BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Saturday, 19 October 2019

DIBAPTIS DAN DIUTUS


Hari Minggu Biasa XXIX:
Hari Minggu Misi Sedunia Ke-93

Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, ada satu ungkapan yang menarik dari Paus Fransiskus dalam Pesannya untuk Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-93 ini, yaitu: “Saya adalah sebuah misi, anda adalah sebuah misi, setiap pria dan wanita yang telah dibaptis adalah sebuah misi.” Misi artinya kita berani keluar dari diri kita sendiri, dan dari kenyamanan diri kita, untuk memberikan diri kepada sesama lewat pelayanan kita, yang didasari oleh kasih Allah.

Sesuai dengan tema Minggu Misi Sedunia tahun ini, yaitu “Dibaptis dan Diutus”, maka Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk merenungkan tentang makna pembaptisan dan perutusan kita sebagai murid-murid Kristus. Kehidupan ilahi telah dianugerahkan kepada kita melalui pembaptisan. Pembaptisan memberi kita kelahiran kembali dalam gambar dan rupa Allah, dan menjadikan kita anggota Gereja. Dalam hal ini, pembaptisan benar-benar diperlukan untuk KESELAMATAN. Melalui Pembaptisan, Allah memenuhi janji-Nya untuk menjadikan setiap orang: putra dan putri-Nya di dalam Kristus. Maka, dalam pembaptisan kita menerima asal mula dari semua kebapaan dan keibuan yang sejati. Misi kita berakar pada kebapaan Allah dan keibuan Gereja. Artinya, tugas Perutusan itu melekat di dalam Pembaptisan. Kita semua yang telah dibaptis, bukan saja sekedar dibaptis, tetapi juga diutus untuk menjadi pewarta kasih Allah kepada sesama. Dan isi dari pewartaan itu ialah ajaran Kristus dan Gereja-Nya.

Saudara-saudari terkasih, pertanyaan yang patut kita renungkan pada hari ini: “Apakah yang dapat kita lakukan dalam menjalankan misi ini, dalam melaksanakan tugas perutusan kita sebagai orang yang sudah dibaptis?” Ada tiga hal yang dapat kita lakukan, yaitu: Pertama, kita perlu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Misi yang sejati harus berakar kuat di dalam doa. Tanpa doa, pelayanan yang kita berikan hanya akan menjadi sekedar pekerjaan sosial yang tidak memberikan buah rohani di dalam kehidupan bersama. Maka, kita harus berdoa dengan tidak jemu-jemu, seperti yang Tuhan Yesus kehendaki dalam Bacaan Injil tadi.

Kita harus berdoa seperti Musa, yang berdoa memohon kemenangan bagi bala tentara Israel yang berperang melawan bangsa Amalek. Musa telah membuktikan kuasa dari doa itu. Ketika ia mengangkat tangannya, bangsa Israel menjadi kuat, tetapi ketika ia menurunkan tangannya bangsa Israel menjadi lemah.

Maka, sesuai dengan pesan Yesus dan teladan Musa, kita harus bertekun dalam doa. Kita berdoa bukan saja untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Gereja secara universal. Kita berdoa, semoga misi Gereja Kristus di dunia ini dapat semakin berkembang, sehingga semakin banyak orang yang dapat mengalami Keselamatan yang berasal dari Tuhan.

Kedua, kita harus berpegang kuat kepada ajaran Tuhan yang tertulis di dalam Kitab Suci, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, bahwa Kitab Suci itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Misi Gereja berakar di dalam Doa dan Sabda Allah. Maka, selain berdoa kita juga harus tekun membaca dan merenungkan Sabda Tuhan yang tertulis di dalam Kitab Suci.

Ketiga, buah dari Doa dan Pembacaan Sabda Allah adalah karya kasih kepada sesama. Maka dari itu, kita juga harus mendukung karya misi Gereja dengan memberikan DERMA. Kolekte yang kita kumpulkan pada hari minggu ini akan diserahkan langsung ke Roma, guna mendukung karya misi Gereja di seluruh dunia. Persembahan yang kita berikan ini akan sangat berguna bagi misi Gereja-gereja Katolik yang ada di seluruh penjuru dunia, terutama negara-negara yang terpencil dan masih membutuhkan uluran tangan kita dalam menjalankan karya pelayanannya.

Marilah kita senantiasa menghidupkan semangat misi dalam diri kita, melalui Doa, Sabda, dan Derma, agar kita dapat sungguh-sungguh menghayati identitas kita sebagai murid-murid Kristus, yang dibaptis dan diutus untuk mewartakan kabar gembira Keselamatan Allah kepada semua orang.















Share:

Friday, 11 October 2019

MENJADI ORANG YANG TAHU BERTERIMA KASIH


Hari Minggu Biasa XXVIII: 
(13 Oktober 2019)


P. Vinsensius, Pr.





Ada dua kata yang sulit dan sering lupa kita ucapkan, yaitu: “Maaf dan Terima kasih”. Kita sulit mengucapkan maaf, mungkin karena kita merasa diri selalu benar dan tidak menyadari segala kesalahan yang telah diperbuat. Demikian pula kita sulit mengucapkan terima kasih, seolah-olah kita pantas menerima semua kebaikan dari orang lain dan dari Tuhan, tanpa harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sikap inilah yang dicela oleh Tuhan Yesus, dan terjadi pada 9 orang kusta yang sudah disembuhkan oleh Yesus.

Injil hari ini menampilkan kepada kita kisah penyembuhan atas kesepuluh orang kusta. Mereka memohon belaskasih dari Yesus, agar Yesus mau menyembuhkan mereka. Memang Yesus tidak mengatakan iya atau tidak, tetapi Yesus langsung memberikan perintah supaya mereka memperlihatkan dirinya kepada imam, sebab dalam konteks orang Yahudi hanya imam yang berhak menyatakan: apakah seorang itu telah sembuh dari kusta atau belum, sehingga mereka dapat diterima kembali ke dalam jemaat Yahudi. Namun, sebelum mereka sampai kepada imam, ketika masih dalam perjalanan, secara ajaib mereka menjadi sembuh dari kustanya.

Kesepuluh orang kusta yang memohon kepada Yesus semuanya mengalami kesembuhan, tetapi anehnya hanya satu orang saja yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya dan berlutut di hadapan Yesus. Yesus menjadi heran dan kecewa terhadap 9 orang kusta yang telah disembuhkannya itu, karena mereka tidak tahu berterima kasih. Mereka hanya bisa meminta, tetapi tidak tahu berterima kasih. Sedangkan orang Samaria yang tahu berterima kasih ini dipuji oleh Yesus. Yesus mengutusnya dan memberikan kepadanya anugerah keselamatan. Karena imannya, ia tidak hanya mendapatkan kesembuhan tetapi juga keselamatan yang berasal dari Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari kita juga sering bersikap seperti 9 orang kusta yang tidak tahu berterima kasih. Kita hanya bisa meminta sesuatu dari Tuhan atau orang lain, tetapi kita tidak tahu berterima kasih. Sikap ini sungguh tidak berkenan kepada Tuhan! Tuhan ingin supaya kita menjadi orang yang tahu berterima kasih. Terima kasih itu harus kita wujudkan dalam perkataan dan juga perbuatan kepada Tuhan dan sesama. Melalui perkataan, kita harus membiasakan diri mengucapkan “terima kasih” kepada setiap orang yang telah memberikan bantuan kepada kita, apapun bentuknya, baik moril maupun materiil. Tetapi itu saja tidak cukup! Kita juga harus mewujudkan terima kasih itu di dalam setiap perbuatan, sikap dan tindakan kita sehari-hari dalam relasi kita dengan sesama. Misalnya, dengan membantu sesama kita yang membutuhkan bantuan kita.

Terima kasih juga harus kita sampaikan kepada Tuhan di dalam doa. Kita harus datang dan berlutut di hadapan Tuhan untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Maka, tidak cukup jika dalam doa kita hanya memohon ini dan itu kepada Tuhan, tetapi lupa berterima kasih kepada-Nya! Kita harus menyampaikan terima kasih kita kepada Tuhan, walaupun sebenarnya ucapan syukur kita sama sekali tidak akan menambah kemuliaan Tuhan, tetapi sangat berguna bagi keselamatan kita. (Lih. Prefasi Umum IV). Maka, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan di dalam doa dan karya. Di dalam doa kita harus menyampaikan terima kasih kepada Tuhan, dan di dalam karya kita harus mewujudkan terima kasih itu melalui perbuatan baik kepada sesama. Dengan demikian, kita akan memperoleh rahmat keselamatan yang berasal dari Tuhan.


P. Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau





Share:

Thursday, 3 October 2019

TAMBAHKANLAH IMAN KAMI


Hari Minggu Biasa XXVII: 
(6 Oktober 2019)

Oleh: P. Vinsensius, Pr.





Seorang murid Yesus harus memiliki sikap seorang hamba. Tuhan Yesus mengumpamakannya seperti seorang hamba yang pulang bekerja dari ladang, ia masih harus melayani tuannya dengan menyediakan makanan bagi tuannya. Sampai tuannya selesai makan baru ia boleh makan. Ia melakukan semuanya itu tanpa mengharapkan pujian atau terima kasih, malah ia menganggap dirinya hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna dan ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Betapa rendah hatinya sikap hamba ini. Ia telah melakukan yang terbaik, tetapi ia tidak mau memegahkan diri dan menyombongkan dirinya, melainkan tetap bersikap rendah hati.

Sikap yang rendah hati seperti ini hanya bisa dimiliki oleh seorang murid jika mereka memiliki iman. Maka, para murid meminta kepada Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Yesus tidak langsung mengabulkan permohonan mereka, tetapi Ia mau menjelaskan kepada para murid, supaya mereka tahu apa yang mereka minta, yaitu: apa gunanya memiliki iman? Yesus mengatakan bahwa iman walaupun hanya sebesar biji sesawi bisa memindahkan pohon ara ke laut. Artinya, dengan iman kita bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin, yang mustahil di hadapan manusia, tetapi sesungguhnya bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Termasuk memiliki sikap yang rendah hati seperti seorang hamba tadi, menuntut iman dari para murid.


Bagaimana caranya supaya kita memiliki iman yang kuat? Pertama-tama, kita perlu berdoa seperti para murid Yesus: “Tuhan, tambahkanlah iman kami.” Iman adalah karunia dari Tuhan. Kita tidak bisa memiliki iman, jika Tuhan tidak menganugerahkannya kepada kita. Maka dari itu, kita harus rajin berdoa dan memohon rahmat iman dari Tuhan.

Kedua, kita harus tetap percaya kepada Tuhan walaupun di tengah tantangan, cobaan, dan penderitaan. Kita mungkin sering kali mengeluh seperti Nabi Habakuk, karena banyaknya penindasan dan kejahatan di sekeliling kita, yang membuat kita menderita. Namun, tetaplah percaya kepada sabda Tuhan, yang disampaikan-Nya kepada Habakuk: “Sungguh, orang yang sombong tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hidup berkat imannya.” Meskipun banyak kejahatan yang terjadi di sekitar kita, jangan sampai kita ikut-ikutan di dalamnya, tetapi kita harus memberikan kesaksian akan hidup yang benar. Dengan demikian kita akan tetap hidup dalam perlindungan Tuhan.

Ketiga, kita harus tetap memegang ajaran yang sehat dan melakukannya di dalam iman dan kasih kepada Yesus, seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius. Dunia saat ini menawarkan kepada kita berbagai macam ideologi dan ajaran yang menyesatkan! Maka, kita harus tetap berpegang pada ajaran Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kita, dan melaksanakannya dalam kehidupan yang nyata. Dengan demikian, iman kita akan tetap kuat dan teguh.

Marilah kita senantiasa berdoa dan berusaha, agar iman kita tetap kuat. Tanpa doa dan usaha kita tidak akan memiliki iman sama sekali. Tetapi dengan doa dan usaha, maka kita akan memiliki iman yang sejati, yang mengakar kuat di dalam hati dan berbuah dalam tindakan nyata, yaitu perbuatan baik kepada sesama.







Share:

Friday, 27 September 2019

PEDULI KEPADA SESAMA


(Hari Minggu Biasa XXVI: 29 September 2019)


Oleh: P. Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, kita semua diajarkan, bahwa selama hidup di dunia ini kita harus berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Orang bisa berbuat baik, tetapi masih saja berbuat jahat. Berarti perbuatan baiknya belum sempurna. Demikian pula, orang yang tidak berbuat jahat, tetapi ia juga tidak berbuat baik. Itu juga berarti tidak ada kesempurnaan di dalam dirinya. Hal ini tampak pada diri orang kaya dalam Bacaan Injil tadi. Ia hidup dalam kemewahan, tetapi ia tidak peduli kepada sesama.

Orang kaya ini memang tidak berbuat kejahatan sama sekali. Kejahatan dalam arti yang ekstrim, seperti membunuh, menindas, dll. Tetapi ada satu kesalahan yang ia lakukan, yaitu: TIDAK PEDULI kepada sesama. Ia tidak memiliki belaskasihan sama sekali kepada orang yang menderita. Salah satu buktinya adalah ketika Lazarus yang miskin datang ke rumahnya. Ia tidak memperlakukannya sebagai manusia, tetapi membiarkannya duduk di pintu dan memakan remah-remah yang jatuh dari mejanya, sedangkan anjing datang menjilati boroknya. Orang kaya itu cuek aja... dia berpikir, “peduli amat sama orang itu”. Ia tidak memandang Lazarus sebagai manusia yang harus diperlakukan secara manusiawi. Ia sama sekali tidak memiliki belaskasihan dan kepedulian kepada orang yang miskin, sakit, dan menderita.

Akibat dari perbuatannya, maka orang kaya ini menerima hukuman yang setimpal  dengan perbuatannya di akhirat. Kenyataan hidup di akhirat berbalik dengan apa yang ada di dunia saat ini. Orang kaya yang hidup dalam kemewahan tapi tidak peduli dengan sesama dan tidak memiliki belaskasih kepada sesama, di akhirat akan mengalami penderitaan selama-lamanya dan tidak akan menerima belaskasih juga dari siapapun. Sedangkan Lazarus yang miskin dan menderita selama hidup di dunia, akan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Allah di surga.

Kisah Lazarus dan orang kaya ini menjadi kesaksian bagi kita semua yang masih hidup di dunia ini. Tidak perlu Lazarus datang ke dunia lagi untuk mewartakan tentang akhirat. Kesaksian Musa dan para nabi sudah cukup bagi kita. Yesus sendiri mengatakan bahwa, jika seseorang tidak percaya kepada kesaksian Musa dan para nabi, maka ia juga tetap tidak akan percaya, sekalipun yang datang itu adalah seorang yang bangkit dari antara orang mati. Kita semua yang percaya kepada Yesus, harus percaya kepada kebangkitan orang mati dan kehidupan yang kekal. Yesus telah turun dari Surga dan kini telah bertahta dalam Kerajaan Surga. Pengajaran dan kesaksian hidup Yesus menjadi bukti nyata bagi kita, untuk percaya adanya kehidupan di akhirat, adanya penghakiman setelah kematian di dunia, adanya keselamatan abadi di surga, dan adanya kebinasaan kekal di neraka.  

Kesempatan hidup di dunia ini haruslah kita pergunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri menyongsong kehidupan di akhirat. Jangan sampai kita lupa dengan akhirat, seperti orang kaya dalam Bacaan Injil tadi. Maka dari itu, tidak cukup jika kita hanya menghindari kejahatan, tetapi tidak melakukan kebaikan bagi sesama. Kejahatan memang harus kita hindari, tetapi kita juga harus berbuat baik kepada sesama, terutama mereka yang miskin, sakit, dan menderita. Kita harus memiliki belas kasih dan kepedulian kepada mereka, serta mewujudkannya dalam tindakan nyata dengan menolong dan membantu mereka, baik secara moril maupun materiil. Dengan demikian, kelak kita akan disambut oleh mereka dalam kehidupan yang abadi di Surga.










Share:

Friday, 20 September 2019

PERSAHABATAN YANG SEJATI

Hari Minggu Biasa XXV: 
(22 September 2019)

P. Vinsensius, Pr.
  


Sahabat adalah harta yang paling berharga, bahkan melebihi harta yang sifatnya material belaka. Ketika kita mengalami kesusahan, kita pasti akan datang kepada sahabat kita, untuk curhat dan meminta pendapatnya serta masukkannya bagi kita dalam menghadapi masalah tersebut. Segala harta milik kita tidak berarti sama sekali, jika kita tidak memiliki sahabat. Sahabatlah yang dapat menolong kita, ketika kita menghadapi segala permasalahan hidup, dan bukan semata-mata harta dunaiwi. Sahabatlah satu-satunya yang dapat menolong kita, ketika harta duniawi tidak lagi dapat membantu kita dalam mengatasi permasalahan hidup.

Hal yang serupa terjadi dengan bendahara yang tidak jujur dalam Bacaan Injil tadi. Bendahara ini akan dipecat oleh tuannya kerena ia telah menghamburkan harta milik tuannya. Menghadapi permasalahan ini, bendahara ini pun berpikir, bukan  bagaimana caranya agar ia tidak dipecat, karena sudah jelas kesalahannya dan dia pasti akan dipecat, tetapi ia berpikir bagaimana cara supaya ada orang yang mau menampung dia di rumahnya ketika ia dipecat oleh tuannya. Artinya, ia mencari seorang sahabat yang bisa menolong dia dalam menghadapi permasalahan ini.

Karena pada dasarnya bendahara ini tidak jujur, maka solusi yang ia lakukan juga tidak jujur. Ia membuat surat hutang palsu bagi para pelanggannya, yaitu dengan mengurangi jumlah hutang mereka. Hutang yang awalnya 100 tempayan minyak dikuranginya menjadi 50 tempayan, dan seterusnya. Semua hutang pelanggan itu dikuranginya. Hal ini tentu saja membuat para pelanggan menjadi senang kepadanya, dan menganggap dia “baik”.  Mereka tidak tahu kalau semua ini hanyalah modus, agar mereka simpatik terhadap dia. Bendahara yang tidak jujur ini berusaha menjalin persahabatan dengan para pelanggannya dengan cara yang tidak jujur pula. Tujuannya hanya satu, yaitu supaya kelak kalau dia dipecat oleh tuannya, mereka mau menerima dia di rumahnya, dan memberikan pekerjaan baru kepadanya.

Perumpamaan yang diberikan Yesus ini sama sekali tidak bermaksud supaya kita meniru perbuatan curang dari bendahara yang tidak jujur ini. Tetapi kita dapat belajar dari kesalahan bendahara ini: betapa berharganya sebuah persahabatan. Persahabatan yang sejati tidak dapat dibeli dengan harta apapun. Bahkan ketika harta tidak dapat lagi menolong kita, sahabatlah satu-satunya orang yang dapat menolong dan membantu kita.

Pertanyaannya: “Bagaimana persahabatan yang sejati itu?” Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang tulus dan bukan karena modus, seperti bendahara yang tidak jujur ini. Seorang sahabat yang tulus tidak mencari keuntungan diri sendiri, tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi sahabatnya. Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang jujur. Seorang sahabat tidak menutup-nutupi kelemahan dan kesalahannya di depan sahabatnya atau berbohong demi kebaikannya sendiri, melainkan jujur dan terbuka untuk menceritakan segala kelemahan, kesalahan, dan permasalahannya, sehingga mereka dapat saling memahami dan membantu.

Persahabatan yang sejati inilah yang dapat menghantar kita ke dalam “kemah abadi”, yaitu Kerajaan Allah di surga. Maka, marilah kita mengikat persahabatan yang sejati dengan Tuhan dan sesama. Yesus telah menyebut kita sahabat, karena Ia telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang Ia dengar dari Bapa (bdk. Yoh. 15:15). Maka, kita juga harus menjadikan Yesus sebagai sahabat sejati dalam hidup kita. Mari kita datang kepada-Nya setiap hari di dalam doa, dan mendengarkan sabda-Nya, dengan setia membaca dan merenungkan Kitab Suci setiap hari. Melalui persahabatan yang sejati dengan Tuhan dan sesama, kita akan memperoleh keselamatan yang berasal dari Tuhan.





Share:

Friday, 13 September 2019

KESETIAAN TUHAN

Hari Minggu Biasa XXIV: 

(15 September 2019)

P. Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, Tuhan selalu setia kepada manusia. Hanya manusia saja yang selalu tidak setia kepada Tuhan. Kesetiaan Tuhan tampak dalam Bacaan Pertama dari Kitab Keluaran. Allah setia menolong umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Tetapi, apa balas dari mereka? Mereka malah mengkhianati Tuhan! Mereka membuat berhala untuk disembah! Baru saja mereka ditinggalkan oleh Musa - karena Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima Sepuluh Perintah Allah - mereka sudah melakukan dosa yang berat! Perbuatan dosa ini membuat Tuhan murka terhadap umat Israel, sehingga Tuhan mau membinasakan mereka semua. Namun, Musa sebagai utusan Allah, memohon pengampunan bagi umatnya. Karena kemurahan hati Allah, dan kerahiman-Nya, maka Ia mau mengampuni dosa umat Israel. Inilah bukti dari kesetiaan Tuhan kepada manusia, walaupun manusia selalu mengingkari janjinya terhadap Tuhan.

Kesetiaan Tuhan tampak nyata dalam diri Yesus Kristus. Dalam Bacaan Injil yang diambil dari Injil Lukas dikisahkan, bahwa Yesus dekat dengan orang-orang yang berdosa. Persahabatan Yesus dengan orang berdosa mempunyai satu tujuan yang luhur, yaitu supaya mereka bertobat. Namun, misi Yesus ini ternyata tidak disukai oleh kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka bersungut-sungut karena Yesus mau menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. Sesuatu yang tidak masuk akal bagi para pemuka agama Yahudi.

Dengan latar belakang situasi seperti ini, maka Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang gembala yang baik. Gembala yang baik itu mempunyai 100 ekor domba. Ketika 1 ekor itu pergi dan tersesat, maka ia akan pergi mencari yang hilang itu sampai ia menemukannya. Ada suatu kegembiraan yang besar, jika ia menemukan 1 ekor yang tersesat itu. Demikian pula dengan Tuhan Yang Maha Setia. Ia akan berusaha mencari umat-Nya yang hilang dan tersesat karena dosa. Ia akan mendekati mereka, makan bersama mereka, dan mewartakan Kabar Gembira Keselamatan Allah kepada mereka, supaya mereka bertobat. Jika orang berdosa itu bertobat, maka akan ada suatu kegembiraan yang besar di surga.

Saudara-saudari terkasih, pertanyaan yang patut kita renungkan hari ini adalah: “Apakah kita sudah setia kepada Tuhan?”  “Ataukah kita sering kali mengkhianati Tuhan dengan melakukan dosa?” Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengajarkan kita semua untuk tetap setia kepada Tuhan, sama seperti Tuhan yang tetap setia kepada kita. Walaupun kita pernah jatuh ke dalam dosa, jangan sampai dosa itu membuat kita menjadi tidak setia lagi kepada Tuhan. Mari kita bangkit lagi! Mari kita menyesali segala dosa yang pernah kita perbuat dan memohon ampun kepada Tuhan. Tuhan pasti akan mengampuni dosa kita, asalkan kita sungguh-sungguh bertobat dan ingin kembali kepada-Nya. 

Kesetiaan Tuhan menjadi teladan yang baik bagi kita untuk senantiasa setia kepada Tuhan dan sesama. Tuhan telah memberikan contoh kepada kita bagaimana bersikap setia, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan cobaan. Maka, marilah kita tetap setia kepada Tuhan, dan setia kepada janji yang kita ucapkan di hadapan Tuhan. Hanya dengan kesetiaan, maka kita akan menerima keselamatan yang dijanjikan Tuhan bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.  



P. Vinsensius, Pr.

Imam Diosesan Keuskupan Sanggau

berkarya di Paroki Katedral "Hati Kudus Yesus" Sanggau




Share:

Monday, 9 September 2019

what we can do "Gereja St.Paulus Ensibo"

tatakatolik.com - Saat membaca judul postingan ini tentu donk  kita sudah punya gambaran, bahwa hal ini mengajak kita untuk barangkali sejenak berpikir, apa yang bisa kita lakukan dan HARUS kita lakukan. Setelah beberapa kali ikut Tim UMDU jadi punya kesempatan untuk melihat kondisi Kapel di kampung-kampung. Ada yang sudah sangat layak, sehingga serasa adem ayem saat di dalam nya, namun ada pula yang membuat konsentrasi ibadah terbagi karena harus memikirkan kondisi "Kok begini ya?, atau kok begitu ya?".

Nah....!!!.
Sebelumnya penulis minta maaf kok bahasa redaksi nya jadi gini? gak formal banget?. yach.....!! karena saya sedang tidak ingin mengajak anda mengerutkan kening, cuma mau ajak LETAKIN JARI TELUNJUK DI DAGU, Sambil kedua mata ngelirik ke kanan atas (Kayak rada-rada juling gitu). Dan saya ingin mengajak kita semua untuk menjelajah kesebuah Kampung lewat guliran jari anda dengan tetap fokus di Hp atau gadget anda.

Ada yang belum pernah ke Kampung ENSIBO?

Gak perlu dijawab...!!!!, apalagi kalau pertanyaan nya di lempar sama "CINA" (Nama salah satu OMK Parsok dari wilayah Ensibo). di Kampung ini sudah berdiri cukup gagah sebuah kapel yang menurut tuturan dari salah satu narasumber yang bisa dipercaya di pakai oleh 4 RT untuk beribadah setiap minggunya.

Nah.......!!! trus kenapa EMANG?!

Tunggu dulu, yuk....!!! sambil liat-liat foto barangkali bisa membantu saya bercerita...!! dan membantu pemikiran anda yang udah mulai bosen baca.

Gambar 1 (Bangunan kapel Tampak Depan)
Nah.... yang barusan kita lihat adalah keadaan tampak paling depan gereja / Kapel Santo  Paulus Ensibo. Kern kan....?!!!!, haha......!!!, Emang Kern....!!!, tapi bukan itu masalahnya gaes....!!!, cie....!!!.

Yuk kita lanjut ke gambarberikutnya

Gambar 2 (Ban Bekas di Samping Kiri Kapel)
Nah.....!!! kalau kita sedikit melirik ke sebelah kiri, tepat nya persis di tepi jalan, apa yang bisa anda lihat?.. "BAN BEKAS?" yups.....!!! anda benar dan saya pastikan mata anda masih sangat normal. kalau begitu nanti saya ceritain apa maksud ban-ban bekas ini.

Kita lanjut melihat pemandangan lainnya.... Cie...."PEMANDANGAN"
(Gambar 3: silahkan bikin caption sendiri)

(Gambar 4 " itu sama dengan gambar 3)
Setelah melihat gambar 3 dan 4 apa yang anda pikir kan.....??? pasti ada yang menjawab (UNDER CONSTRUCTION), jawaban anda sangat tidak salah.... dan juga belum terlalu benar. Oke kita lanjut ke gambar berikutnya. yang penting gambar nya udah kita kasi Nomor.
(Gambar 5 : Foto keramik lantai)

Kalu yang diatas adalah gambar keadaan lantai. WEISH....!!! kern udah pake keramik....!!. coba di Zoom...!!! udah pernah di poles pake semen ya gaes...!!!.
(Gambar 6 : tumpukan material semen)

Saat melihat tumpukan material semen yang ada di dalam kapel sempat terpikir di benak saya "SEMEN nya SURPLUS ya". Eh......loe...!!! jangan sok mikir sama ama gua...!!. Karna pemikiran kita sama-sama salah kalau gitu. Kita lewatkan dahulu gambar 6, dan lanjut ke gambar berikurnya.

(Gambar 7 : Foto ke arah altar)
Saat melihat foto dalam gambar 7 ini, mari kita tinggalkan bahasa-bahasa gaul. Kali ini saya ingin mengajak anda-anda semua mulai berpikir. dari Gambar 1 sampai dengan gambar 7 ini.Saya ingin mengajak kita semua yang tentu kami sadari, kita punya persepsi yang berbeda-beda, kemampuan berpikir yang berbeda-beda, kemampuan ekonomi yang juga berbeda-beda.

Perhatikan Kembali Gambar 1
Lirikkan mata mu ke arah atap terasnya. Kita akan melihat ada bagian yang terkelupas dan sudah nampak usang sekali. Sehingga perlu untuk di rapikan dan sedikit di polesi cat 

Perhatikan Kembali Gambar 2
Salah seorang umat Katolik Ensibo berinisial NKO berupaya untuk mengumpulkan ban bekas, yang menurut rencananya akan di pakai sebagai media untuk menanam bunga. Nah barangkali ada di antara kita yang punya ide briliant mengenai bunga apa yang cocok di tanam disana, yang barangkali nantinya bunga tersebut bisa dijadikan rangkaian bunga hidup di altar saat ibadat sabda maupun saat misa. 

Perhatikan Kembali Gambar 3 dan 4
Digambar tersebut nampak sedang dalam pengerjaan dek yang baru dipoles dempul, dan kita juga akan melihat kondisi tembok yang nampak masih kasar yang tentunya diperlukan jamahan berupa polesan dempul dan cat.

Perhatikan Kembali Gambar 5
Dari gambar kita akan melihat kondisi keramik yang sudah retak, yang tentu bisa membahayakan, sebab tepi-tepinya bisa menjadi sebuah jeratan, karena akan bisa melukai kaki umat tatkala tidak menggunakan alas kaki menuju ke altar.

Perhatikan Kembali Gambar 6
Nah... kalau tadi tadi saya sempat bilang material semen nya Surplus ternyata tidak terlalu salah. dan juga jauh dari benar. Adapun perihal tumpukan material semen tersebut yakni beberapa sak semen yang sudah ada diantaranya membatu, karena belum sempat terpasangkan sesuai dengan rencana peruntukannya.

Perhatikan Kembali Gambar 7 
Nah... dibagian ini diperlukan orang yang berjiwa seni untuk bisa mengatur peruntukan warnanya sehingga bisa lebih menarik.

LANTAS APA YANG DAPAT KITA PERBUAT?
Sesungguhnya Material sudah ada tersedia, dan jikalaupun ada yang masih kurang pihak Kapel menyampaikan bahwa dana nya masih ada. Dan selama ini pembangunan nya dilakukan dengan gotong royong oleh beberapa orang saja. NAH..., Kita selaku kaum muda atau siapapun yang tergerak hati nya. YUK...... !!! KITA SATUKAN PIKIRAN, KITA ATUR JADWAL DAN KITA MULAI CORET-CORET RENCANA KERJA. Untuk Mengadakan BAKSOS di Gereja Katolik Santo Paulus Ensibo.

Sekedar buat menyegarkan kembali ingatan kita. OMK Parsok pernah buat ini.
 

 Ditulis Oleh : H.Tatah
Telp/SMS/WA  : 082150708795
Share:

Thursday, 5 September 2019

SYARAT MENJADI MURID YESUS

(Hari Minggu Biasa XXIII: 8 Agustus 2019)

Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, menjadi murid Yesus tidak cukup hanya dibaptis saja, tetapi kita juga perlu memenuhi syarat-syarat yang diberikan oleh Yesus agar dapat menjadi murid-Nya. Ada empat syarat yang diberikan Yesus, yaitu:

Pertama, Mencintai Yesus di atas segala-galanya. Cinta ini harus total dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun dan siapapun, bahkan keluarga sendiri. Makanya, Yesus menggunakan kata “membenci”, bukan berarti kita harus membenci keluarga kita, tetapi supaya kita mencintai Yesus di atas segala-galanya. Ketika kita mencintai Yesus secara total, maka ada resiko terjadinya pertentangan, baik dengan orang lain maupun keluarga. Maka, di situlah dituntut suatu pilihan dari diri kita: memilih Yesus atau yang lain? Mencintai Yesus atau yang lain? Kita hanya diberikan satu pilihan berhadapan dengan cinta kepada Yesus, karena kita tidak bisa mencintai Yesus sekaligus mencintai apa yang bertentangan dengan ajaran Yesus!

Kedua, Memanggul salib. Menjadi murid Yesus berarti harus siap menderita seperti Yesus. Seorang murid Yesus harus siap “memanggul salib kehidupannya” setiap hari. Jika ia tidak mau menderita demi Yesus, maka ia tidak layak menjadi murid Yesus. Penderitaan menjadi bagian dalam karya keselamatan Allah, karena tanpa penderitaan dan kematian, tidak ada kebangkitan. Tanpa penderitaan tidak ada keselamatan.

Ketiga, Mengikuti Yesus. Syarat ini sudah jelas! Bagaimana kita mau menjadi murid Yesus, kalau kita tidak mengikuti Yesus? Mengikuti Yesus berarti kita mau mentaati dan menuruti semua perintah dan ajaran Yesus. Seorang murid Yesus harus melakukan kehendak Allah, dan bukan kehendaknya sendiri.

Keempat, Melepaskan diri dari segala miliknya. Syarat yang terakhir ini tidak kalah beratnya. Seorang murid Yesus dituntut untuk melepaskan diri dari segala miliknya. Jika ia masih terikat dengan segala miliknya, maka ia tidak dapat menjadi murid Yesus. Keterikatan akan hal-hal duniawi membuat seseorang selalu tidak punya waktu buat Tuhan, karena sibuk dengan pekerjaannya dan hanya mengejar harta duniawi belaka, tanpa memikirkan keselamatan jiwanya.

Saudara-saudari terkasih, keempat syarat memang berat. Menjadi murid Yesus memang bukan sesuatu yang gampang. Yesus mengibaratkannya seperti seorang yang mau membangun menara yang tinggi dan seperti pasukan yang mau berperang, sehingga ia harus mempertimbangkan dulu matang-matang, apakah ia mampu menyelesaikan menara itu atau apakah ia bisa menang dalam perang tersebut?  Demikian pula dengan menjadi murid Yesus, kita perlu mempertimbangkan secara matang, apakah kita sungguh-sungguh ingin menjadi murid Yesus? Apakah kita ingin tetap menjadi murid Yesus? Atau kita lebih baik memilih mundur dan meninggalkan Yesus, karena tuntutan Yesus yang begitu berat ini? Semua keputusan ada di tangan kita, karena Yesus tidak pernah memaksa manusia untuk menjadi murid-Nya, tetapi Yesus memberikan kebebasan kepada manusia untuk dapat mengikuti-Nya dan mencintai-Nya secara total, dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan kepada Allah, agar kita dapat memilih apa yang benar dan berkenan kepada Allah, seperti Salomo. Kita harus sadar bahwa kita adalah makhluk yang fana dan hina. Kita tidak mampu memahami apa yang ada di bumi ini, apalagi segala sesuatu yang ada di surga. Namun, jika Allah mengutus Roh Kudus-Nya, maka kita akan diberikan kebijaksanaan yang menyelamatkan. Dengan bantuan rahmat Allah dan bimbingan Roh Kudus inilah kita bisa menjadi murid-murid Yesus yang sejati.


Pastor Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
Berkarya di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus” Sanggau

Share:

Friday, 30 August 2019

Disdukcapil melakukan pelayanan Jemput bola di Paroki Sosok



Paroki Sosok - Disdukcapil Kabupaten Sanggau melakukan kunjungan pelayanan Jemput Bola pembuatan Akta Kelahiran dan Akta Perkawinan di Paroki Kristus Raja Sosok, pelayanan tersebut bertujuan untuk peningkatan Pencatatan Akta Perkawinan di Kabupaten Sanggau tahun 2019-2020, dalam paparan nya Ibu Theodora Febrianty,SH yang merupakan kasi Perkawinan dan Perceraian menjelaskan dasar kegiatan tersebut adalah UU Nomor 1 Tahun 1974 Bab I Pasal 2  yang berbunyi : 
  1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
  2.  Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kegiatan tersebut sudah dilakukan dibeberapa Paroki diantaranya : Paroki Jangkang, Paroki Batang Tarang dan hari ini dilaksanakan di Paroki Kristus Raja Sosok.




Share:

Thursday, 29 August 2019

JADILAH RENDAH HATI


(Hari Minggu Biasa XXII: 1 September 2019)

Pastor Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari terkasih, kita perlu belajar dari padi. Semakin ia berisi semakin ia merunduk. Demikian pula sebagai manusia, semakin tinggi jabatan kita, dan semakin banyak ilmu kita, kita harus juga semakin rendah hati. Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Kerendahan hati menjadi tema utama yang patut kita renungkan pada hari ini.

Dalam bacaan pertama, Putra Sirakh mengingatkan kita untuk bersikap sopan dalam bekerja, dan juga bersikap rendah hati, serta bersikap bijaksana. Ketiga hal ini sangat penting dalam kehidupan kita. Di tengah kemajuan zaman yang menggerus budaya kita, sehingga banyak orang tidak lagi mengenal sopan santun. Berbagai sarana bejalar sudah tersedia dan mudah diakses di mana-mana, tetapi banyak orang yang malah menjadi kurang ajar! Inilah tantangan hidup kita di zaman modern ini. Inilah krisis lingkungan hidup yang kita alami saat ini. Kita harus tetap mempertahanan budaya sopan santun terhadap sesama dalam setiap perkataan, perbuatan, dan tingkah laku kita.

Hal kedua yang patut kita perhatikan juga ialah sikap rendah hati. Putra Sirakh mengatakan, bahwa orang yang merendahkan dirinya akan mendapat karunia di hadapan Tuhan. Demikian pula sebaliknya, orang yang sombong akan ditimpa kemalangan dan keburukan akan berurat berakar di dalam dirinya, sehingga apa pun yang ia hasilkan semuanya adalah keburukan dan kejahatan.

Sikap yang rendah hati juga ditegaskan oleh Yesus di dalam Bacaan Injil tadi. Yesus bersabda, “Siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Artinya, orang yang sombong tidak disukai oleh Tuhan. Di hadapan Tuhan ia pandang hina dan akan menerima tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga. Sedangkan orang yang rendah hati akan mendapat tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga, sebab Tuhan suka akan sikap yang rendah hati.

Di tengah arus modernisasi ini, kesombongan menjadi hal yang utama di dalam hidup manusia. Banyak orang yang sombong, karena jabatannya atau kekayaannya. Kesombongan itu juga membuat ia “lupa daratan”. Atau lebih tepatnya lupa akan Surga. Ia bergaul dengan orang-orang yang selevel dengan dia saja, dan mengabaikan orang-orang yang miskin, menderita dan tersingkir. Dengan demikian ia tidak akan memperoleh kebahagiaan yang sejati, abadi dan kekal. Maka, sabda Yesus pada hari ini menegur kita semua untuk memberikan perhatian kita juga kepada orang-orang yang miskin, malang, sakit, menderita dan tersingkir. Memang secara material, mereka tidak dapat membalas semua perhatian, bantuan, dan kebaikan yang kita berikan. Tetapi Tuhan sendiri yang akan membalasnya pada Hari Kebangkitan orang-orang benar. “Upahmu besar di Surga,” sabda Tuhan.

Pesan ketiga yang disampaikan Putra Sirakh adalah agar kita menjadi orang yang bijaksana. Maka, kita perlu memiliki hati yang arif dan telinga yang pandai. Ada kaitan yang erat antara hati dan telinga, sebab dengan telinga kita “mendengarkan” dan dengan hati kita “merenungkan” kebijaksanaan.

Saudara-saudari terkasih, memasuki Bulan Kitab Suci Nasional ini, marilah kita memiliki hati yang arif dan telinga yang pandai dalam mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Dari Kitab Suci-lah kita memperoleh nasihat-nasihat yang penting bagi kehidupan kita sehari-hari, agar kita bisa mewartakan Kabar Baik di tengah krisis lingkungan hidup. Hanya dengan membaca dan mendengarkan sabda Tuhan, serta merenungkannya di dalam hati dan melakukannya dalam perbuatan nyata, maka kita akan mendapatkan karunia dan berkat dari Tuhan. Maka, marilah kita isi hari-hari kita dengan membuka Kitab Suci, membacanya dengan penuh perhatian, dan merenungkannya di dalam hati. Itulah satu-satunya jalan agar kita dapat melaksanakan kehendak Tuhan di dalam hidup kita sehari-hari.

Selamat memasuki Bulan Kitab Suci Nasional 2019.



Pastor Vinsensius, Pr
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
Berkarya di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus” Sanggau

Share:

Saturday, 24 August 2019

RAKERDA 1 LP3KD SEKABUPATEN SANGGAU



Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) mengadakan kegiatan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pertama LP3KD Se-Kabupaten Sanggau, yang dilaksanakan pada tanggal 23-24 Agustus 2019, acara tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua LP3KD Provinsi Kalimantan Barat yakni bapak Drs.Ignasius Lyong,MM, hadir pula dalam acara tersebut wakil Bupati Sanggau Bapak Yohanes Ontot,M.Si yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum LP3KD Kabupaten Sanggau, serta beberapa pengurus LP3KD Kabupaten Sanggau yang juga menjadi nara sumber pemberi materi, yakni :
  1. Yakobus,SH,MH
  2. Daniel,S.Pd
  3. Susana Herpena,S.Sos
  4. Dr.Aloysius Mering

Pada hari pertama disampaikan 4 materi yang terbagi dalam 2 sesi yakni
  1. Eksistensi LP3KD
  2. Tugas dan fungsi pengurus LP3KD
  3. Penyampaian program kerja LP3KD Kabupaten Sanggau tahun 2019-2020
  4. Petunjuk teknis pesparani tingkat Nasional ke 2 di Kupang pada tahun 2020.
dan kegiatan diakhiri dengan rapat pleno untuk menentukan sistem seleksi peserta Perparani 2020 di NTT dengan kesepakatan bahwa peserta akan disaring dengan sistem ausisi.


Dihari berikutnya Sabtu, 24 Agustus 2019 acara diawali dengan misa syukur dan setelah itu dilanjutkan dengan pengukuhan kepengurusan LP3KD Tingkat Kecamatan, yang pengukuhannya di pimpin oleh Bapak Yohanes Onton,M.Si selaku Ketua Umum LP3KD Kabupaten Sanggau, usai itu diadakan pula acara ramah tamah dan sayonara.








Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive