sesama, dan semangat menolong sesama dengan penuh kegembiraan.

Dan marilah kita mohon rahmat Allah, agar kita dapat melepaskan semua keterikatan kita akan dosa-dosa itu, dan kekuatan untuk dapat merubah sikap hidup kita menjadi lebih baik dan berkenan di hati Allah. Sakramen Tobat menjadi sarana yang efektif bagi kita untuk bertobat dan memulai cara hidup yang baru, yang sesuai dengan kehendak Allah. Maka, marilah selama Masa Adven ini kita memohon ampun kepada Allah dengan mengaku dosa di hadapan imam. Dengan demikian, dosa kita akan dihapuskan, dan kita bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk merayakan Hari Raya Kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus. 
Share:

Thursday, 6 December 2018

PERTOBATAN DEMI PENGAMPUNAN DOSA


 (Hari Minggu Adven II: 9 Desember 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR

Minggu Adven I dan II disebut sebagai Adven eskatologis, karena bertujuan untuk mengarahkan hati kita, agar dengan penuh harapan, kita dapat menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Maka, permenungan kita akan Sabda Tuhan pada hari ini masih berbicara tentang “Kedatangan Tuhan yang kedua kali ke dunia pada akhir zaman”.

"Persiapkanlah jalan untuk Tuhan!"

TEOLOGI

Injil hari ini bercerita tentang kisah panggilan Yohanes Pembaptis, anak Zakharia dan Elisabet. Yohanes Pembaptis mendapatkan panggilan dari Allah untuk menjadi seorang nabi. Sebagai seorang nabi, ia membawa pesan dari Allah untuk umat-Nya. Pesan itu adalah warta tentang pertobatan demi pengampunan dosa. Pertobatan dan pengampunan dosa menjadi jalan bagi manusia untuk dapat mempersiapkan kedatangan Tuhan, sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.

Memang kedatangan Tuhan yang dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis ini adalah kedatangan Tuhan yang pertama kali ke dunia ini. Allah telah hadir di dunia dalam diri Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya akan kita rayakan pada Hari Raya Natal nanti. Walaupun konteks pewartaan Yohanes Pembaptis ini terjadi pada zaman Yesus dan dalam konteks mempersiapkan orang-orang Yahudi untuk dapat menyambut kedatangan Yesus di tengah-tengah mereka, namun warta pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ini tetaplah berlaku pada zaman kita, yaitu dalam konteks mempersiapkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman.

PROFETIS

Selama dua minggu ini, yaitu Minggu Adven I dan II ini, Gereja mengajak kita untuk mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya ke dunia pada akhir zaman. Minggu lalu kita telah merenungkan apa yang akan terjadi pada akhir zaman dan apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi akhir zaman ini. Bacaan suci pada hari ini menjadi kelanjutan dari permenungan kita minggu lalu tentang apa yang harus kita lakukan dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini pada akhir zaman.

Selain berjaga-jaga dan berdoa, kita juga harus bertobat. Pertobatan itu sangat penting demi pengampunan dosa. Nabi Yesaya menggambarkan pertobatan itu seperti meluruskan sebuah jalan yang berliku-liku, seperti menimbun lembah yang curam, dan seperti meratakan gunung dan bukit. Apa maksud dari semuanya ini?

Pertobatan pada dasarnya ialah suatu proses perubahan hidup dari yang buruk dan jahat menjadi yang baik dan benar. Ada suatu perubahan dari sikap dan cara hidup ke arah yang lebih baik dan berkenan kepada Allah. Pertobatan terjadi, jika kita berusaha meluruskan jalan hidup kita yang berliku-liku karena dosa, karena perbuatan kita yang melenceng dari perintah dan kehendak Allah. Pertobatan terjadi, jika kita berusaha mengatasi kelemahan diri kita, segala kekurangan kita di hadapan Tuhan, dan berusaha melepaskan diri dari segala dosa yang masih melekat dan mengikat kita, yang membuat kita tenggelam dalam lembah kedosaan yang curam. Pertobatan terjadi, jika kita berusaha mengikis dan membuang kesombongan diri kita, yang membuat kita lupa kepada Tuhan dan sesama.

Marilah kita berusaha memperbaiki diri kita yang penuh dengan dosa ini dengan bertobat, agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah. Pertobatan menjadi jalan agar kita dapat mempersiapkan kedatangan Tuhan dengan keadaan yang layak dan pantas. Kita sering mengucapkan dalam Syahadat: “dari situ (surga) Ia (Tuhan Yesus) akan datang (ke dunia) mengadili orang yang hidup dan yang mati.” Dari syahadat ini jelas dikatakan, bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia ini untuk mengadili kita semua. Dalam pengadilan terakhir ini, orang yang baik dan berkenan kepada Allah akan diselamatkan, sedangkan orang yang jahat akan dibinasakan selamanya. Maka, marilah kita mempersiapkan diri dengan bertobat, agar dalam pengadilan nanti, kita semua dapat diselamatkan oleh Tuhan.

Dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan, namun kita juga tidak boleh lengah dan terlena oleh kenikmatan dunia ini, sehingga lupa mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Yang perlu dan harus kita lakukan ialah memperbaiki diri kita, dan berusaha mengubah cara hidup kita yang lama, yang penuh dengan dosa, menjadi cara hidup yang baik dan berkenan kepada Allah, serta semakin mendekatkan diri dengan Allah. Itulah cara yang baik dan tepat dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus pada akhir zaman.

Marilah kita berdoa, memohon kepada Tuhan, agar semakin hari kita semakin siap untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan penuh iman dan harapan, dan semoga Tuhan membantu kita dengan rahmat-Nya, agar kita bisa bertobat dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. 





Share:

Friday, 30 November 2018

BERJAGA-JAGA


 (Hari Minggu Adven I: 2 Desember 2018)
[Bacaan Injil: Luk. 21:25-28.34-36]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR
Kita sering mengatakan “Sediakan payung sebelum hujan”. Peribahasa ini sangat bagus dan mendalam maknanya. Peribahasa ini ingin mengungkapkan kepada kita, bahwa kita perlu mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kemungkinan yang bisa terjadi di luar dugaan kita. Peribahasa ini mengajarkan kita untuk selalu berjaga-jaga dan bersiap siaga. Pesan yang senada juga kita temukan dalam Bacaan Injil hari ini. Tuhan Yesus menyuruh kita untuk selalu berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman.

"Datanglah Tuhan, datanglah..."

TEOLOGI

Dua Minggu yang lalu, yaitu pada Hari Minggu Biasa XXXIII, kita sudah merenungkan “Penantian akan kedatangan Tuhan yang kedua kali ke dunia ini pada akhir zaman.” Pada hari Minggu Adven yang pertama ini kita kembali diajak untuk merenungkan tema yang sama. Dalam Injil hari ini Yesus mengambarkan peristiwa akhir zaman itu dengan keguncangan alam semesta, yang menimbulkan ketakutan yang besar. Namun, di balik kekacauan itu muncul harapan baru, yaitu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia ini dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Kedatangan Yesus ini membawa pembebasan bagi kita.

Namun, sebelum semuanya ini terjadi, Yesus berpesan kepada kita, supaya kita jangan terlena oleh kenikmatan duniawi ini, seperti pesta pora dan kemabukan. Dan jangan juga kita selalu hidup dalam kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan, sebab Tuhan akan datang dengan tiba-tiba. Dan barangsiapa yang tidak siap menyambut kedatangan Tuhan ini, karena perilaku hidupnya yang jahat, maka hari Tuhan itu akan menjadi jerat baginya! Maka dari itu, Yesus memberikan pesan amat penting, yaitu supaya kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa, supaya kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan untuk luput dari semua yang akan terjadi, dan supaya kita mampu bertahan untuk berdiri di hadapan Tuhan yang datang dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

PROFETIS

Ada satu istilah modern yang sering kita gunakan, yang maknanya sama dengan berjaga-jaga, yaitu antisipasi. Sikap antisipasi ini sangat bagus dan bijaksana, sebab dengan antisipasi ini, kita bisa berpikir panjang dalam melakukan segala sesuatu. Dengan antisipasi kita bisa memikirkan segala kemungkinan yang terjadi di depan, yang seringkali tidak dapat kita duga dan kita sangka. Dan dengan antisipasi juga kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi segala akibat yang bakal terjadi oleh karena keputusan yang kita ambil sekarang dan saat ini.   

Jika dalam hal-hal duniawi kita bisa melakukan antisipasi, maka dalam hal-hal surgawi kita juga harus bisa melakukan antisipasi. Dalam iman dan harapan, kita harus hidup dalam antisipasi akan kedatangan Tuhan yang kedua ke dunia ini pada akhir zaman. Sama seperti segala kemungkinan yang bakal terjadi ke depan sebagai akibat dari perbuatan kita tidak pernah kita duga dan sering kali di luar pengetahuan dan pemahaman kita, demikian pula hari kedatangan Tuhan tidak seorang pun yang tahu. Hanya Bapa di surga yang tahu, kapan akhir zaman itu akan terjadi.

Dalam mengantisipasi kedatangan Tuhan ini, kita tidak boleh lengah dan juga tidak boleh terlalu kuatir. Orang yang lengah akan berkata: “Masih lama Tuhan datang, mari kita nikmati hidup ini dengan pesta pora dan mabuk-mabukan, atau dengan kenikmatan duniawi lainnya.” Sedangkan orang yang terlalu kuatir akan selalu hidup dalam ketakutan, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambut kedatangan Tuhan. Kedua sikap ini akan menjadi jerat bagi orang-orang yang terlena dan terlalu kuatir. Maka, sikap bijaksana yang diajarkan oleh Yesus kepada kita dalam mengantisipasi kedatangan Tuhan ini ialah senantiasa berjaga-jaga dan berdoa.

Segala perbuatan baik, yang kita lakukan dalam hidup ini, dan yang kita lakukan kepada sesama menjadi wujud nyata dari sikap berjaga-jaga. Sikap berjaga-jaga dan berdoa menjadi antisipasi kita dalam menantikan kedatangan Tuhan. Doa menjadi kekuatan bagi kita, agar kita jangan terlena oleh pengaruh dunia ini, dan juga agar kita jangan larut dalam kekuatiran akan kehidupan kita ini.

Maka, marilah selama Masa Adven ini kita semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa. Doa menjadi sumber kekuatan bagi kita, sebab dengan berdoa berarti kita mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Dan Tuhan akan memberikan pertolongan kepada kita yang berseru kepada-Nya siang dan malam. Marilah kita tekun berdoa, dan jangan sampai kita melewatkan satu pun hari kita, tanpa berdoa. Doa harus menjadi seperti nafas bagi kita, sebab dari doa kita memperoleh rahmat kehidupan, kekuatan, dan pengharapan dari Tuhan, yang berguna bagi hidup kita.  

Download Aplikasi Tata Katolik Untuk Android 
https://drive.google.com/file/d/1aDoLo4gLw89PM_bzVm42HBRyAC7BKnV2/view

Share:

Sunday, 25 November 2018

Perayaan HUT Paroki Kristus Raja Sosok ke 36


Pada hari Minggu, 25 November 2018, Umat Paroki Kristus Raja Sosok mengadakan Perayaan Ulang Tahun Nama Pelindung Paroki yang ke – 36, yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada tahun Liturgi B.
Kue Ultah Nama Pelindung Gereja Parsok ke 36
Download Aplikasi Tata Katolik Untuk Hp disini
Share:

Thursday, 22 November 2018

YESUS RAJA KEBENARAN


 (Hari Raya Kristus Raja: 25 November 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.
PENGANTAR

Pada zaman sekarang kebenaran menjadi sesuatu yang mahal dan langka. Dan bahkan kebenaran hampir disingkirkan dari dunia, karena dunia lebih mengutamakan kebohongan, manipulasi, dan kepalsuan. Media massa pun ikut-ikutan menjadi pewarta kebohongan, dengan berita hoax yang merajalela di mana-mana. Belum lagi kita berbicara tentang politik saat ini, yang penuh dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Akibatnya, siapa yang mewartakan kebenaran akan dijauhi, dikucilkan, disalahkan, dan dihukum! Sama seperti Yesus yang diadili, dan dijatuhi hukuman mati, karena mewartakan kebenaran yang berasal dari Allah.

Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini!
Share:

Thursday, 15 November 2018

MENANTI KEDATANGAN YESUS



 (Minggu Biasa XXXIII: 18 November 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.


PENGANTAR

Setiap kali Misa atau Ibadat kita mengucapkan Syahadat Para Rasul, yang salah satu kalimatnya berbunyi: “Aku percaya akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus … yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati.” Ketika Misa terutama saat menyanyikan Anamnesis, kita juga mengatakan, “Wafat Kristus kita maklmumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan.”  Dari kedua pernyataan ini, tampak dengan jelas, bahwa iman kita mengakui Kedatangan Yesus yang kedua kali ke dunia ini. Dalam iman dan pengharapan, kita merindukan kedatangan Yesus. Dan Ia akan datang lagi ke dunia untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Kedatangan Yesus inilah yang akan kita renungkan dalam Injil hari ini.

"Datanglah, ya Yesus, Tuhan."
Share:

Thursday, 8 November 2018

PERSEMBAHAN YANG SEMPURNA



 (Minggu Biasa XXXII: 11 November 2018)
[Bacaan Injil: Mrk. 12:38-44]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR

Ketika kita memberikan ucapan terima kasih atau kado kepada seseorang, kita sering mengatakan, “Jangan dilihat dari nilai barang/ jumlahnya, tetapi lihatlah makna dari pemberian ini.” Artinya, ada makna yang lebih tinggi di balik pemberian yang sederhana ini. Dan makna dari pemberian diri ini tidak bisa diukur hanya dari nilai atau jumlah dari barang/ materi yang diberikan, tetapi dari ketulusan hati orang-orang yang memberikan barang ini. Ungkapan yang serupa juga dapat kita lihat dalam Bacaan Injil hari ini yang mengisahkan persembahan dari seorang janda miskin. Allah tidak melihat jumlah persembahan yang ia berikan, tetapi ketulusan hati dan pengorbanan dirinya dalam memberi.

  




TEOLOGI

Injil hari ini bercerita tentang perbandingan kontras antara Ahli Taurat dan janda miskin. Di hadapan Yesus kedua tokoh ini memiliki karakter yang berbeda, dan bertentangan satu sama lain. Para ahli Taurat ini digambarkan sebagai orang yang gila hormat! Mereka selalu mencari dan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri dengan mengorbankan orang lain. Tetapi, sebaliknya janda miskin ini digambarkan sebagai orang yang mau mengorbankan kepentingannya sendiri, demi orang lain.

Keburukan para ahli Taurat ini tampak pada motivasi mereka dalam melakukan segala sesuatu, yaitu selalu mencari kehormatan diri, dan bukan demi kemuliaan Tuhan. Bahkan mereka merampas apa yang dimiliki oleh orang miskin, padahal mereka yang miskin-lah yang seharusnya dilindungi dan dibantu! Maka, karena kejahatan mereka ini Yesus mengatakan, bahwa mereka akan menerima hukuman yang lebih berat!

Berbeda dengan ahli Taurat, janda miskin ini menjadi contoh kebaikan bagi murid-murid Yesus. Yesus memuji janda miskin yang memberikan persembahan ini, walaupun ia hanya memberikan sedikit sekali, tetapi di mata Yesus ia sudah memberi lebih banyak daripada semua orang, karena ia memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, seluruh nafkahnya. Janda miskin ini memberikan teladan pengorbanan diri yang tulus dan total kepada Allah dan sesama. Ia tidak perhitungan dalam memberikan persembahan. Ia memberi dengan tulus hati, dan tanpa pamrih. Bahkan ia memberikan semua yang ada padanya. Semangat pengorbanan inilah yang harus dicontoh oleh para murid Kristus, yakni rela mengorbankan kepentingannya sendiri demi sesama.  

PROFETIS

Semangat pengorbanan dari janda miskin ini menjadi teladan bagi kita dalam mempersembahkan diri kepada Allah dan sesama. Persembahan di sini tidak hanya berkaitan dengan persembahan uang/ kolekte saja, tetapi juga mencakup persembahan seluruh diri kita: tenaga dan pikiran kita, waktu kita, kehadiran kita, dan seluruh jiwa dan raga kita kepada Tuhan dan sesama. Persembahan berupa materi hanya sebagian kecil saja dari persembahan diri kita. Maka, kita jangan mempersempit persembahan yang dimaksud oleh Yesus hanya pada persembahan materi saja, tetapi harus lebih luas dan mendalam, yaitu persembahan seluruh diri kita, jiwa dan raga kita, semua yang kita miliki.

Persembahan diri kita akan menjadi sempurna, jika kita mempersembahkannya dengan penuh ketulusan hati dan dengan pengorbanan diri. Allah lebih melihat bagaimana hati kita dalam memberikan persembahan, dan bukan seberapa banyak yang kita persembahkan. Dan persembahan yang berkenan kepada Allah ialah persembahan yang diberikan dengan hati yang tulus ikhlas, dan dengan penuh pengorbanan diri. Semakin besar pengorbanan kita dalam mempersembahkan diri, semakin sempurna-lah persembahan kita kepada Allah dan sesama.

Marilah kita mempersembahkan seluruh diri kita kepada Allah dan sesama, melalui pelayanan kita dalam Gereja dan masyarakat. Marilah kita mengembangkan sikap memberi, bukan dari kelebihan dan kelimpahan kita saja, tetapi juga dari kekurangan kita. Dan jangan pernah berhenti untuk memberikan apa yang kita miliki kepada Tuhan dan sesama, baik itu berupa materi maupun bantuan moril yang sangat berguna bagi kehidupan kita bersama sebagai anggota Gereja.

Share:

Friday, 2 November 2018

Umat Katolik Paroki Kristus Raja Sosok Mengadakan Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman di Makam Dangku


Hari ini Jumat, 2 November 2018, umat Paroki Kristus Raja Sosok mengadakan Misa di Pemakaman Katolik Dangku. Misa yang Dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki Pastor John Eddi,Pr tersebut dalam Rangka Mengenang Arwah Semua Semua Orang Beriman. Dalam amanat nya Pastor menjelaskan bahwa kegiatan Misa ini bukannya tidak Berdasar, melainkan mengacu pada ayat-ayat pendukung dalam Kitab Suci. Khususnya Kitab Makabe dan Tradisi dalam Gereja Katolik. Salah satu tujuan misa ini adalah ruang Intensi untuk Indulgensi bagi arwah saudara-saudari kita yang masih berada di Purgatorium.
Share:

Wednesday, 31 October 2018

KASIH YANG SEMPURNA



 (Minggu Biasa XXXI: 4 November 2018)
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.

PENGANTAR

Sejak kecil kita diajarkan, bahwa Hukum yang paling utama ialah Hukum Cinta Kasih, seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tetapi, pertanyaannya: Apakah kita sudah mengerti dengan tepat apa yang dimaksud dengan hukum cinta kasih ini? Dan apakah kita sudah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Melalui pertanyaan dari seorang Ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, kita semua diajak untuk merenungkan makna cinta kasih yang sempurna sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus.


Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive