BTemplates.com

3/Sports/post-per-tag

Thursday, 25 July 2019

BELAJAR DARI DOA “BAPA KAMI”


(Minggu Biasa XVII: 28 Juli 2019)


P. Vinsensius, Pr.




Kita pasti pernah mendengar tentang hukum ekonomi, yang berkaitan dengan managemen keuangan, yaitu prinsip dalam berbelanja: “Belilah apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan.” Kalau kita menuruti keinginan kita, banyak sekali yang kita inginkan, tetapi sebenarnya hanya sedikit yang kita butuhkan. Jika kita hanya menuruti keinginan kita, maka kebutuhan kita tidak akan tercukupi, dan bahkan terabaikan. Apa yang terpenting dan sangat kita butuhkan malah tidak terpenuhi, jika kita hanya mengikuti keinginan kita saja. Maka, kita harus bisa membedakan mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang hanya keinginan saja?

Demikian pula halnya dalam berdoa. Ada orang yang mengeluh, “Doa saya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan!” Pertanyaannya: “Apakah yang ia doakan itu adalah sungguh-sungguh apa yang ia butuhkan? Atau hanya sekedar keinginannya saja, yang sebenarnya tidak ia butuhkan?”

Melalui Injil hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita apa yang seharusnya kita doakan? Doa yang paling sempurna adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami menjadi contoh bagi setiap doa pribadi yang kita panjatkan kepada Tuhan. Dalam Doa Bapa Kami terkandung 5 permohonan, yaitu:

(1)          Dimuliakanlah nama-Mu
Ini merupakan suatu permohonan yang sesuai dengan perintah Allah: “Jangan menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat!” Maka, kita memohon agar nama Tuhan selalu dimuliakan melalui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kita sehari-hari.

(2)          Datanglah Kerajaan-Mu
Kita memohon agar Kerajaan Allah hadir di dalam kehidupan kita, yaitu kerajaan cinta kasih, seperti yang diwartakan oleh Tuhan Yesus. Di mana ada cinta kasih, hadirlah Tuhan.
Jika Kerajaan Allah telah hadir dalam hidup kita, maka kita akan melakukan Kehendak Allah, dan bukan kehendak kita sendiri. Kita bukan saja memohon “Jadilah kehendak-Mu”, tetapi kita sendiri akan melakukan Kehendak Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

(3)          Berilah kami rezeki pada hari ini
Rezeki di sini memiliki arti yang luas, bukan saja yang bersifat jasmani tetapi juga rohani. Dan bahkan jika kita mengucapkan Doa ini pada waktu Misa sebenarnya yang kita mohonkan adalah rezeki surgawi, yang sebentar lagi akan kita terima, yaitu Tubuh Kristus. Maka, dengan memohon rezeki, kita harus memohon bukan saja hal-hal yang bersifat jasmani, tetapi juga rohani, yaitu: iman, harapan, dan kasih, agar kita semakin dekat dengan Tuhan dan mengasihi sesama.

(4)          Ampunilah dosa kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dengan permohonan ini kita diajak untuk meneruskan rahmat pengampunan yang telah kita terima dari Allah, yaitu dengan mengampuni sesama. Di satu sisi kita memohon ampun kepada Tuhan, dan sekaligus kita memohon agar kita bisa  mengampuni sesama, seperti Allah telah mengampuni kita.

(5)          Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Kita memohon kepada Allah, agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan, yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa dan kejahatan. Dengan Doa ini, kita memohon Perlindungan dari Allah.

Saudara-saudari terkasih, belajar dari Doa Bapa Kami, maka marilah kita memohon kepada Tuhan: Apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan, sebab apa yang kita inginkan belum tentu berguna bagi diri kita dan keselamatan jiwa kita. Tuhan hanya akan mengabulkan doa kita, jika yang kita mohonkan adalah apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan. Dan dalam hal ini, Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dalam kehidupan kita setiap hari, dan apa yang berguna bagi keselamatan jiwa kita.

Maka dari itu, belajarlah dari Doa Bapa Kami. Kelima permohonan dalam Doa Bapa Kami inilah yang sebenarnya sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita setiap hari. Kita membutuhkan keselamatan dari Allah, maka kita memohon, agar kita dapat memuliakan nama Allah, menghadirkan Kerajaan-Nya, dan melakukan kehendak-Nya. Kita juga membutuhkan rezeki, pengampunan, dan perlindungan dari Tuhan, maka itu juga menjadi isi dari permohonan kita.  Marilah kita berdoa  seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Doa kita harus sejalan dengan semangat Doa Bapa kami, sebab itulah yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Pastor Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Keuskupan Sanggau
bertugas di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus”, Sanggau



Sumber-sumber Bacaan:

Berthold Anton Pareira, O.Carm, Homili Tahun C: Masa Khusus dan Masa Biasa, Dioma, Malang 2003.


Martin Harun, OFM, Lukas: Injil Kaum Marjinal, Kanisius, Yogyakarta 2019. 








Share:

Friday, 19 July 2019

MENDENGARKAN YESUS

(Hari Minggu Biasa XVI: 21 Juli 2019)


Pastor Vinsensius, Pr




Ketika ada tamu datang ke rumah kita sudah sewajarnya kita menerima tamu itu dengan ramah. Menghidangkan makanan dan minuman kepadanya, serta menemaninya berbicara. Ini menjadi hal yang biasa, dan terjadi di mana-mana. Tidak perlu dipermasalahkan lagi. Namun, pada kisah Injil hari ini. Terjadi hal yang biasa dan lumrah bisa juga menjadi masalah. Marta marah kepada Maria, saudarinya, karena Maria membiarkan dia melayani seorang diri, sedangkan Maria hanya enak-enak saja duduk mendengarkan Yesus berbicara. Pertanyaannya, apa maksud dari kisah Injil hari ini?

Dalam Injil tadi dikisahkan: kunjungan Yesus ke rumah Marta. Pada saat itu, Marta sibuk melayani tamu. Mungkin memasak air untuk membuat minuman, atau memasak makanan untuk mereka, atau pekerjaan rumah lainnya. Sedangkan, Maria, saudarinya, duduk di dekat kaki Yesus, dan mendengarkan pengajaran-Nya. Melihat hal itu, Marta menjadi marah. Marta bukan hanya marah kepada Maria yang tidak mau membantu dia, tetapi juga kepada Yesus, yang membiarkan Maria hanya duduk mendengarkan Yesus dan tidak mau membantu saudarinya yang sibuk bekerja. Maka, Marta meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantu dia. Namun, apa yang terjadi? Yesus malah menegur Marta, karena ia terlalu sibuk dengan banyak perkara, pada hal hanya satu saja yang perlu. Yesus malah memuji Maria, karena ia telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari dia.

Kunjungan Yesus bukanlah kunjungan biasa, seperti kunjungan tamu-tamu lainnya. Kunjungan Yesus bukanlah kunjungan yang semata-mata bersifat manusiawi dan duniawi belaka. Kedatangan Yesus membawa warta surgawi, yaitu Keselamatan yang berasal dari Allah. Dengan dasar ini, kita bisa memahami kisah Maria dan Marta. Mengapa Yesus malah membela Maria, dan bukan Marta. Marta terlalu sibuk dengan urusan duniawi, sampai mengabaikan kehadiran Tuhan. Yesus sudah datang ke rumahnya, tetapi ia masih saja sibuk bekerja dan tidak mau duduk tenang untuk mendengarkan Yesus. Sedangkan, Maria, saudarinya itu telah memilih bagian yang terbaik, yaitu duduk di dekat kaki Yesus, agar ia dapat mendengarkan semua pengajaran yang diberikan oleh Yesus. Ia tidak mau disibukkan oleh urusan duniawi, sebab ia tidak mau kehilangan kesempatan istimewa untuk mendengarkan Yesus, yang membawa warta surgawi, yang sangat berguna bagi keselamatan jiwanya.

Injil hari ini mau menekankan aspek cinta kepada Tuhan. Minggu lalu kita telah diajarkan untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, melalui tokoh orang Samaria yang baik hati. Hari ini kita juga perlu memahami secara mendalam, bagaimana caranya agar kita bisa mengasihi Allah dengan segenap jiwa, raga, kekuatan, hati dan budi kita. Caranya adalah dengan duduk diam dan mendengarkan sabda Tuhan, serta berdoa kepada-Nya.

Dengan menekankan aspek hidup rohani, bukan berarti yang jasmani itu tidak penting dan tidak berguna. Namun, kita perlu memahami, bahwa segala sesuatu ada waktunya. Ada waktunya untuk bekerja dan melayani sesama, dan ada waktunya juga untuk duduk tenang mendengarkan sabda Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Dalam Injil tadi, Maria telah memberikan teladan yang tepat bagaimana kita perlu mengatur sikap yang tepat di waktu yang tepat. Saatnya bekerja, ya bekerja! Saatnya melayani sesama, ya layanilah sesama! Saatnya berdoa, ya berdoalah! Segala sesuatu ada waktunya. Dan jika kita mengaturnya dengan baik dan tepat, maka semuanya akan indah pada waktunya.

 Marilah kita sediakan waktu kita untuk mencintai Tuhan dengan membaca, mendengarkan, dan merenungkan Sabda Tuhan, serta berdoa kepada-Nya. Kitab Suci dan Doa menjadi sarana bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Yesus. Hanya dengan mencintai Tuhan, maka kita bisa mencintai sesama dengan tepat, sesuai dengan ajaran Tuhan. Cinta kepada Tuhan memberikan kekuatan bagi kita untuk mencintai sesama seperti diri kita sendiri.

Pastor Vinsensius, Pr.
Imam Diosesan Sanggau
bertugas di Paroki Katedral “Hati Kudus Yesus”, Sanggau


Sumber-sumber Bacaan:
Berthold Anton Pareira, O.Carm, Homili Tahun C: Masa Khusus dan Masa Biasa, Dioma, Malang 2003.
Martin Harun, OFM, Lukas: Injil Kaum Marjinal, Kanisius, Yogyakarta 2019. 
Share:

Thursday, 11 July 2019

PERBUATAN KASIH


(Hari Minggu Biasa XV)


Oleh: P. Vinsensius, Pr.





Saudara-saudari terkasih, Cinta Kasih itu adalah sesuatu yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Sebenarnya kita tahu apa saja yang termasuk dalam perbuatan kasih. Namun, seringkali kita menunda-nunda untuk melaksanakan perbuatan kasih tersebut.

Hal serupa juga dialami oleh seorang ahli Taurat yang datang untuk mencobai Yesus. Ia bertanya kepada Yesus, bagaimana caranya supaya ia dapat memperoleh hidup yang kekal? Ini merupakan pertanyaan yang sangat tinggi, karena berkaitan dengan keselamatan kekal dan kehidupan yang akan datang. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Yesus tidak langsung menjawab. Namun Yesus berbalik bertanya kepadanya tentang inti dari perintah Hukum Taurat, sebab orang itu adalah seorang ahli Taurat. Dengan sangat baik, ia menjawab bahwa, kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Maka, Yesus langsung memberikan penegasan dan perutusan: “Lakukanlah demikian, maka engkau akan hidup!” Yesus meminta orang itu, supaya ia tidak hanya tahu menyebut hukum cinta kasih saja, tetapi juga harus bisa melakukannya dalam kehidupan yang nyata.

Tetapi, rupanya jawaban Yesus ini belum juga memuaskan hati ahli Taurat ini. Ia kembali bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?” Bagi orang Israel, sesama manusia itu hanya mencakup orang-orang yang sebangsa dengan mereka, sedangkan orang lain yang bukan orang Israel itu tidak termasuk sesama. Lingkup yang terbatas inilah yang ingin dibongkar oleh Yesus dengan perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati.

Dengan perumpamaan ini, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa sesama manusia itu adalah semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, tanpa memandang suku, agama, ras, dan bangsa. Semua orang adalah sesamaku manusia. Orang Samaria dalam perumpamaan tadi telah menunjukkan perbuatan kasih yang nyata, dengan menolong orang yang terluka, karena menjadi korban perampokan. Ia menolong orang itu, dan membawanya ke penginapan, serta membayar seluruh biaya pengobatannya. Memang cinta kasih itu butuh pengorbanan. Dan sesungguhnya itulah cinta kasih yang nyata, jika terwujud dalam perbuatan.

Di akhir percakapan, Yesus bertanya kembali kepada ahli Taurat itu, dari perumpamaan tadi siapakah sesamaku manusia? Ahli Taurat itu menjawab, orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya. Untuk kedua kalinya, Yesus memberikan penegasan dan perutusan: “Pergilah dan perbuatlah demikian!

Saudara-saudari terkasih, kita semua juga diutus oleh Yesus untuk menjadi pelaksana cinta kasih. Hukum yang paling utama dan pertama dalam agama kita adalah Hukum Cinta Kasih. Maka, marilah kita mewujudnyatakan cinta kasih itu dalam perbuatan kita sehari-hari kepada semua orang yang kita jumpai, tanpa memandang apa latarbelakang suku, agama, ras, bahasa, dan bangsa mereka. Semua orang adalah sesama bagi kita. Kita harus mengasihi mereka, seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Oleh karena itu, lakukanlah perbuatan kasih, maka kita akan memperoleh hidup yang kekal, yang telah disediakan Tuhan bagi kita semua yang percaya kepada-Nya.

Share:

Saturday, 29 June 2019

HUT WKRI KE 95 DPC PAROKI KRISTUS RAJA SOSOK

 
Foto Bersama Usai Misa

tatakatolik.com-Paroki Sosok-Bertepatan dengan Minggu Biasa ke XIII diparoki Kristus Raja Sosok diadakan misa dan perayaan HUT WKRI KE 95, acara di awali dengan tarian pembukaan oleh ibu-ibu WKRI, dan misa di pimpin oleh Pastor John Eddi, Pr. Misa terasa lebih meriah karena di hadiri oleh ratusan ibu-ibu WKRI dari tiga DPC yakni WKRI DPC Kristus Raja Sosok, WKRI DPC Salib Suci Ngabang, dan WKRI DPC Kuala Dua dengan baju kebesaran ya.
Djau Min Sen,A.Md (Anggota DPRD Kab.Sanggau)

Drs.Anselmus (Camat Tayan Hulu)
 Usai misa diadakan acara ramah tamah di aula Paroki. Dalam kesempatan tersebut hadir Camat Tayan Hulu Bapak Drs.Anselmus, perwakilan anggota DPRD Kabupaten Sanggau Dapil 3 Bapak Djau Min Sen, A. Md. Dalam sambutannya Bapak yang akrab di sapa dengan nama Amin tersebut mengapresiasi dan mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anggota WKRI terutama kegiatan-kegiatan sosial seperti kegiatan baksos dibeberapa stasi dan donor darah. Tidak ketinggalan pula Camat Tayan Hulu dengan penuh semangat menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada WKRI dan beliau menyampaikan pula kekhawatiran ya melihat situasi negara usai pemilu, sempat terbesit dalam benak beliau "masih akan adakah NKRI". Namun kekhawatiran ini akhir   terhawab bahwa NKRI tetap harga mati, yang terbingkai dalam Kebhinekaan.
Pastor John Eddi,Pr (Pastor Kepala Paroki Kristus Raja Sosok)

Bersinergi dengan apa yang di sampaikan oleh Camat Tayan Hulu Pastor John Eddi,Pr yang juga merupakan pastor Kepala Paroki Kristus Raja Sosok menuturkan umur boleh tua namun semangat tetap membara, dan hendaknya dengan semakin bertambahnya usia kita mampu menunjukan kualitas kita dengan mampu berkiprah secara real dalam kehidupan masyarakat dan mengereja.
Sesi Pembagian hadiah
Ketua WKRI DPC Salib Suci Ngabang
Share:

Friday, 28 June 2019

MENGIKUTI JEJAK YESUS


(Minggu Biasa XIII: 30 Juni 2019)
Oleh: P. Vinsensius, Pr.






Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini menampilkan dua tipe orang yang mau mengikuti Yesus: Pertama, orang yang berinisiatif untuk mengikuti Yesus. Ketika bertemu dengan Yesus, ia berkata: “Aku mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Berhadapan dengan orang ini, Yesus ingin menegaskan bahwa, panggilan untuk mengikuti Dia bukan semata-mata inisiatif pribadi atau manusiawi, tetapi pertama-tama adalah inisiatif dari Allah sendiri, yang memanggil manusia untuk Mengikuti jejak Yesus dan mencapai Keselamatan yang abadi. Karena inisiatif untuk mengikuti Yesus berasal dari Allah, dan bukan dari manusia, maka syarat pokok untuk mengikuti Yesus pun harus berasal dari Allah sendiri, dan menurut ukuran Allah. Syarat itu disampaikan oleh Yesus dengan bahasa simbolis: “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Putra Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dengan perkataan ini, Yesus ingin mengatakan, bahwa mengikuti Dia, berarti harus siap untuk menderita bersama dengan Dia, harus siap untuk ditolak oleh dunia, dan berani meninggalkan kemapanan yang sifatnya duniawi belaka.

Hal ini telah terbukti sesaat sebelum Yesus mengatakan syarat ini. Yesus dan para murid telah ditolak oleh orang-orang Samaria yang bermusuhan dengan orang Yerusalem. Mendapat penolakan seperti ini, para murid menjadi emosi, dan memohon kepada Yesus agar mereka dibinasakan! Namun, Yesus tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Yesus tetap konsisten dengan ajaran utamanya, yaitu Cinta Kasih. Bahkan kepada para musuh pun kita harus tetap mengutamakan cinta kasih di atas segalanya. Yesus pernah bersabda:  “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu, dan berbuat baiklah kepada mereka...” (Luk. 6:35).

Kedua, orang yang selalu tawar-menawar dalam mengikuti Yesus. Dalam Injil tadi ditampilkan orang kedua dan ketiga yang masih belum siap untuk mengikuti Yesus, karena masih terikat dengan urusan keluarganya. Maka, dengan perkataan yang keras ini Yesus ingin menegaskan bahwa, Panggilan Allah itu harus diutamakan di atas kepentingan diri sendiri dan kepentingan duniawi belaka. Mengikuti Yesus itu seperti seorang yang siap untuk membajak sawah, tidak boleh lagi toleh kiri dan toleh kanan, supaya bisa fokus dan mendapatkan hasil yang baik saat membajak. Maka, mengikuti Yesus berarti siap untuk mengarahkan hati hanya kepada Yesus, fokus kita hanya kepada Yesus, dan bukan kepada yang lain.

Saudara-saudari terkasih, kita semua sudah menjadi pengikut Yesus sejak kita dibaptis. Tetapi Mengikuti Jejak Yesus adalah suatu proses, yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Ada tiga point utama yang dapat menjadi bahan permenungan kita dalam perjuangan kita untuk mengikuti jejak Yesus: Pertama, kita harus menyadari dengan sungguh bahwa panggilan kita menjadi murid-murid Kristus berasal dari Allah sendiri, dan bukan berasal dari manusia atau keinginan pribadi kita sendiri. Walaupun dalam pengalaman nyata, kita menjadi Katolik karena orang lain atau keluarga, tetapi sesungguhnya panggilan itu berasal dari Allah sendiri. Allah mempergunakan orang lain untuk memanggil kita untuk menjadi Pengikut Kristus, seperti yang dialami oleh Elisa dalam Bacaan Pertama tadi. Elisa dipanggil oleh Allah untuk menjadi Nabi melalui Elia.

Kedua, Mengikut Jejak Yesus berarti kita harus siap untuk menderita bersama dengan Yesus, harus siap untuk ditolak oleh dunia, dan berani meninggalkan kemapanan duniawi. Inilah konsekuensi dari Mengikuti jejak Yesus. Jalan yang ditempuh Yesus adalah Jalan Salib. Ia mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, dimana tempat Ia akan disalibkan dan bangkit serta naik ke surga. Maka, kita yang ingin sungguh-sungguh mengikuti Jejak Yesus berarti harus siap untuk memikul salib kehidupan kita masing-masing. Dengan setia memikul salib kita masing-masing, maka kelak kita juga akan bersama dengan Yesus menikmati kebahagiaan abadi dalam Kerajaan Surga.

Ketiga, Komitmen untuk mengikuti Yesus tidak bisa ditawar-menawar. Jika Ya katakan Ya! Jika Tidak katakan Tidak! Yesus menuntut keseriusan kita dalam mengikuti Dia. Kita harus mengutamakan Yesus di atas segala-galanya. Jika kita masih toleh kiri-kanan dan mencari pertolongan dari roh-roh lain yang bukan Roh Kudus, dan mengabaikan Yesus, maka kita tidak layak bagi Kerajaan Allah. Seorang murid Yesus yang sejati akan selalu mengutamakan Kerajaan Allah di atas segala urusan pribadi dan kepentingannya, seperti yang pernah Yesus sabdakan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:33). Yesus harus menjadi yang nomor satu dalam hidup kita, supaya kita layak untuk menjadi murid-Nya yang sejati dan kelak berbahagia bersama Dia dalam Kerajaan Allah.

Share:

Thursday, 27 June 2019

HATI SEORANG GEMBALA YANG BAIK


(Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus: 28 Juni 2019)
Oleh: P. Vinsensius, Pr.




Saudara-saudari yang terkasih, melalui Nabi Yehezkiel Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik. Gembala yang baik akan memperhatikan domba-domba-Nya. Ia memiliki Hati bagi domba-domba-Nya, dan mencurahkan seluruh perhatian-Nya kepada domba-domba-Nya. Perhatian dari seorang Gembala yang baik tampak dalam sikap-Nya kepada domba-domba-Nya. Allah bersabda, “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, sedang yang gemuk dan kuat akan Kulindungi.” Inilah perhatian yang luar biasa dari seorang gembala yang baik. Inilah Hati seorang Gembala yang baik.

Sama seperti Yehezkiel, Tuhan Yesus juga memberikan perumpamaan tentang seorang Gembala yang baik. Kebaikan hati Allah diumpamakan seperti kebaikan hati seorang gembala, yang rela mencari seekor dombanya yang hilang. Ia rela meninggalkan 99 ekor yang tidak tersesat, untuk mencari satu ekor dombanya yang hilang. Gembala yang baik mempunyai “rasa memiliki”, sehingga ia tidak ingin ada satu ekor pun dari domba-dombanya yang hilang. Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Dan ketika gembala itu menemukan seekor dombanya yang hilang itu, ia langsung bersukacita dan bergembira, dan bahkan ia mengajak para sahabatnya untuk bersukacita bersama dengan dia.

Saudara-saudari yang terkasih, Pertanyaan yang patut kita renungkan pada hari ini, “Apakah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dan Nabi Yehezkiel melalui perumpamaan tentang Gembala yang baik?” Sabda Allah yang disampaikan oleh Nabi Yehezkiel sebenarnya adalah suatu nubuat tentang kedatangan Sang Mesias, yaitu Tuhan Yesus sendiri, Sang Gembala yang baik. Jika Yehezkiel bernubuat tentang kedatangan Yesus sebagai seorang Gembala yang baik, maka Sabda yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah pewahyuan akan diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik. Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada manusia sebagai seorang Gembala yang baik. Dan hal itu sungguh terbukti melalui kedekatan-Nya dengan orang-orang yang berdosa. Tuhan Yesus mendekati orang-orang berdosa supaya mereka bertobat. Hati seorang Gembala yang baik tidak mau membiarkan domba-dombanya tersesat dan hilang, karena kejahatan dan dosa. Demikian juga Hati Yesus Yang Mahakudus selalu mengundang manusia untuk bertobat dan kembali kepada Allah, sebab akan ada sukacita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

Share:

Friday, 21 June 2019

HIDUP YANG EKARISTIS

(Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus: Minggu, 23 Juni 2019)
Oleh: P. Vinsensius, Pr. 

Bacaan Kitab Suci klik di bawah ini: [Bacaan I][Bacaan II][Bacaan Injil]



Saudara-saudari terkasih, setiap kali kita ikut Misa kita selalu menerima Komuni Kudus. Tetapi, sudahkah kita menemukan hubungan antara Komuni dan kehidupan ini? Apa kaitannya Perayaan Ekaristi dengan hidup yang ekaristis? Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kaitan yang erat antara Komuni Kudus dan kehidupan kita sehari-hari.

Persembahan roti dan anggur dari Melkisedek menjadi pra-lambang Ekaristi yang diadakan oleh Yesus. Dalam Bacaan Pertama kita telah mendengarkan, bahwa Melkisedek, raja dan imam dari Yerusalem mempersembahkan kurban roti dan anggur kepada Allah, sebagai ungkapan syukur, karena Allah telah memberikan kemenangan kepada Abraham dalam peperangan untuk membebaskan keponakannya, Lot beserta keluarganya dari tawanan musuh. Menurut Melkisedek, kemenangan itu adalah anugerah dari Allah, bukan hanya semata-mata usaha dari manusia. Maka, sebagai imam Melkisedek mempersembahkan kurban syukur dan memberkati Abraham. Lalu Abraham pun memberikan harta miliknya kepada Melkisedek sebagai persembahan syukur kepada Allah, yang telah menganugerahkan kemenangan kepada bangsanya.

Oleh karena kurban persembahan roti dan anggur yang dipersembahkan oleh Melkisedek adalah pra-lambang dari Ekaristi, maka kepenuhan kurban syukur itu adalah pada pengurbanan diri Yesus di atas kayu salib, yang dihadirkan kembali setiap kali kita merayakan Perayaan Ekaristi. Tuhan sudah mengurbankan diri-Nya, demi keselamatan kita. Maka kita patut berterima kasih kepada Allah. Salah satu wujud dari terima kasih kita kepada Allah adalah melalui persembahan yang kita berikan kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Abraham di hadapan Melkisedek. Persembahan yang kita berikan kepada Allah lewat kolekte atau derma haruslah merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah, karena Allah telah lebih dahulu memberikan berbagai anugerah bagi kehidupan kita. Motivasi kita dalam memberikan persembahan jangan dengan modus, tapi harus dengan tulus, dan dengan penuh rasa syukur.

Persembahan yang tulus dan dengan penuh rasa syukur inilah yang dikehendaki oleh Tuhan. Dalam Bacaan Injil tadi, Tuhan Yesus berpesan kepada para murid: “Kamu harus memberi mereka makan”. Pesan ini menjadi tugas kita semua untuk peduli dengan sesama. Ekaristi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan telah mengurbankan hidup-Nya bagi kita, agar kita dapat hidup. Maka, kita juga harus mengurbankan hidup kita bagi sesama, dengan mengembangkan sikap peduli kepada sesama, rela berkorban demi sesama, dan murah hati untuk membantu sesama yang berkekurangan. Apa pun yang ada pada diri kita, walaupun hanya kecil dan sedikit, seperti lima roti dan dua ikan, jika kita persembahkan kepada Tuhan demi pelayanan kepada sesama, maka Tuhan akan mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat berarti dan berguna bagi sesama.

Tubuh Kristus hadir dalam Hosti suci yang diberkati, dipecah-pecahkan, dan dibagi-bagikan kepada orang banyak. Maka, dengan menerima Komuni Suci berarti pula kita mau diberkati oleh Tuhan, berani dipecah-pecahkan dengan berbagai masalah dan cobaan, dan berani membagikan apa yang kita miliki demi kepentingan dan kebaikan bersama. Kristus hadir secara nyata di dalam Hosti Kudus, dan Ia juga mau hadir dalam diri kita, agar kita dapat menghadirkan Dia kepada sesama. Maka, untuk itulah kita menerima Komuni Kudus, agar Kristus dapat hadir di dalam hati dan diri kita masing-masing, sehingga dengan demikian kita juga bisa menghadikan Yesus bagi sesama melalui pelayanan hidup kita sehari-hari. Dengan ini Misa dan kehidupan nyata tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dari meja perjamuan Tuhan kita menerima rahmat dan kekuatan serta berkat dari Tuhan untuk melayani sesama kita dengan segala tantangannya. Dan pada meja perjamuan yang sama, kita mempersembahkan kepada Tuhan, apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan.

Saudara-saudari terkasih, pada Perayaan Tubuh dan Darah Kristus hari ini kita semua diajak untuk mengamalkan hidup yang ekaristis. Hidup yang ekaristis adalah hidup yang selalu dipenuhi rasa syukur (sesuai arti katanya, eucharistia: syukur). Kita bersyukur karena kita diberkati oleh Tuhan melalui perayaan-perayaan suci. Kita bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan segala yang kita butuhkan dalam kehidupan ini. Maka, ungkapan syukur itu harus kita wujudnyatakan melalui amal baik kita kepada sesama dengan semangat berbagi, dan melalui persembahan yang kita berikan kepada Tuhan.




Share:

Saturday, 15 June 2019

MISTERI TRITUNGGAL MAHAKUDUS


(Hari Raya Tritunggal Mahakudus: 16 Juli 2019)
Oleh: P. Vinsensius, Pr. 




Saudara-saudari terkasih, seringkali sebagai orang Katolik kita dituduh menyembah tiga Allah. Dengan begitu, seakan-akan ajaran Katolik bertentangan dengan Pancasila, yang dalam sila pertamanya mengakui “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apakah benar demikian? Jika tidak, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan iman kita akan Tritunggal Mahakudus, yang sering kita sebut dalam setiap doa kita: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus? Perayaan Tritunggal Mahakudus pada hari ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk merenungkan sejenak Misteri Tritunggal Mahakudus dalam ajaran Gereja Katolik dan aplikasinya bagi kehidupan iman kita.

Dalam Katekismus Gereja Katolik, No. 261 dikatakan: “Misteri Tritunggal Mahakudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Hanya Allah dapat memberitahukan misteri itu kepada kita, dengan mewahyukan Diri sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Maka, bukan masalah yang sepele jika kita berbicara tentang Tritunggal. Tritunggal adalah sentral dari iman dan kehidupan kita. Ajaran ini bukan berasal dari manusia, tetapi Allah sendiri yang memberitahukan Misteri Tritunggal ini kepada kita. Allah sendiri yang menyingkapkan diri-Nya sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik, No. 266 menjelaskan tentang Misteri Tritunggal Mahakudus, “Iman Katolik berarti bahwa kita menghormati Allah yang Esa dan Tritunggal dalam keesaan, dengan tidak mencampuradukan Pribadi-Pribadi dan juga tidak memisahkan substansi-Nya: Karena Pribadi Bapa itu khas, Pribadi Putra itu khas, Pribadi Roh Kudus itu khas; tetapi Bapa, Putra, dan Roh Kudus memiliki ke-Allah-an yang Esa, kemuliaan yang sama, keagungan abadi yang sama.” Dari kutipan ini, jelas bahwa kita sebagai orang Katolik menyembah satu Allah, dan bukan tiga. Allah kita adalah Allah yang Esa dan Tritunggal. Keesaan Allah terletak  pada kodrat-Nya (subtansi-Nya). Sedangkan Tritunggal itu berkaitan dengan Pribadi-Pribadi Allah. Allah yang Esa hadir dalam tiga Pribadi, yaitu: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi ilahi ini memiliki kekhasan-Nya masing-masing. Tetapi Ketiga Pribadi ilahi ini sama ke-Allah-an-Nya, sama kemuliaan-Nya, dan sama keagungan-Nya. Artinya, Ketiga Pribadi ilahi ini adalah sama-sama Allah yang Esa. Dari ajaran Gereja ini jelaslah, bahwa kita menyembah Allah yang Esa. Ajaran kita tidak bertentangan dengan Pancasila, sebab kita menyembah Tuhan yang Maha Esa. Namun, berbeda dengan ajaran agama lain, ajaran kita mengakui, bahwa Allah yang Maha Esa itu hadir dalam diri Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Allah kita adalah Allah yang Esa dan Tritunggal Mahakudus.

Sekarang mari kita merenungkan peran Allah Tritunggal dalam kehidupan iman kita. Katekismus Gereja Katolik, No. 265 mengajarkan: “Oleh rahmat Pembaptisan “atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus” kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus, sekarang di dunia dalam kegelapan iman dan sesudah kematian dalam cahaya abadi.” Sejak dibaptis dan menjadi orang Katolik kita telah mengambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal Mahakudus. Dalam setiap doa kita, kita membuka dan menutupnya dengan seruan kepada Tritunggal Mahakudus: “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Dan bahkan seluruh hidup kita merupakan karya dari Allah Tritunggal Mahakudus. Maka, tugas kita selanjutnya ialah meneladani kasih dari Allah Tritunggal Mahakudus. Kita harus mengikuti teladan kesatuan kasih dari Allah Tritunggal Mahakudus. Kasih Allah Tritunggal adalah kasih  yang total, utuh, dan abadi. Ketiga Pribadi Allah ini saling mengasihi tanpa batas. Maka, kita pun yang mengimani Allah Tritunggal Mahakudus harus saling mengasihi dan mengutamakan ajaran Cinta Kasih, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita.




















Share:

Friday, 7 June 2019

ROH KUDUS, SANG PENOLONG SEJATI


(Hari Raya Pentakosta: 9 Juni 2019)
[Bacaan I: Kis. 2:1-11; Bacaan Injil: Yoh. 14:15-16.23b-26]
Oleh: Pastor Vinsensius, Pr.







Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita merayakan Peristiwa turunnya Roh Kudus atas para Rasul. Kedatangan Roh Kudus telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus, sebagaimana telah kita dengar dalam bacaan Injil tadi. Janji Yesus itu tergenapi pada perayaan Pentakosta, yang kisahnya sudah kita dengarkan dalam bacaan pertama tadi. Maka, marilah kita berfokus pada kedua bacaan ini untuk merenungkan peran Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam Bacaan Injil tadi, Tuhan Yesus telah menyatakan, bahwa bukti nyata dari kasih kepada Tuhan adalah menuruti perintah-perintah Tuhan. Tuhan Yesus bersabda: “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” Untuk dapat menuruti perintah-perintah Tuhan, maka Yesus meminta kepada Bapa, agar Ia mengutus Roh Kudus, yang akan menjadi Penolong bagi para murid-Nya, dan yang akan menyertai mereka sampai selama-lamanya. Roh Kudus itulah yang akan mengajarkan dan mengingatkan kepada para murid segala sesuatu yang telah dikatakan Tuhan Yesus kepada mereka.

Roh Kudus, yang adalah Pribadi ketiga dalam Tritunggal, adalah Allah yang satu dan sama dengan Allah, Bapa dan Putera. Dia adalah Roh Bapa dan Putra, yang disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Putra (bdk. KGK. 245). Roh Kudus itulah yang diutus oleh Bapa dalam nama Yesus. Dialah Penolong sejati yang akan membimbing, menuntun, dan menyertai para murid setelah Yesus naik ke surga. Kedatangan Roh Kudus menggenapi janji Yesus, bahwa Ia akan menyertai para murid-Nya hingga akhir zaman.

Kedatangan Roh Kudus tergenapi pada perayaan Pentakosta, sebagaimana yang telah kita dengarkan dalam Bacaan Pertama tadi. Kehadiran-Nya diperlambangkan melalui bunyi tiupan angin keras dan dalam rupa lidah-lidah api yang hinggap pada diri para murid. Pencurahan Roh Kudus atas diri para murid membuat mereka berani bersaksi tentang Yesus kepada semua orang yang hadir di situ. Mereka diberikan karunia untuk bisa berbicara dalam berbagai bahasa yang dapat dimengerti oleh semua orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa. Roh Kudus yang adalah Penolong sejati bagi para murid, sungguh-sungguh menolong mereka untuk menjadi Saksi Kristus, dan membuat mereka mampu mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan oleh Allah.

Saudara-saudari terkasih, kita semua yang telah dibaptis, juga telah menerima Roh Kudus, yang menjadikan kita anak-anak Allah. Roh Kudus itu senantiasa membimbing kita, agar kita tetap setia dalam iman kepada Yesus. Karunia-karunia Roh Kudus secara istimewa dicurahkan kepada kita ketika kita menerima Sakramen Krisma. Melalui Sakramen Krisma ini kita dikuatkan dan didewasakan secara iman, sekaligus diutus untuk menjadi Saksi Kristus di tengah-tengah kehidupan ini.

Maka, marilah kita senantiasa membuka hati kita kepada Roh Kudus, yang selalu membimbing dan menolong kita, yang selalu mengajarkan kepada kita tentang Ajaran yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Mari kita mohon kepada Roh Kudus, agar kita semakin mencintai Yesus, sehingga kita sanggup untuk menuruti segala perintah Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Share:

Recent

3/recent-posts

Music

3/Music/post-grid

BTemplates.com

https://kristusrajatv.blogspot.com/search/label/DPP?&max-results=10
Powered by Blogger.

Blog Archive


Fashion

3/Fashion/post-per-tag

Beauty

3/Beauty/post-per-tag

BKSN

Videos

3/Food/recent-videos

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

3/Fashion/big-col-right

Nature

3/Nature/post-grid

Comments

3/recent-comments

Hari Raya

Business

3/Business/big-col-left

Subscribe Us

Pages - Menu

Pages - Menu

Blog Archive